Mengenal Ekidna Mamalia Bertelur Asal Papua
Nisrina - Wednesday, 04 February 2026 | 08:14 AM


Tanah Papua di ujung timur Indonesia tidak hanya menyimpan kekayaan emas di dalam perut buminya. Hutan hujan tropis yang membentang luas di sana juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang tidak ditemukan di belahan bumi mana pun. Di antara ribuan spesies unik yang mendiami pulau tersebut terdapat satu hewan yang bentuk dan perilakunya sangat ajaib hingga membingungkan para ilmuwan pada masa awal penemuannya.
Hewan tersebut adalah Ekidna. Bagi masyarakat awam nama ini mungkin belum sepopuler Cendrawasih atau Kasuari. Namun dalam dunia biologi Ekidna memegang posisi yang sangat istimewa sebagai "fosil hidup" yang memberikan petunjuk penting tentang evolusi mamalia. Sering disebut sebagai babi duri atau spiny anteater satwa ini memiliki penampilan yang seolah olah merupakan gabungan dari berbagai hewan lain.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami kehidupan Ekidna mulai dari anatomi tubuhnya yang ganjil statusnya sebagai mamalia bertelur hingga ancaman nyata yang membuat keberadaannya kini semakin langka. Simak ulasan lengkapnya untuk mengenal salah satu harta karun hidup kebanggaan Papua.
Keajaiban Hewan Monotremata
Ekidna bukanlah mamalia biasa seperti kucing atau anjing yang melahirkan anaknya. Ia masuk dalam ordo Monotremata. Ini adalah kelompok mamalia paling purba yang berkembang biak dengan cara bertelur namun tetap menyusui anaknya. Di dunia ini hanya ada dua hewan yang masuk dalam kategori ini yaitu Platipus dan Ekidna.
Sistem reproduksi ini sangat unik dan langka. Betina Ekidna akan menelurkan satu butir telur berukuran kecil dengan cangkang yang lunak seperti kulit. Telur ini kemudian dierami di dalam kantung perutnya. Setelah menetas bayi Ekidna yang disebut puggle akan hidup di dalam kantung induknya dan menjilati susu yang keluar dari pori pori kulit induknya. Berbeda dengan mamalia lain Ekidna tidak memiliki puting susu.
Fakta ini menjadikan Ekidna sebagai jembatan evolusi antara reptil dan mamalia. Keberadaannya di Papua menjadi bukti sejarah alam yang sangat berharga dan harus dijaga kelestariannya.
Penampilan Fisik yang Menipu
Jika dilihat sekilas Ekidna tampak seperti landak karena tubuhnya dipenuhi oleh duri duri tajam yang berfungsi sebagai alat pertahanan diri. Namun jika diperhatikan lebih seksama ia juga memiliki moncong panjang yang mirip dengan trenggiling atau anteater. Moncong ini sangat sensitif dan berfungsi sebagai alat penciuman sekaligus alat makan.
Di Papua terdapat spesies khusus yang dikenal sebagai Ekidna Moncong Panjang atau Zaglossus. Spesies ini berbeda dengan kerabatnya yang ada di Australia yang umumnya bermoncong pendek. Ekidna Papua memiliki tubuh yang lebih besar dan moncong yang melengkung ke bawah. Kaki kakinya pendek namun sangat kuat dilengkapi dengan cakar yang kokoh untuk menggali tanah.
Kombinasi fisik ini membuatnya menjadi hewan yang tangguh di lantai hutan. Saat merasa terancam ia akan menggulung tubuhnya menjadi bola berduri atau dengan cepat menggali tanah hingga hanya durinya yang terlihat membuat predator sulit untuk memangsanya.
Diet dan Perilaku di Alam Liar
Ekidna adalah hewan yang pemalu dan soliter. Mereka lebih aktif mencari makan pada malam hari atau krepuskular untuk menghindari panas siang hari dan predator. Makanan utama mereka adalah cacing tanah rayap dan semut.
Lidah Ekidna adalah senjata utamanya dalam berburu. Lidahnya sangat panjang lengket dan bisa bergerak dengan cepat untuk menangkap mangsa di dalam lubang kayu atau tanah. Mereka tidak memiliki gigi sehingga proses penggilingan makanan dilakukan di langit langit mulutnya dengan bantuan lidah yang kasar.
Di ekosistem hutan Papua peran Ekidna sangatlah penting. Kebiasaan mereka menggali tanah untuk mencari cacing membantu proses aerasi tanah. Lubang lubang yang mereka buat memungkinkan oksigen masuk ke dalam tanah dan membantu penyuburan lantai hutan. Secara tidak langsung mereka adalah "petani" alami yang menjaga kesehatan hutan hujan tropis.
Spesies Endemik yang Terancam Punah
Meskipun memiliki pertahanan diri yang hebat nasib Ekidna di alam liar sangatlah rentan. International Union for Conservation of Nature atau IUCN telah memasukkan spesies Ekidna Moncong Panjang Papua ke dalam status Kritis atau Critically Endangered. Ini adalah status satu tingkat sebelum kepunahan di alam liar.
Ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka adalah hilangnya habitat akibat deforestasi pembukaan lahan perkebunan dan aktivitas pertambangan. Hutan hutan yang menjadi rumah mereka semakin sempit membuat populasi mereka terisolasi dan sulit untuk berkembang biak.
Selain itu perburuan liar juga menjadi faktor pendorong kepunahan. Di beberapa daerah daging Ekidna masih dianggap sebagai makanan istimewa atau hewan buruan. Lambatnya siklus reproduksi Ekidna membuat populasi mereka sulit pulih jika terus menerus diburu. Seekor betina hanya menghasilkan satu anak dalam kurun waktu tertentu dan tingkat kelangsungan hidup bayi Ekidna di alam liar juga penuh tantangan.
Upaya Konservasi dan Harapan Masa Depan
Kesadaran akan pentingnya menyelamatkan Ekidna kini mulai tumbuh. Berbagai lembaga konservasi dan pemerintah mulai melakukan pemantauan ketat terhadap habitat habitat kunci di Papua. Edukasi kepada masyarakat lokal juga terus digencarkan untuk mengurangi perburuan.
Penemuan kembali populasi Ekidna di Pegunungan Cyclops beberapa waktu lalu memberikan secercah harapan. Hal ini membuktikan bahwa satwa misterius ini masih bertahan hidup di pedalaman rimba yang belum terjamah. Perlindungan kawasan hutan adat dan penetapan taman nasional menjadi langkah strategis untuk memastikan Ekidna tidak hanya menjadi cerita dongeng bagi generasi mendatang.
Ekidna adalah simbol keunikan nusantara. Menjaga mereka berarti menjaga warisan dunia yang dititipkan di tanah Papua. Mari kita dukung upaya pelestarian alam agar "fosil hidup" ini tetap bisa berkeliaran bebas di rumah aslinya.
Next News

Cek 5 Gejala Freon Habis Ini Agar Servis Gak Sampai Jutaan
20 hours ago

Wangi Hotel Bintang Lima Tanpa Kimia! Rahasia Rebusan Kulit Jeruk & Kayu Manis
7 hours ago

Bagaimana Segelas Air Hangat Menyelamatkanmu dari GERD Saat Berpuasa?
6 hours ago

Jangan Salah Sisi! Bahaya Tidur Miring ke Kanan Setelah Sahur
5 hours ago

Jaket Vintage Bau? Ini Cara Membersihkannya Tanpa Merusak
8 hours ago

Diet Garam Nggak Harus Hambar! 5 Bahan Alami Ini Bikin Masakan Tetap Gurih Maksimal
10 hours ago

Daftar Makanan Tinggi Natrium yang Sering Tidak Disadari Ada di Meja Buka Puasa
11 hours ago

Waspada Tensi Melonjak! Rahasia Labu Siam dan Timun Sebagai Penawar Bom Gula Ramadan
10 hours ago

Tips Mencuci Baju Biar Nggak Luntur, Jangan Sampai Menyesal
11 hours ago

Bukan Bersih, Ternyata Cara Setrika Ini Bikin Kemeja Jadi Kuning
12 hours ago






