Main character syndrome: semua orang pengen jadi pusat cerita
Elsa - Sunday, 19 April 2026 | 02:00 PM


Main Character Syndrome: Saat Semua Orang Merasa Sedang Syuting Film Bioskop di Dunia Nyata
Pernah nggak sih kamu lagi jalan di trotoar yang sempit, terus tiba-tiba ada orang berhenti mendadak cuma buat pasang tripod dan joget-joget di depan kamera? Atau mungkin kamu punya temen yang kalau lagi nongkrong, obrolannya harus selalu balik ke dia lagi, dia lagi, dan dia lagi. Kalau pernah, selamat, kamu baru saja berinteraksi dengan pengidap "Main Character Syndrome".
Istilah ini sebenarnya bukan diagnosis medis resmi dari psikolog, tapi lebih ke fenomena budaya internet yang makin ke sini makin terasa nyata. Intinya sederhana: seseorang merasa—atau bertingkah seolah-olah—dia adalah pemeran utama dalam sebuah film besar, sementara orang lain di sekitarnya hanyalah figuran atau NPC (Non-Playable Character) yang tugasnya cuma melengkapi narasinya saja.
Romantisasi Hidup Lewat Lensa Kamera
Fenomena ini nggak muncul tiba-tiba dari langit. Akarnya jelas: media sosial. Dulu, kalau kita mau merasa seperti bintang film, kita harus ikut casting atau minimal masuk TV. Sekarang? Cukup buka TikTok atau Instagram, pakai filter yang estetik, kasih lagu latar yang melankolis dari Lana Del Rey atau Taylor Swift, dan tiba-tiba kegiatan sesederhana minum kopi di pinggir jendela jadi terasa seperti adegan pembuka film indie yang bakal menang di Sundance Film Festival.
Sebenarnya, melakukan "romanticizing your life" itu ada bagusnya. Ini adalah bentuk self-care supaya kita nggak bosen dengan rutinitas yang itu-itu saja. Menghargai detail kecil dalam hidup bisa bikin kita lebih bahagia. Masalahnya muncul ketika garis antara "menghargai hidup" dan "merasa paling penting sejagat raya" itu jadi kabur. Banyak orang mulai merasa bahwa dunia ini berputar di sekitar mereka. Mereka jadi kurang empati karena terlalu sibuk mengatur sudut pandang kamera supaya kelihatan dreamy di mata followers-nya.
Ciri-ciri Kamu (Mungkin) Terjangkit Sindrom Ini
Nggak ada salahnya sesekali pengen jadi pusat perhatian, tapi ada beberapa tanda kalau kamu sudah mulai "kebablasan" jadi pemeran utama yang menyebalkan:
- Semua harus tentang "Gue": Saat teman curhat soal masalah kerjanya, bukannya dengerin, kamu malah memotong dengan kalimat, "Eh, itu mah mending, gue dulu malah lebih parah..."
- Merasa diawasi terus: Kamu merasa setiap langkahmu di mall diperhatikan orang, padahal ya orang lain juga sibuk dengan urusan masing-masing.
- Ekspektasi perlakuan khusus: Marah besar kalau pesanan kopi telat lima menit seolah-olah barista itu sengaja pengen ngerusak mood syuting harimu.
- Dunia adalah properti foto: Menganggap tempat umum, dari perpustakaan sampai monumen sejarah, cuma sebagai latar belakang konten tanpa peduli etika atau kenyamanan orang lain.
Yang paling lucu sekaligus miris adalah tren "POV" (Point of View) di media sosial. Sering banget kita lihat konten dengan tulisan "POV: Kamu lagi jadi karakter utama di film tahun 90-an," tapi videonya cuma berisi orang itu lagi jalan bolak-balik di depan kamera sambil nungguin orang lewat biar nggak masuk frame. Ironis, kan? Demi terlihat "alami" sebagai pemeran utama, mereka malah melakukan hal yang paling nggak alami sedunia.
Kenapa Kita Begitu Haus Validasi?
Kalau kita bedah lebih dalam, Main Character Syndrome ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri dari rasa kesepian dan ketidakberdayaan. Di dunia yang makin berisik dan kompetitif ini, rasanya menakutkan kalau kita cuma jadi "orang biasa". Kita takut jadi figuran yang nggak diingat siapa-siapa dalam sejarah. Maka, menciptakan narasi bahwa kita adalah pusat cerita adalah cara paling instan buat merasa berharga.
Tapi jujur deh, jadi pemeran utama itu capek. Kamu harus selalu terlihat sempurna, harus punya plot twist yang menarik, dan harus selalu menang di akhir cerita. Padahal, hidup nyata nggak se-skripted itu. Kadang kita gagal, kadang kita terlihat konyol, dan seringkali kita memang cuma orang lewat di hidup orang lain. Dan itu sebenarnya nggak apa-apa banget.
Belajar Jadi "Supporting Character" yang Baik
Ada keindahan yang sering dilupakan dari menjadi pemeran pendukung. Kita nggak perlu memikul beban cerita sendirian. Kita bisa lebih santai, lebih bisa mengamati sekitar, dan yang paling penting, kita bisa benar-benar "hadir" untuk orang lain. Hubungan manusia yang paling tulus biasanya terjadi ketika dua orang sama-sama menanggalkan ego "karakter utama" mereka dan saling mendengarkan tanpa niat buat pamer.
Dunia ini luas banget, isinya miliaran manusia dengan ceritanya masing-masing. Bayangkan kalau ada 8 miliar orang yang semuanya merasa jadi pemeran utama di saat yang sama. Yang ada cuma tabrakan ego di mana-mana. Nggak ada yang mau ngalah di jalan, nggak ada yang mau dengerin curhatan temen, dan semuanya sibuk nyari pencahayaan terbaik buat konten pribadinya.
Jadi, nggak perlu merasa gagal kalau hari ini hidupmu nggak terasa estetik atau nggak ada yang nonton "cerita" hidupmu. Nggak perlu juga marah kalau orang lain nggak memperlakukanmu seperti selebriti. Cobalah sesekali menikmati peran sebagai penonton atau pemeran pendukung. Karena kadang, cerita yang paling menarik justru ditemukan saat kita berhenti berusaha menjadi pusat perhatian dan mulai melihat betapa luar biasanya cerita orang-orang di sekitar kita.
Lagipula, film yang bagus nggak cuma soal aktor utamanya, kan? Tanpa sinematografer yang handal, editor yang sabar, dan figuran yang lewat di latar belakang, aktor utama itu cuma bakal kelihatan kayak orang aneh yang ngomong sendiri di depan layar hijau. Mari kita kembali menapak bumi, taruh HP sebentar, dan sadari bahwa hidup yang sesungguhnya terjadi justru saat kamera sudah mati.
Next News

Usut Dugaan Aliran Dana Sel Mewah Cibinong: Kemenimipas Buka Celah Pelimpahan ke APH
21 days ago

Ditjenpas Uji Keabsahan Foto Terpidana Jimmy Masrin di Area Fasilitas Khusus Lapas Cibinong
21 days ago

Kehadiran Shandy Aulia di Agenda Resmi Kepolisian Bersama Irjen Suyudi Ario Seto Jadi Sorotan Publik
21 days ago

Kunci Pembuktian Kasus Lapas Cibinong: DPR Desak Buka Rekaman CCTV dan Logbook Pintu Masuk
22 days ago

DPR dan Kemenimipas Robohkan 10 Bangunan Ilegal di Lapas Cibinong Gunakan Alat Berat
22 days ago

Mencegah Penyelundupan Lewat Barang Titipan: Rutan Depok Perjelas SOP Pemeriksaan Fisik
21 days ago

Video Viral Pria Diduga Pesta Narkoba di Lapas Depok, Pihak Rutan Lakukan Penyelidikan
21 days ago

Tak Ada Toleransi Pelanggaran di Sel, Rutan Depok Siapkan Sanksi Pencabutan Hak Remisi
21 days ago

Kehadiran Shandy Aulia di Agenda Resmi Kepolisian Bersama Irjen Suyudi Ario Seto Jadi Sorotan Publik
24 days ago

Terungkap! Ombudsman Konfirmasi Koruptor Jimmy Masrin Tempati Hunian Mewah di Lapas Cibinong
a month ago

