Quiet Dating, Seni Mencintai Tanpa Validasi Digital
Nisrina - Wednesday, 24 December 2025 | 11:40 AM


Di era digital yang serba terbuka seperti sekarang, rasanya ada aturan tidak tertulis yang mengatur tata cara kita menjalin asmara. Kita sering kali merasa bahwa sebuah hubungan belum dianggap sah atau serius jika belum ada deklarasi digital. Istilah-istilah seperti soft launch (mengunggah foto tangan atau punggung pasangan) hingga hard launch (mengunggah foto wajah pasangan dengan jelas) seolah menjadi ritual wajib bagi pasangan masa kini.
Namun di tengah hiruk-pikuk pamer kemesraan tersebut, muncul sebuah arus balik yang tenang namun kuat bernama Quiet Dating. Tren ini hadir sebagai antitesis dari budaya pamer di media sosial. Pelakunya memilih untuk menikmati hubungan mereka secara privat tanpa merasa perlu meminta validasi dari ribuan pengikut di dunia maya.
Penting untuk meluruskan kesalahpahaman yang sering muncul terkait konsep ini. Quiet Dating tidaklah sama dengan menyembunyikan pasangan atau yang dalam istilah gaul dikenal dengan sebutan stashing.
Perbedaannya terletak pada niat dan pelaksanaannya. Stashing adalah perilaku manipulatif di mana seseorang menyembunyikan pasangannya dari seluruh aspek kehidupannya, termasuk dari keluarga dan teman dekat, karena tidak ingin ketahuan atau malu. Sementara Quiet Dating adalah keputusan sadar yang disepakati bersama untuk tidak memublikasikan hubungan di ranah daring. Di kehidupan nyata, mereka tetap mengenalkan pasangan kepada orang tua, teman, dan lingkungan sosial. Mereka bergandengan tangan di mal, makan malam bersama, dan menjalani aktivitas pacaran normal lainnya. Hanya saja jejak digital kemesraan tersebut tidak mereka unggah ke feed atau story Instagram.
Alasan utama banyak pasangan muda mulai beralih ke gaya pacaran ini adalah demi ketenangan batin. Membawa hubungan ke ranah publik sering kali mengundang "tamu" yang tidak diundang ke dalam ruang privat hubungan. Komentar orang lain, perbandingan dengan pasangan lain yang terlihat lebih "couple goals", hingga tekanan untuk terus terlihat bahagia bisa menjadi racun yang mematikan rasa nyaman.
Dengan menerapkan Quiet Dating, pasangan bisa fokus sepenuhnya pada kualitas interaksi antar individu. Mereka tidak perlu repot mengatur sudut kamera saat makan malam romantis demi konten. Mereka tidak perlu pusing memikirkan takarir atau caption yang puitis untuk membuktikan rasa cinta. Fokus energi mereka dialihkan dari "bagaimana kita terlihat di mata orang lain" menjadi "bagaimana perasaan kita satu sama lain".
Selain itu, gaya ini juga melindungi mental jika kemungkinan terburuk terjadi. Saat hubungan harus berakhir, mereka tidak perlu melewati fase canggung menghapus ratusan foto kenangan satu per satu atau menghadapi pertanyaan dari pengikut media sosial yang penasaran. Proses penyembuhan hati bisa berjalan lebih tenang tanpa sorotan publik.
Fenomena ini mengajarkan kita untuk kembali pada esensi dasar sebuah hubungan. Cinta sejatinya adalah koneksi antara dua manusia, bukan pertunjukan untuk penonton. Validasi terbaik dalam sebuah hubungan seharusnya datang dari tatapan mata pasangan yang tulus, bukan dari jumlah likes atau komentar pujian di kolom media sosial.
Memilih jalur sunyi di tengah keramaian digital adalah sebuah keberanian. Quiet Dating membuktikan bahwa kebahagiaan tidak berkurang nilainya hanya karena tidak dipamerkan. Justru sering kali hal-hal yang paling berharga adalah hal-hal yang kita simpan rapat untuk dinikmati sendiri.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
2 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
4 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
4 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
4 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






