Ceritra
Ceritra Update

Hustle culture burnout: capek ngejar sukses yang nggak ada garis finish-nya

Elsa - Sunday, 19 April 2026 | 12:00 PM

Background
Hustle culture burnout: capek ngejar sukses yang nggak ada garis finish-nya
Ilustrasi Hustle Culture (Pinterest/)

Hustle Culture Burnout: Capek Ngejar Sukses yang Nggak Ada Garis Finish-nya

Pernah nggak sih lo bangun pagi, belum juga cuci muka, tapi tangan udah otomatis ngeraba-raba kasur nyari handphone? Begitu dapet, yang dibuka bukan chat dari gebetan, melainkan notifikasi email kerjaan atau scroll feed LinkedIn yang isinya orang-orang pamer pencapaian "Humbled and honored to announce..." di jam 6 pagi. Detik itu juga, dada langsung kerasa sesek. Ada perasaan bersalah yang nyelip: "Duh, orang lain udah lari sejauh itu, kok gue masih ileran di balik selimut?"

Selamat datang di sirkus raksasa bernama hustle culture. Sebuah gaya hidup yang mendewakan kesibukan seolah-olah tidur delapan jam adalah dosa besar dan rebahan di hari Minggu adalah tanda-tanda masa depan suram. Kita semua terjebak dalam perlombaan lari maraton yang anehnya, panitianya lupa masang garis finish. Kita lari terus, napas udah senin-kamis, tapi nggak pernah bener-bener ngerasa sampai.

Ilusi "Sedikit Lagi" yang Mematikan

Masalah utama dari hustle culture bukan soal kerja kerasnya. Kerja keras itu perlu, apalagi di tengah ekonomi yang lagi hobi bikin kaget begini. Masalahnya adalah mindset bahwa kita nggak akan pernah "cukup". Kita selalu ngerasa kesuksesan itu ada di tikungan depan. Pas udah sampai di tikungan itu, eh, targetnya digeser lagi sama ego kita sendiri atau tuntutan lingkungan.

Dulu mikirnya, "Kalau udah gaji dua digit, gue bakal santai." Begitu dapet, liat temen beli mobil baru, targetnya naik lagi jadi "Gaji dua digit plus side hustle." Terus gitu terus sampai kita lupa kapan terakhir kali makan siang tanpa sambil bales chat klien atau meeting Zoom. Kita jadi kayak keledai yang ngejar wortel yang diiket di depan dahi sendiri. Kelihatannya deket, tapi nggak bakal pernah bisa digigit.

Fenomena ini bikin kita ngalami yang namanya burnout. Tapi burnout gara-gara hustle culture itu beda sama capek biasa. Kalau capek biasa, dibawa tidur semalem juga ilang. Burnout jenis ini sifatnya eksistensial. Lo ngerasa kosong, sinis sama kerjaan, dan mulai nanya ke diri sendiri: "Gue hidup buat kerja, atau kerja buat hidup sih?"

Romantisasi "Sakit" Demi Cuan dan Validasi

Lucunya, media sosial kita justru meromantisasi penderitaan ini. Ada semacam kebanggaan tersendiri pas kita posting foto kopi ketiga di jam 11 malem dengan caption "Grind never stops" atau "Hustle hard, pray harder." Kita kayak lagi pamer luka perang, tapi musuhnya adalah diri kita sendiri. Seolah-olah makin dikit waktu tidur kita, makin tinggi kasta sosial kita di mata netizen.

Kita takut banget dibilang malas. Padahal, ada beda jauh antara malas sama tahu batas. Hustle culture maksa kita buat nganggep diri kita sebagai mesin yang harus optimal 24/7. Padahal, mesin aja kalau dipaksa jalan terus tanpa oli bisa meledak, apalagi kita yang isinya cuma daging, tulang, sama sisa-sisa kopi instan sasetan.

Gara-gara ini, healing jadi istilah yang super laku. Tapi ironisnya, banyak orang healing cuma buat "ngisi bensin" supaya bisa kerja rodi lagi. Liburan ke Bali tapi tangan masih nempel di laptop itu bukan healing, itu mindahin stres dari kantor ke pinggir pantai. Kita nggak bener-bener menikmati hidup, kita cuma lagi nunda burnout yang lebih parah.

Garis Finish Itu Kita yang Buat

Lalu, kapan ini semua bakal berakhir? Jawabannya sederhana tapi susah dilakuin: pas kita berani bilang "cukup". Kita harus sadar kalau sukses itu versinya beda-beda, dan nggak semuanya harus diukur pake angka di rekening atau jabatan di kartu nama. Ada orang yang suksesnya adalah bisa jemput anak sekolah tepat waktu. Ada yang suksesnya adalah punya waktu buat hobi berkebun di sore hari tanpa kepikiran deadline.

Belajar buat bodo amat sama pencapaian orang lain di media sosial adalah skill bertahan hidup paling krusial di zaman sekarang. Apa yang mereka posting itu cuma highlight reel, bukan proses berdarah-darahnya. Lagian, buat apa menang balapan kalau pas nyampe di ujung, kita udah terlalu sakit atau terlalu stres buat nikmatin hadiahnya?

Nggak apa-apa kok kalau lo mau jadi orang yang "biasa-biasa aja" di mata dunia, tapi punya mental yang sehat dan hubungan yang hangat sama orang sekitar. Ambisi itu bagus, tapi jangan sampai ambisi itu jadi parasit yang makan habis kebahagiaan lo hari ini. Hidup bukan cuma soal ngejar masa depan yang masih abu-abu, tapi juga soal gimana caranya lo nggak ngerasa asing sama diri sendiri saat ini juga.

Jadi, coba deh sesekali taruh HP-nya. Napas dalam-dalam. Sadari kalau dunia nggak bakal kiamat cuma gara-gara lo telat bales chat kantor sepuluh menit atau mutusin buat tidur siang tanpa ngerasa bersalah. Garis finish itu ada di tangan lo, dan lo punya hak penuh buat berhenti lari kapanpun lo mau.

Logo Radio
🔴 Radio Live