Psikolog Tegaskan, Perceraian Harus Diputuskan dengan Kepala Dingin
Refa - Wednesday, 21 January 2026 | 01:00 PM


Prahara dalam rumah tangga sering kali memicu emosi yang tak terkendali. Namun, sebelum kata perpisahan terlontar, ada peringatan serius yang wajib didengarkan oleh setiap pasangan. Nirmala Ika, M.Ps, seorang psikolog lulusan Universitas Indonesia, memberikan "lampu merah" bagi siapa saja yang berniat mengambil keputusan besar untuk bercerai saat amarah sedang memuncak.
Keputusan yang diambil berdasarkan luapan emosi sesaat sering kali tidak objektif dan berujung pada penyesalan panjang. Nirmala menegaskan bahwa perceraian bukanlah solusi instan yang bisa diputuskan dalam hitungan detik saat bertengkar, melainkan langkah terakhir yang membutuhkan pertimbangan matang.
Berikut adalah alasan mengapa keputusan ini harus ditunda hingga kepala kembali dingin:
Risiko Stres dan Depresi Berkepanjangan
Keputusan cerai yang diambil secara impulsif atau sepihak tanpa pemikiran jernih memiliki dampak psikologis yang berat. Nirmala menjelaskan bahwa langkah gegabah ini dapat memicu gangguan kesehatan mental serius, seperti stres berat hingga depresi, baik bagi pihak yang meminta cerai maupun pasangannya. Ketidaksiapan mental menghadapi perpisahan yang mendadak akan membuat proses pemulihan pasca-cerai menjadi jauh lebih sulit.
Konsultasi Profesional Adalah Kunci
Sebagai pendiri layanan kesehatan mental Enlightmind, Nirmala sangat menyarankan pasangan untuk tidak berjalan sendiri. Berkonsultasi dengan profesional atau konselor pernikahan sangat dianjurkan. Pihak ketiga yang netral dapat membantu membedah masalah secara objektif dan menentukan apakah perpisahan memang jalan terbaik atau hanya keinginan sesaat karena emosi.
Pentingnya "Satu Suara" di Hadapan Keluarga
Selain dampak personal, keputusan yang matang juga memudahkan proses komunikasi dengan keluarga besar. Pasangan yang sudah sepakat dengan kepala dingin akan lebih mudah menjelaskan situasi kepada orang tua dan kerabat. Hal ini penting untuk meminimalisir drama atau kesalahpahaman yang sering muncul jika perceraian disampaikan dengan penuh amarah.
Kejujuran menjadi poin utama, namun jika sulit, pasangan disarankan mencari alasan yang lebih bisa diterima akal sehat agar tidak memperkeruh suasana keluarga besar.
Next News

Istri Gugat Cerai Bukan Cuma Karena "Merasa Mampu"! Terungkap Alasan Pahit di Balik Fenomena Janda Baru di Surabaya
a day ago

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
8 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
8 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
8 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
8 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
10 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
10 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
10 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
10 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
16 days ago






