Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 12:15 PM


Dunia sepertinya memang sedang kekurangan stok orang waras, atau mungkin standar kewarasan kitalah yang harus diturunkan serendah mata kaki kalau mau memahami jalan pikiran seorang Donald Trump. Belum juga reda kaget kita dengan berbagai manuver politiknya, si Mbah yang satu ini kembali berulah dengan ide yang saking absurdnya, bikin kita bingung harus ketawa atau nangis di pojokan. Bayangkan saja, di tahun 2026 yang katanya zaman modern ini, Trump masih berpikir bahwa membeli sebuah pulau berpenghuni itu sama mudahnya dengan checkout keranjang kuning di TikTok Shop. Kali ini, obsesi lamanya kambuh lagi: dia mau beli Greenland. Ya, Greenland yang dingin itu, bukan Green Pramuka atau Greenland perumahan elit di pinggiran Jakarta.
Kalau cuma sekadar mau beli pulau sih mungkin kita masih bisa maklum, namanya juga orang kaya gabut yang bingung duitnya mau dikemanain. Tapi masalahnya, Trump ini pakai jurus tawar-menawar yang bikin geleng-geleng kepala. Dia nggak segan-segan mengancam bakal menarik Amerika Serikat keluar dari NATO kalau Denmark menolak menjual Greenland. Ini level ngambeknya sudah melampaui bocah yang guling-guling di lantai minimarket karena nggak dibeliin es krim. Bayangkan, sebuah aliansi pertahanan militer terbesar di dunia, yang dibangun susah payah pasca-Perang Dunia II untuk menjaga perdamaian global, dijadikan alat barter cuma gara-gara satu orang pengin nambah koleksi properti. NATO di mata Trump mungkin nggak lebih berharga daripada langganan Netflix yang bisa di-unsubscribe kapan saja kalau kontennya lagi nggak asik.
Logika Trump ini benar-benar ajaib. Dia melihat Greenland bukan sebagai wilayah berdaulat dengan puluhan ribu manusia yang punya kebudayaan dan hak asasi, melainkan cuma seonggok aset real estate yang strategis. Di kepalanya, mungkin dia membayangkan Greenland itu kayak ruko kosong di hook jalan yang potensial banget buat dibikin franchise. Padahal, alasan di baliknya ya jelas pragmatis banget ala pedagang. Greenland itu gudangnya mineral tanah jarang alias rare earth yang jadi rebutan dunia buat bikin baterai HP sampai rudal. Belum lagi posisi strategisnya buat pos kamling alias pangkalan militer buat ngintip tetangga sebelah, si Rusia dan Tiongkok. Jadi bagi Trump, ini bukan soal aneksasi wilayah, ini cuma "transaksi bisnis besar" seperti dia beli hotel di Manhattan. Simpel banget, kan? Saking simpelnya sampai lupa kalau sekarang bukan abad ke-18.
Kasihan betul nasib Denmark dan warga Greenland. Sudah puluhan tahun hidup tenang, tiba-tiba datang tawaran yang baunya kolonial banget. Denmark yang tegas bilang "Maaf, kami nggak jualan negara" malah dianggap nggak asik dan menghambat rezeki. Warga Greenland apalagi, mereka pasti merasa kayak barang dagangan yang mau diopertangan lengkap dengan sertifikat tanahnya. Ini membuktikan kalau di mata Trump, diplomasi internasional itu nggak perlu pakai sopan santun atau tata krama, yang penting "cuan" dan "deal". Konsep kedaulatan negara lain itu cuma mitos kalau yang nawar adalah Amerika Serikat di bawah kendalinya.
Ancaman keluar dari NATO ini jelas bikin negara-negara Eropa ketar-ketir. Mereka yang selama ini berlindung di bawah payung keamanan Amerika Serikat jadi sadar kalau payung itu ternyata ada harga sewanya, dan harganya bisa senaik-turun mood pemimpinnya. Kalau Amerika cabut dari NATO, ya bubar jalan sudah itu organisasi. Pasal 5 NATO yang katanya "satu diserang, semua membantu" bakal cuma jadi tulisan indah di atas kertas yang nggak ada gunanya. Ini ironi tingkat dewa, masa depan keamanan Eropa dan Atlantik Utara dipertaruhkan hanya karena ambisi beli tanah es. Benar-benar sebuah plot twist yang penulis naskah film Hollywood pun nggak bakal kepikiran saking konyolnya.
Pada akhirnya, kita cuma bisa jadi penonton yang waswas sambil makan popcorn melihat sirkus geopolitik ini. Apakah Trump cuma menggertak buat naikin posisi tawar, atau dia beneran senekat itu buat ngebubarin NATO demi Greenland? Entahlah. Yang jelas, fenomena ini mengajarkan kita satu hal penting: punya tetangga atau sekutu yang super kaya tapi random itu ternyata lebih menakutkan daripada punya musuh yang jelas jahatnya. Selamat datang di era diplomasi properti, di mana negara bisa diperjualbelikan semudah nawar cabai di pasar induk.
Next News

Dari Lendir Jejak Siput ke Wajah: Mengapa Lendir Siput Jadi Skincare?
in 6 hours

Saat Laut Tak Kenal Batas Negara: Gempa di Filipina yang Membuat Indonesia Ikut Waspada
20 hours ago

Jangan Kaget! 122 Program Studi Resmi Dihapus Tahun Ini
5 days ago

Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S. Deyang Pimpin BGN
6 days ago

Usulan Bahasa Prancis di Sekolah: Ambisi Diplomasi atau Beban Baru Pendidikan?
7 days ago

Bukan Lagi Soal Gengsi, Thrifting Kini Jadi Aksi Peduli Bumi
7 days ago

Hati-Hati Jebakan Autodebet: Kenapa Gaji Cepat Habis Tiap Bulan?
11 days ago

Rahasia Sukses Pilih Kampus: Luar Negeri atau Dalam Negeri?
14 days ago

Stevia: Pemanis Alami Terbaik untuk Gaya Hidup Sehat Anak Muda
14 days ago

Tensi Timur Tengah Memanas: Dompet Dunia Mulai Terasa Berat
14 days ago





