Ceritra
Ceritra Warga

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial

Nizar - Thursday, 16 April 2026 | 12:00 PM

Background
Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
Band Tielman Brothers (alchetron/)

Menolak Lupa: Legenda Musik Indonesia yang Sudah Eksis Sejak Zaman Londo

Kalau kita ngomongin soal skena musik lokal, mungkin yang terlintas di kepala kalian adalah band-band indie Jakarta yang penontonnya pakai totebag, atau mungkin deretan musisi senja yang liriknya penuh dengan diksi kopi dan hujan. Tapi, pernah nggak sih kalian bayangin gimana kakek buyut kita dulu nyari hiburan pas zaman penjajahan? Apa mereka cuma dengerin suara meriam doang? Ya nggak dong. Jauh sebelum Spotify masuk ke Indonesia, atau bahkan sebelum piringan hitam jadi barang "vintage" yang mahal di Pasar Santa, Indonesia udah punya maestro-maestro musik yang kerennya nggak ketulungan.

Musik di zaman kolonial itu unik banget. Campuran antara nuansa klasik Eropa, keroncong yang mendayu-dayu, sampai bibit-bibit rock n roll yang mulai tumbuh malu-malu. Mereka ini bukan sekadar musisi, tapi juga pahlawan yang lewat nada-nadanya, identitas bangsa ini mulai terbentuk. Yuk, kita ulik siapa aja sih para sepuh dunia musik kita yang sudah eksis bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Ismail Marzuki: Sang Maestro dari Kwitang

Nama ini pasti nggak asing, soalnya udah jadi nama pusat kesenian paling kondang di Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Tapi kalau kalian kira beliau cuma sekadar komposer lagu nasional yang kaku, kalian salah besar. Ismail Marzuki itu "pop star" pada masanya. Bayangin aja, di usia muda, beliau sudah bergabung dengan orkes Lief Java sekitar tahun 1930-an. Saat itu, Belanda masih petantang-petenteng di tanah air.

Lief Java ini bisa dibilang salah satu "band" paling hits di era Hindia Belanda. Gaya musiknya nggak cuma keroncong, tapi juga dapet pengaruh dari musik-musik Barat yang saat itu masuk lewat siaran radio NIROM. Bang Ma'ing, sapaan akrabnya, menulis lagu-lagu yang melampaui zaman. Dari yang romantis abis kayak "Rayuan Pulau Kelapa" sampai yang bikin semangat membara. Vibes musiknya itu puitis banget, jauh sebelum musisi indie masa kini coba-coba mainin kata-kata senja.

Gesang dan Magisnya Bengawan Solo

Gesang Martohartono adalah definisi dari kata "Legend". Beliau mulai dikenal luas pada akhir era 1930-an. Lagu "Bengawan Solo" yang kita kenal itu diciptakan tahun 1940, tepat dua tahun sebelum Jepang datang mengusir Belanda. Lagu ini bukan cuma lagu tentang sungai, tapi semacam doa dan refleksi yang saking indahnya, sampai-sampai tentara Jepang yang menjajah kita pun jatuh cinta sama lagu ini.

Bayangin, di tengah situasi politik yang lagi panas-panasnya, ada seorang pria sederhana dari Solo yang bisa bikin lagu yang melintasi batas negara. Sampai sekarang, "Bengawan Solo" sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa. Kalau Gesang hidup di zaman sekarang, mungkin beliau sudah kolaborasi bareng musisi internasional atau setidaknya punya jutaan pendengar bulanan di platform streaming. Tapi justru kesederhanaannya itulah yang bikin karya beliau tetap abadi.

The Tielman Brothers: Pionir Rock n Roll yang Terlupakan

Ini nih yang sering bikin orang kaget. Kalau kalian pikir rock n roll itu asalnya cuma dari Amerika lewat Elvis Presley, kalian harus kenalan sama The Tielman Brothers. Meskipun mereka lebih banyak dikenal di Eropa, akar mereka ya dari Indonesia, tepatnya Surabaya. Keluarga Tielman ini sudah mulai bermusik sejak tahun 1940-an dengan nama "The Timor Brothers".

Andy Tielman dan saudara-saudaranya sudah main musik di depan pejabat-pejabat Belanda saat itu. Mereka adalah pelopor aliran "Indo-Rock", sebuah campuran antara musik tradisional Indonesia dengan sentuhan rock barat yang agresif. Mereka bahkan sudah mainin gitar pakai gigi atau di belakang kepala jauh sebelum Jimi Hendrix melakukannya. Sayangnya, karena situasi politik yang makin panas antara Indonesia dan Belanda, mereka akhirnya hijrah ke Belanda. Tapi tetap aja, DNA musik mereka itu Indonesia banget.

Orkes Keroncong: "Band" Tongkrongan Zaman Dulu

Zaman dulu, istilah "band" mungkin belum sepopuler sekarang. Orang-orang lebih akrab dengan sebutan "Orkes". Orkes Keroncong Lief Java yang sempat saya sebut tadi adalah salah satu yang paling berpengaruh. Selain Ismail Marzuki, ada nama-nama seperti Annie Landouw atau Kartini yang suara emasnya menghiasi corong radio kuno.

Musik keroncong di zaman penjajahan itu bukan sekadar musik pengantar tidur. Keroncong itu simbol perlawanan dan identitas kelas bawah. Para "buaya keroncong" (sebutan buat musisi keroncong) biasanya nongkrong di pinggiran kota, mainin alat musik kayak ukulele dan cello kayu dengan skill yang nggak main-main. Mereka ini adalah anak-anak punk pada zamannya, yang memilih jalur musik "pinggiran" di tengah gempuran musik klasik Belanda yang dianggap lebih elit.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin kalian mikir, "Ya elah, itu kan musik zaman purba, apa hubungannya sama playlist gue sekarang?" Gini lho, kawan. Tanpa pondasi yang dibangun oleh Ismail Marzuki, Gesang, atau The Tielman Brothers, mungkin musik Indonesia nggak bakal punya karakter kayak sekarang. Mereka membuktikan kalau kreativitas itu nggak bisa dibungkam, mau dijajah kayak gimana pun, nada-nada bakal tetap mengalir.

Mengapresiasi mereka itu ibarat kita lagi sowan ke sesepuh. Ada rasa hormat yang harus kita jaga. Selain itu, dengerin lagu-lagu lama itu sebenarnya seru banget. Kita bisa dapet gambaran gimana suasana Jakarta atau Solo di masa lalu tanpa perlu mesin waktu. Lirik-liriknya yang sopan tapi ngena, melodinya yang jujur, itu semua adalah warisan yang harganya jauh lebih mahal dari koleksi vinyl edisi terbatas manapun.

Jadi, coba deh sekali-kali di sela-sela dengerin K-Pop atau lagu-lagu galau masa kini, selipin satu atau dua lagu dari Ismail Marzuki atau Gesang. Rasain deh sensasi magisnya. Siapa tahu, kalian malah jadi dapet inspirasi buat bikin karya yang sama abadinnya. Karena pada akhirnya, musik yang bagus itu nggak bakal mati dimakan usia, mau itu zaman penjajahan sampai zaman metaverse nanti.

Logo Radio
🔴 Radio Live