Ceritra
Ceritra Warga

Jari Berkerut Seperti Kismis Setelah Mandi? Ternyata Ini Alasannya

Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 07:45 AM

Background
Jari Berkerut Seperti Kismis Setelah Mandi? Ternyata Ini Alasannya
Ilustrasi (beautyjournal.id/)

Rahasia di Balik Jari Keriput: Bukan Karena Kemasukan Air, Tapi Evolusi yang Super Canggih

Bayangin deh, kamu lagi asik-asik berendam di bathtub sambil dengerin playlist lagu galau, atau mungkin lagi seru-seruan berenang di kolam umum bareng teman-teman. Setelah sekitar 10 atau 15 menit kena air, coba deh perhatiin ujung jari tangan atau kaki kamu. Bentuknya mendadak berubah jadi aneh, bergelombang, dan berkerut-kerut persis kayak buah kismis atau jari nenek-nenek yang sudah sangat sepuh. Fenomena ini sangat umum, tapi seringkali kita cuma menganggapnya sebagai hal yang lucu atau bahkan sedikit menjijikkan.

Dulu, waktu kita masih kecil, mungkin guru sains atau orang tua kita pernah bilang kalau itu terjadi karena kulit kita menyerap air. Katanya sih, lewat proses osmosis, air masuk ke lapisan luar kulit sehingga kulitnya membengkak dan akhirnya mengerut karena nggak muat lagi. Teori ini terdengar sangat masuk akal dan kita telan mentah-mentah selama bertahun-tahun. Tapi, usut punya usut, ternyata teori itu salah besar. Sains zaman sekarang punya penjelasan yang jauh lebih keren, lebih "deep", dan berhubungan erat dengan sejarah panjang bagaimana spesies manusia bertahan hidup di alam liar.

Bukan Osmosis, Tapi Perintah dari "Pusat"

Penjelasan pertama yang perlu kita luruskan adalah soal sistem saraf. Ternyata, jari yang keriput itu bukan reaksi pasif kulit terhadap air, melainkan sebuah aksi aktif yang dikomandoi langsung oleh sistem saraf otonom kita. Sistem saraf otonom ini adalah bagian dari otak yang mengatur hal-hal otomatis yang nggak perlu kita perintah, kayak detak jantung, napas, atau keringat.

Fakta menariknya begini: para dokter pernah menemukan bahwa orang yang mengalami kerusakan saraf tertentu di jari mereka, ternyata jari-jarinya nggak bakal keriput meski direndam air berjam-jam. Nah, kalau keriput itu murni karena air yang masuk ke kulit (osmosis), seharusnya jari mereka tetap keriput dong? Tapi nyatanya nggak. Ini membuktikan kalau otak kitalah yang sengaja memerintahkan pembuluh darah di bawah kulit untuk menyempit (vasokonstriksi). Begitu pembuluh darah mengecil, volume jaringan di bawah kulit berkurang, dan kulit di atasnya pun melipat-lipat untuk menyesuaikan diri. Jadilah kerutan-kerutan estetik bin aneh itu.

Ban Mobil di Ujung Jari Kita

Terus, ngapain sih otak kita repot-repot bikin jari jadi keriput? Apakah cuma buat iseng atau biar kita tahu kalau sudah kelamaan mandi? Di sinilah evolusi biologi bermain peran. Para peneliti, salah satunya evolusionis Mark Changizi, punya hipotesis yang sangat menarik: jari keriput itu fungsinya mirip banget sama tapak pada ban mobil atau motor.

Pernah perhatiin nggak kenapa ban mobil ada garis-garis atau ukirannya? Itu namanya tread. Fungsinya adalah untuk membuang air saat jalanan basah, supaya ban tetap bisa "mencengkeram" aspal dan mobil nggak selip (aquaplaning). Nah, jari kita juga gitu! Kerutan di ujung jari berfungsi sebagai saluran drainase alami. Saat kita mencoba memegang benda yang basah atau licin di bawah air, kerutan-kerutan ini bakal mengalirkan air keluar dari titik sentuh antara jari dan benda tersebut. Hasilnya? Cengkeraman kita jadi jauh lebih kuat dan nggak gampang selip.

Penelitian dari Newcastle University di Inggris pada tahun 2013 bahkan sudah membuktikan hal ini secara eksperimental. Mereka meminta orang-orang untuk memindahkan kelereng yang basah dari satu wadah ke wadah lain. Hasilnya, orang yang jarinya sudah keriput karena direndam air jauh lebih cepat menyelesaikan tugas itu dibanding mereka yang jarinya masih mulus. Ini bukti otentik kalau tubuh kita punya mode "medan basah" otomatis yang sangat fungsional.

Warisan Nenek Moyang untuk Bertahan Hidup

Kalau kita tarik lebih jauh ke belakang, fitur "ban hujan" di jari ini adalah warisan dari nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. Bayangin manusia purba yang harus mencari makan di lingkungan yang lembap, sungai yang licin, atau saat hujan deras. Tanpa jari yang keriput, mereka bakal kesulitan menangkap ikan dengan tangan kosong atau mengumpulkan tanaman air dan kerang-kerangan di dasar sungai. Licin dikit, makanan bisa lepas.

Nggak cuma soal cari makan, kemampuan mencengkeram di kondisi basah juga penting banget buat mobilitas. Misalnya, saat mereka harus memanjat pohon yang basah kuyup karena hujan buat kabur dari kejaran predator. Jari tangan dan jari kaki yang mengerut memberikan stabilitas ekstra agar mereka nggak terpeleset dan jatuh. Jadi, kerutan yang sering kita tertawakan saat mandi ini sebenarnya adalah alat bertahan hidup yang sangat krusial di masa lalu. Ini adalah bukti betapa efisiennya desain tubuh manusia yang terus beradaptasi dengan lingkungannya selama jutaan tahun.

Kenapa Nggak Keriput Terus Saja?

Mungkin ada yang nanya, "Ya sudah, kalau emang keriput itu bagus buat cengkeraman, kenapa jari kita nggak dibuat keriput permanen aja?". Nah, di sinilah letak kecerdasan alam. Segala sesuatu ada harganya. Kulit yang keriput itu cenderung lebih sensitif dan lebih gampang rusak kalau terus-terusan bergesekan dengan permukaan kasar yang kering. Selain itu, sensitivitas ujung jari kita terhadap tekstur halus bisa berkurang kalau permukaannya berkerut terus.

Tubuh kita memilih jalan tengah yang paling efisien: aktifkan mode keriput cuma kalau memang dibutuhkan (saat basah), dan balikkan ke mode mulus saat sudah kering agar sensitivitas peraba kita kembali maksimal. Ini kayak fitur otomatis di mobil mewah yang cuma nyalain lampu kabut pas kondisi emang lagi berkabut doang. Canggih, kan?

Kesimpulan: Tubuh Kita Itu Jenius

Mulai sekarang, kalau kamu lagi mandi atau berenang dan melihat jari-jarimu mulai berkerut, jangan lagi mikir kalau kulitmu "bocor" atau "kemasukan air". Sebaliknya, tersenyumlah dan berikan apresiasi pada otak dan evolusi manusia yang luar biasa ini. Tubuhmu lagi bilang, "Woi, ini lagi basah, nih! Gue aktifin mode grip maksimal ya, biar lu nggak gampang kepeleset atau biar gampang pegang sabun!"

Sains seringkali menunjukkan bahwa hal-hal sepele yang kita alami sehari-hari ternyata punya latar belakang sejarah yang sangat panjang dan bermakna. Jari keriput adalah pengingat kecil bahwa di dalam darah dan daging kita, masih tersimpan insting bertahan hidup dari para pengelana rimba zaman purba. Jadi, selamat menikmati waktu berendammu dengan jari-jari "ban hujan" yang super canggih itu!

Logo Radio
🔴 Radio Live