Ceritra
Ceritra Warga

Dari Ornamen ke Minimalis, Apa yang Mengubah Tren Desain?

Shannon - Thursday, 02 July 2026 | 08:00 PM

Background
Dari Ornamen ke Minimalis, Apa yang Mengubah Tren Desain?
(Pinhome/)

Kenapa Dulu Semuanya Terlihat Megah dan Sekarang Serba Polos? Menelusuri Jejak Perubahan Estetika dari Masa ke Masa

Pernah nggak sih kalian main ke rumah nenek, terus tiba-tiba merasa kayak lagi masuk ke museum mini? Ada kursi jati raksasa dengan ukiran naga yang beratnya minta ampun, lemari kaca setinggi plafon yang isinya piring-piring kristal, sampai radio kuno yang bodinya terbuat dari kayu solid mengkilap. Semuanya terasa kokoh, detail, dan jujur saja, sedikit mengintimidasi. Rasanya kalau kita nggak sengaja nyenggol vas bunganya, yang bakal pecah bukan vasnya, tapi kaki kita.

Bandingkan dengan kamar kos atau apartemen anak muda zaman sekarang. Meja kerjanya cuma selembar papan putih dengan kaki besi ramping. Kursinya? Plastik atau jaring-jaring ala kantor minimalis. Bahkan botol sabun di kamar mandi pun harus seragam, polos, tanpa label warna-warni yang mencolok. Tren ini kita kenal dengan sebutan minimalisme. Tapi pertanyaannya, kenapa dunia seolah-olah kehilangan "jiwa seninya" yang megah itu dan bertransisi jadi serba kotak, polos, dan membosankan?

Dulu, Kemegahan adalah Bentuk 'Flexing' yang Hakiki

Kalau kita tarik mundur ke beberapa dekade lalu, arsitektur dan desain barang sehari-hari adalah simbol status yang nggak bisa ditawar. Dulu, orang nggak bisa pamer kekayaan lewat jumlah followers atau postingan Instagram. Cara paling ampuh untuk menunjukkan siapa kamu adalah lewat apa yang kamu miliki di ruang tamu.

Arsitektur bergaya Art Deco atau Victoria, misalnya, penuh dengan ornamen rumit yang pembuatannya butuh waktu berbulan-bulan oleh pengrajin ahli. Desain barang sehari-hari pun sama. Kamera analog zaman dulu punya tekstur kulit dan logam yang terasa mantap di tangan. Mesin tik punya bunyi dentingan yang khas. Ada kebanggaan dalam detail. Estetika saat itu bukan cuma soal fungsi, tapi soal perayaan terhadap keahlian manusia (craftsmanship). Semakin rumit desainnya, semakin tinggi nilainya.

Istilahnya, kalau bisa dibuat ribet dan cantik, kenapa harus dibuat simpel? Prinsip ini berlaku di hampir semua lini kehidupan, mulai dari fasad gedung yang penuh pilar meliuk-liuk sampai gagang pintu yang harus punya ukiran bunga-bunga.

Masuknya Era 'Mass Production' dan Efisiensi Gila-gilaan

Lalu, apa yang berubah? Jawabannya klasik: uang dan waktu. Kita sekarang hidup di zaman yang serba cepat. Biaya tenaga kerja untuk membuat ukiran kayu jati secara manual itu mahal banget, kawan. Perusahaan-perusahaan besar mulai sadar kalau mereka mau untung banyak, mereka harus bikin barang yang gampang diproduksi massal di pabrik.

Minimalisme sebenarnya adalah anak kandung dari efisiensi industri. Bentuk-bentuk geometris yang lurus, polos, dan tanpa hiasan itu jauh lebih mudah diproduksi oleh mesin daripada bentuk-bentuk organik yang meliuk-liuk. IKEA, misalnya, berhasil mengubah cara dunia melihat perabotan. Mereka menawarkan desain yang "bersih" dan fungsional, tapi sebenarnya itu juga cara cerdas agar barang-barang tersebut bisa dipacking datar (flat-pack) dan dikirim dengan biaya murah ke seluruh dunia.

Arsitektur pun kena dampaknya. Gedung-gedung pencakar langit sekarang kebanyakan cuma kotak kaca raksasa. Kenapa? Karena kaca dan baja jauh lebih cepat dipasang daripada harus memahat batu atau memasang bata satu per satu dengan pola tertentu. Akhirnya, kita terjebak dalam dunia yang terlihat seragam, dari Jakarta sampai New York, vibes-nya ya gitu-gitu aja.

Beban Mental dan Ruang yang Semakin Sempit

Ada juga alasan psikologis kenapa kita sekarang lebih milih yang serba polos. Coba bayangkan, dunia luar sudah sangat berisik. Notifikasi HP nggak berhenti bunyi, jalanan macet, berita di media sosial bikin pusing. Begitu pulang ke rumah, kita butuh "ruang napas" secara visual. Mata kita butuh istirahat dari segala macam bentuk distorsi visual.

Desain minimalis memberikan kesan tenang. Ruangan yang kosong tanpa banyak pajangan bikin pikiran terasa lebih enteng. Selain itu, realitanya hunian kita sekarang makin sempit. Mana mungkin kita naruh lemari jati ukuran 3 meter di apartemen tipe studio yang ukurannya cuma 21 meter persegi? Bisa-bisa kita yang malah tidur di atas lemari.

Minimalisme jadi solusi untuk keterbatasan ruang. Furnitur yang kaki-kakinya ramping bikin ruangan terasa lebih luas karena lantai masih terlihat. Ini adalah bentuk adaptasi manusia terhadap kerasnya kehidupan perkotaan yang makin sesak.

Fenomena 'Blanding' dan Hilangnya Identitas

Tapi, ada sisi gelap dari tren serba minimalis ini yang sering disebut para kritikus sebagai "Blanding" (dari kata Bland yang artinya hambar). Pernah nggak kalian masuk ke kafe di daerah Senopati, terus pas kalian ke kafe di Jogja atau bahkan di luar negeri, suasananya persis sama? Tembok semen ekspos, lampu gantung industri, dan tanaman monstera di pojokan.

Dunia desain sekarang sedang mengalami krisis identitas. Karena semua pengen terlihat "estetik" di kamera, semua jadi ikut-ikutan tren yang sama. Logo-logo brand terkenal pun sekarang berubah jadi membosankan. Dulu logo punya font yang unik dan bergaya, sekarang hampir semua ganti jadi font sans-serif yang tebal dan datar. Tujuannya supaya gampang dibaca di layar HP yang kecil, tapi efek sampingnya adalah hilangnya karakter unik yang bikin brand itu spesial.

Kita seolah-olah kehilangan keberanian untuk tampil beda. Takut dianggap norak kalau pakai warna yang terlalu berani atau desain yang terlalu ramai. Padahal, desain-desain megah zaman dulu punya cerita dan jiwa di baliknya.

Penutup: Akankah Kemegahan Kembali Lagi?

Tren itu kayak roda yang berputar. Sekarang kita mungkin lagi di puncak kebosanan terhadap minimalisme yang terlalu steril. Mulai muncul tren tandingan kayak "Maximalism" atau "Cluttercore" di kalangan Gen Z, di mana orang-orang mulai berani memajang banyak koleksi, pakai warna-warna nabrak, dan nggak peduli lagi sama aturan "less is more".

Pada akhirnya, desain adalah cerminan zaman. Dulu megah karena kita punya waktu dan ingin menunjukkan eksistensi. Sekarang minimalis karena kita butuh kepraktisan dan ketenangan. Tapi jujur saja, sesekali melihat desain yang berani, megah, dan "ribet" itu menyegarkan mata juga, ya kan? Biar dunia ini nggak cuma berisi kotak-kotak putih yang membosankan.

Jadi, kalau kalian masih punya barang peninggalan orang tua yang bentuknya aneh atau terlalu ramai, jangan buru-buru dibuang. Siapa tahu sepuluh tahun lagi, barang itulah yang bakal dianggap paling keren saat dunia sudah bosan jadi minimalis.

Logo Radio
🔴 Radio Live