Ceritra
Ceritra Cinta

Istri Gugat Cerai Bukan Cuma Karena "Merasa Mampu"! Terungkap Alasan Pahit di Balik Fenomena Janda Baru di Surabaya

Refa - Tuesday, 20 January 2026 | 01:30 PM

Background
Istri Gugat Cerai Bukan Cuma Karena "Merasa Mampu"! Terungkap Alasan Pahit di Balik Fenomena Janda Baru di Surabaya
Ilustrasi perceraian (Pinterest/urbansplatter)

Angka perceraian di Surabaya makin meroket tajam di tahun 2026, dan mayoritas pelakunya adalah pihak istri yang mengajukan gugatan! Banyak yang menuding bahwa kemandirian finansial dan tingginya gaji perempuan membuat para istri "besar kepala" dan mudah minta pisah. Namun, benarkah dompet tebal bikin istri nekat menjanda?

Seorang pakar psikologi akhirnya buka suara dan mematahkan mitos tersebut. Ternyata, uang bukan satu-satunya alasan kenapa bahtera rumah tangga karam seketika.

Bukan Uang, Tapi "Topeng yang Terbuka"

Fakta mengejutkan diungkap oleh psikolog Atika, yang menyebutkan bahwa fenomena gugat cerai ini justru paling rawan terjadi pada usia pernikahan yang terbilang muda, yakni sekitar lima tahun pertama.

Kenapa di angka lima tahun? Menurut Atika, masa ini adalah fase kritis di mana periode "bulan madu" telah habis tak bersisa. Topeng pencitraan atau sikap "jaim" (jaga image) yang selama ini dipasang saat pacaran mulai luntur.

"Di usia pernikahan lima tahun, orang menjadi sangat jujur. Karakter asli keluar semua. Risiko meledak ketika kebiasaan asli ternyata bertolak belakang dengan ekspektasi pasangan," ungkapnya.

Tekanan Mental Jadi Orang Tua Baru

Selain kejutan budaya (culture shock) terhadap sifat asli pasangan, kehadiran buah hati ternyata juga menjadi ujian berat. Peran baru sebagai orang tua, terutama saat mengurus anak usia toddler (balita), sering kali menciptakan tekanan mental luar biasa.

Ditambah lagi dengan drama adaptasi "mertua dan menantu" atau gesekan dengan keluarga besar yang tak kunjung usai, membuat istri merasa terjepit dan tidak memiliki sistem pendukung (support system) yang memadai dari suami. Akibatnya? Surat gugatan cerai dianggap sebagai satu-satunya tiket keluar dari penderitaan.

Solusi: Jangan Ganti Kapal Saat Badai

Sang pakar menegaskan bahwa kuncinya ada pada komunikasi brutal yang jujur. Pasangan muda diingatkan untuk tidak buru-buru mengambil keputusan fatal.

"Saat menghadapi badai, tujuannya adalah menghadapi masalahnya bersama-sama, memperbaiki layarnya, menambal bocornya, bukan justru mengganti kapalnya (bercerai)," pesan menohok dari sang pakar.

Jadi, bagi para suami, jangan hanya menyalahkan gaji istri yang tinggi. Coba cek, apakah Anda sudah menjadi teman bicara yang baik atau justru menjadi "orang asing" di rumah sendiri?

Logo Radio
🔴 Radio Live