Rahasia di Balik Simbol Save yang Sering Dianggap Ikon Download
Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 06:45 AM


Misteri Kotak Ajaib: Kenapa Ikon Save Masih Pakai Gambar Disket yang Sudah Punah?
Pernahkah kamu duduk di depan laptop, menyelesaikan revisi tugas atau laporan kantor yang melelahkan, lalu secara refleks menekan tombol bergambar kotak kecil di pojok kiri atas layar? Ya, ikon "Save". Bagi kita yang hidup di era serba digital ini, simbol itu adalah jimat keselamatan. Sekali klik, kerja keras kita aman dari gangguan mati lampu atau laptop yang tiba-tiba hang. Tapi, pernahkah kamu benar-benar memperhatikan bentuk ikon itu? Kalau kamu bertanya pada adikmu yang masih SD atau keponakan dari Generasi Alpha, kemungkinan besar mereka akan menjawab, "Itu kan ikon download yang kotaknya tegak," atau lebih parah lagi, "Itu benda apa, Kak? Kok mirip TV jadul?"
Benda itu adalah disket, atau floppy disk. Sebuah artefak teknologi yang bagi anak zaman sekarang mungkin lebih cocok masuk museum purbakala daripada nangkring di perangkat lunak tercanggih tahun 2024. Padahal, disket sudah lama mati secara fungsional. Lantas, kenapa dunia teknologi yang biasanya sangat terobsesi dengan masa depan dan inovasi malah "gagal move on" dari selembar plastik magnetik ini?
Skeuomorphism: Jembatan Antara Dunia Nyata dan Layar
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu berkenalan dengan istilah keren bernama Skeuomorphism. Secara sederhana, skeuomorphism adalah konsep desain di mana objek digital dibuat meniru wujud fisik aslinya di dunia nyata. Tujuannya mulia: supaya pengguna tidak bingung saat beralih dari manual ke digital.
Bayangkan suasana kantor di era 80-an atau awal 90-an. Saat itu, komputer adalah barang baru yang mengintimidasi. Agar orang-orang tidak gaptek, para desainer antarmuka (UI) memutar otak. Mereka membuat ikon "Folder" yang bentuknya mirip map cokelat di laci meja, ikon "Trash" yang berbentuk tempat sampah besi, dan tentu saja, ikon "Save" yang menggunakan rupa disket. Kenapa disket? Karena saat itu, satu-satunya cara menyimpan data secara eksternal adalah dengan memasukkan kepingan kotak plastik itu ke dalam mesin komputer. Simbol itu bicara langsung kepada penggunanya: "Eh, kalau mau simpan data, ya bentuknya kayak benda yang kamu pegang ini."
Skeuomorphism adalah bahasa visual yang sangat efektif pada masanya. Ia memberikan rasa akrab di tengah teknologi yang asing. Apple, di bawah kepemimpinan Steve Jobs, dulu adalah penganut garis keras aliran ini. Lihat saja desain awal iPhone; aplikasi catatan dibuat mirip kertas kuning bergaris, dan aplikasi kalkulator dibuat persis seperti mesin hitung fisik. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi benda fisiknya hilang, tapi simbolnya tetap abadi.
Kapasitas Sakaratul Maut dan Nostalgia yang Tersisa
Bagi Generasi Milenial atau mereka yang sempat mencicipi Windows 95, disket punya kenangan tersendiri—yang jujur saja, lebih banyak pahitnya daripada manisnya. Bayangkan, satu keping disket standar berukuran 3,5 inci hanya memiliki kapasitas 1,44 MB. Ya, kamu tidak salah baca. Megabyte, bukan Gigabyte. Satu foto selfie resolusi tinggi dari ponselmu hari ini bahkan tidak akan muat masuk ke dalam satu disket.
Dulu, kalau kita mau memindahkan file presentasi yang agak berat, kita harus membaginya menjadi beberapa bagian menggunakan aplikasi WinRAR (ingat ikon buku bertumpuk itu?). Belum lagi risiko disket terkena jamur atau magnet yang bikin data korup seketika. Bunyi krak-krik-krak saat disket sedang dibaca oleh CPU adalah suara penuh kecemasan: "Semoga terbaca, semoga terbaca."
Ironisnya, benda yang kapasitasnya "sakaratul maut" ini sekarang menjadi simbol abadi untuk menyimpan data ribuan Gigabyte di sistem cloud. Kita menyimpan file video 4K ke server di Amerika Serikat hanya dengan mengeklik gambar benda yang bahkan tidak bisa menyimpan satu lagu MP3 kualitas rendah. Lucu, kan?
Generasi Alpha dan Ikon yang Kehilangan Akarnya
Ada sebuah cerita lucu yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Seorang anak kecil melihat disket fisik di meja ayahnya dan berteriak kegirangan, "Wah, Ayah hebat banget bisa bikin cetakan 3D dari ikon Save!"
Bagi Generasi Z yang lahir di akhir 90-an atau Generasi Alpha, disket bukan lagi sebuah benda. Ia telah mengalami proses abstraksi. Sama seperti ikon telepon pada aplikasi WhatsApp yang masih menggunakan gagang telepon melengkung (yang mungkin tidak pernah mereka pakai di rumah), atau ikon kamera yang masih memiliki bentuk lensa menonjol meskipun kamera ponsel sekarang rata dengan bodi.
Dalam ilmu semiotika, ikon save sudah bergeser dari signifier (penanda) benda fisik menjadi simbol konsep. Kita tidak lagi melihat "disket" saat menatap ikon itu, kita melihat "perintah untuk menyimpan". Maknanya sudah mendarah daging dalam memori otot (muscle memory) kita. Inilah alasan utama mengapa raksasa teknologi seperti Microsoft atau Adobe enggan menggantinya.
Kenapa Tidak Diganti Saja?
Sebenarnya, banyak desainer yang sudah mencoba menawarkan alternatif. Ada yang mengusulkan ikon tanda panah masuk ke dalam kotak, ikon awan (cloud), atau bahkan ikon centang. Namun, hasilnya selalu nihil. Pengguna justru bingung.
Masalahnya adalah standarisasi. Mengubah ikon save hari ini ibarat mengubah warna lampu merah menjadi ungu. Bisa saja dilakukan, tapi akan memicu kekacauan massal di seluruh dunia. Kita sudah terbiasa mencari "kotak ungu kecil" itu setiap kali panik ingin menutup laptop. Mengubahnya berarti memaksa miliaran orang untuk belajar ulang bahasa visual yang sudah mereka kuasai selama puluhan tahun.
Lagipula, ada semacam penghormatan puitis di balik tetap bertahannya ikon disket ini. Ia adalah monumen peringatan bagi sejarah panjang perkembangan teknologi informasi. Ia mengingatkan kita bahwa dulu, untuk menyimpan selembar dokumen teks saja, kita butuh usaha fisik yang nyata.
Simbol yang Melampaui Zaman
Pada akhirnya, ikon save berbentuk disket adalah bukti bahwa teknologi tidak melulu soal kecanggihan yang dingin, tapi juga soal kebiasaan dan kenyamanan manusia. Kita mungkin sudah meninggalkan disket di tumpukan barang rongsokan atau laci gudang yang berdebu, tapi secara digital, ia akan tetap hidup selamanya di pojok layar kita.
Jadi, lain kali kalau kamu mengeklik ikon save, berikan sedikit penghormatan pada si kotak kecil itu. Tanpa kepingan plastik 1,44 MB yang kini jadi fosil itu, mungkin cara kita berinteraksi dengan dunia digital tidak akan seakrab sekarang. Dan untuk Generasi Alpha, tenang saja, kalian tidak perlu tahu gimana rasanya panik karena disket tugas sekolah mendadak unreadable satu jam sebelum dikumpulkan. Anggap saja itu warisan dari masa lalu yang tetap setia menjaga data-data kalian tetap aman.
Next News

Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?
in 6 hours

Kenapa Bus Sekolah Warna Kuning? Bukan Sekadar Estetika!
in 5 hours

Kenapa Nggak Biru atau Ungu? Rahasia Warna Lampu Lalu Lintas
in 4 hours

Arti Warna Paspor: Dari Alasan Geopolitik hingga Standar Global
in 3 hours

Arti di Balik Tradisi Cheers yang Sering Kamu Lakukan
in 2 hours

Panduan Bijak Beli Takjil Agar Dompet Tidak Menangis
in 5 hours

Alasan Mona Lisa Tak Sebesar Bayanganmu dan Karya Lain yang Terabaikan
in an hour

Asal-usul Kata Halo: Sapaan Telepon yang Mendunia
in 26 minutes

Suka Bau Tanah Saat Hujan Itu Namanya Petrichor
4 minutes ago

Misteri Menguap Berjamaah: Mengapa Kita Saling Menulari?
34 minutes ago






