Ceritra
Ceritra Cinta

Mengapa Hubungan yang Sehat dan Aman Justru Sering Terasa Membosankan?

Refa - Monday, 22 December 2025 | 09:48 AM

Background
Mengapa Hubungan yang Sehat dan Aman Justru Sering Terasa Membosankan?
Ilustrasi Hubungan Membosankan (Pinterest/scenery18)

Banyak hubungan kandas bukan karena perselingkuhan atau pertengkaran hebat, melainkan karena salah satu pihak merasa "hilang rasa" (lost spark). Kalimat klise yang sering muncul adalah: "Dia terlalu baik, tapi aku tidak merasakan tantangan," atau "Hubungan ini rasanya datar-datar saja."

Ironisnya, rasa "datar" tersebut sering kali adalah tanda dari hubungan yang sehat dan stabil.

Budaya pop (film dan novel) telah mencuci otak masyarakat untuk percaya bahwa cinta sejati haruslah meledak-ledak, penuh gairah, dan diwarnai drama tangis-tawa yang intens. Akibatnya, ketika dihadapkan pada hubungan yang tenang tanpa drama, otak menerjemahkannya sebagai "kebosanan".

Berikut adalah alasan mengapa kedamaian sering disalahartikan sebagai matinya cinta.

Kecanduan Drama (Emotional Rollercoaster)

Jika seseorang tumbuh di lingkungan keluarga yang kacau atau memiliki riwayat hubungan toxic sebelumnya, otak mereka terbiasa dengan siklus "konflik-rekonsiliasi".

Dalam hubungan toxic, ada adrenalin tinggi saat bertengkar dan dopamin tinggi saat baikan. Otak menjadi kecanduan pada fluktuasi emosi yang ekstrem ini.

Ketika orang tersebut masuk ke dalam hubungan yang sehat di mana pasangan bersikap konsisten, menepati janji, dan tidak bermain emosi, otak tidak mendapatkan "dosis" adrenalin tersebut. Ketenangan ini terasa asing dan menakutkan. Seseorang merasa ada yang salah karena tidak ada drama yang harus diselesaikan, padahal itulah definisi keamanan emosional (emotional safety).

Pergeseran Kimia Otak: Dari Dopamin ke Oksitosin

Fase awal jatuh cinta (honeymoon phase) didominasi oleh Dopamin (gairah dan obsesi). Fase ini biasanya hanya bertahan 6 hingga 18 bulan.

Setelah itu, jika hubungan berlanjut, otak beralih memproduksi Oksitosin dan Vasopresin (hormon kedekatan dan ikatan jangka panjang). Rasanya tidak lagi berdebar-debar, melainkan tenang, hangat, dan nyaman.

Banyak orang panik saat debaran jantung itu hilang. Mereka mengira cinta telah pudar dan memutuskan untuk mencari orang baru demi mengejar sensasi dopamin lagi. Padahal, hilangnya debaran adalah tanda bahwa hubungan telah naik kelas dari "sekadar naksir" menjadi "cinta dewasa" (companionate love).

Mitos "The Spark" (Percikan Asmara)

Masyarakat terlalu mengagungkan chemistry atau "percikan" instan. Padahal, spark sering kali hanyalah indikator kecemasan yang terselubung gairah.

Rasa gugup dan sakit perut (butterflies in stomach) saat bertemu seseorang sering kali bukan tanda jodoh, melainkan respons fight-or-flight tubuh terhadap ancaman atau ketidakpastian.

Sebaliknya, hubungan yang sehat sering kali terasa "biasa saja" di awal. Tidak ada kembang api, tapi ada kenyamanan untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Menganggap spark sebagai satu-satunya tolak ukur cinta adalah resep untuk melewatkan orang-orang baik yang menawarkan stabilitas.

Kebosanan Adalah Ruang untuk Tumbuh

Dalam hubungan yang penuh drama, energi habis hanya untuk memikirkan "apakah dia mencintaiku?" atau "kenapa dia marah?". Pasangan tidak punya waktu untuk berkembang.

Dalam hubungan yang "membosankan" (baca: stabil), energi mental tidak habis untuk rasa was-was. Justru di sinilah pasangan bisa fokus mengejar karier, hobi, dan tujuan hidup masing-masing sambil saling mendukung.

Kebosanan dalam hubungan sebenarnya adalah kemewahan. Itu artinya tidak ada krisis yang sedang terjadi. Tantangannya bukan mencari orang baru, melainkan mencari petualangan baru bersama pasangan lama.

Logo Radio
🔴 Radio Live