Ceritra
Ceritra Update

Kenapa Hotel Tidak Menyediakan Guling? Simak 5 Alasan Dibalik Standar Internasionalnya

Nizar - Monday, 13 April 2026 | 08:00 PM

Background
Kenapa Hotel Tidak Menyediakan Guling? Simak 5 Alasan Dibalik Standar Internasionalnya
Ilustrasi (motherandbeyond/)

Misteri Hilangnya Guling di Kasur Hotel: Kenapa Sih Kita Harus 'Jomblo' Pas Tidur di Sana?

Pernah nggak sih kamu ngerasa ada yang kurang pas lagi asyik-asyiknya staycation di hotel berbintang? Kamarnya luas, AC-nya dingin nyess, spreinya licin kayak perosotan TK, dan bantalnya empuk banget sampai kepala rasanya tenggelam. Tapi, pas mau merem dan mulai nyari posisi wenak, kaki kamu meraba-raba ke tengah kasur dan... zonk. Nggak ada guling.

Buat kita orang Indonesia, tidur tanpa guling itu ibarat makan seblak tapi nggak pakai kerupuk. Ada yang kurang, hampa, dan jujurly bikin gelisah. Kita udah terbiasa 'ndusel' atau meluk guling supaya punggung nggak pegal atau sekadar biar merasa aman dari gangguan hantu kamar sebelah. Tapi anehnya, mau hotelnya semahal apapun, benda berbentuk silinder empuk itu hampir selalu absen dari peradaban kamar hotel. Kenapa sih hotel sebenci itu sama guling?

Mari kita bedah satu-persatu alasannya, biar kamu nggak nanya-nanya lagi ke resepsionis yang ujung-ujungnya cuma dijawab dengan senyum sopan bin standar operasional.

Standar Internasional yang Memang Kiblatnya ke Barat

Alasan pertama yang paling logis adalah soal standar. Mayoritas manajemen hotel besar di Indonesia itu berkiblat pada standar perhotelan internasional, alias gaya Barat. Nah, di Amerika atau Eropa, konsep guling itu hampir nggak ada dalam kamus tidur mereka. Mereka lebih mengenal decorative pillows atau bantal tumpuk yang banyak banget itu, tapi bukan guling buat dipeluk.

Guling sebenarnya adalah warisan budaya yang cukup unik. Usut punya usut, guling yang kita kenal sekarang sering disebut sebagai Dutch Wife. Konon, dulu para serdadu Belanda yang kesepian di masa penjajahan butuh sesuatu buat dipeluk pas tidur karena mereka nggak bawa istri ke tanah jajahan. Akhirnya, dibuatlah bantal panjang. Kebiasaan ini nempel di kita sampai sekarang, tapi nggak pernah diadopsi oleh industri perhotelan global yang lebih suka bantal kotak yang disusun simetris biar kelihatan estetik.

Masalah Higienitas: Guling Itu 'Sarang' Kuman Tersembunyi

Ini mungkin alasan yang agak pahit buat didengar: guling itu jorok. Oke, jangan marah dulu. Coba bayangin, bantal kepala cuma menampung kepala dan rambut kamu. Tapi guling? Dia dipeluk, dikempit di antara paha, kena keringat seluruh badan, dan—mari kita jujur—sering banget kena liur basi pas kita lagi nyenyak-nyenyaknya mimpi.

Bagi pihak hotel, mencuci sarung guling itu gampang, tapi membersihkan bagian dalamnya itu tantangan tersendiri. Bakteri dan bau badan lebih gampang nempel di guling dibanding bantal biasa. Standar kebersihan hotel sangat ketat, dan meminimalkan risiko kontaminasi dari cairan tubuh tamu adalah prioritas utama. Dengan nggak menyediakan guling, mereka mengurangi satu beban berat dalam menjaga sanitasi kamar tetap top-notch.

Efisien Waktu Buat Housekeeping

Pernah kepikiran nggak berapa waktu yang dibutuhin staf housekeeping buat beresin satu kamar? Mereka punya target waktu yang ketat banget. Masang sarung guling itu ternyata lebih tricky dan makan waktu dibanding masang sarung bantal biasa. Belum lagi kalau gulingnya harus diposisikan biar kelihatan cantik di tengah kasur.

Di dunia perhotelan, waktu adalah uang. Tanpa guling, proses make up room jadi lebih sat-set-das-des. Kasur kelihatan lebih minimalis, rapi, dan luas. Bayangin kalau di kasur ada dua bantal kepala, dua bantal kecil, dan satu guling. Wah, itu kasur udah penuh duluan sebelum kamu tiduran. Kesan luas dan mewah yang ingin dijual hotel bisa rusak cuma gara-gara satu benda panjang yang melintang di tengah kasur.

Guling Dianggap Kurang Estetik dan 'Ndeso'?

Mungkin ini opini yang agak kontroversial, tapi dalam dunia desain interior hotel, guling sering dianggap merusak komposisi visual. Hotel pengen kasurnya kelihatan kayak di katalog majalah desain. Bantal yang ditumpuk berdiri memberikan kesan tinggi dan megah. Sementara guling? Dia cenderung tiduran horizontal dan bikin garis desain jadi berantakan.

Selain itu, karena sejarahnya yang lokal banget (hanya populer di Asia Tenggara), guling seringkali dianggap kurang "berkelas" untuk standar hotel bintang lima yang ingin memberikan pengalaman menginap ala kaum urban global. Padahal ya, kita mah nggak butuh kelihatan elit, yang penting bisa meluk sesuatu pas mimpi indah, kan?

Solusi Buat Kamu yang 'Guling-Addict'

Terus gimana dong nasib kita-kita yang kalau nggak ada guling rasanya kayak tidur di atas papan kayu? Tenang, manusia itu makhluk paling adaptif. Biasanya, para pencinta guling punya trik khusus. Cara paling gampang adalah dengan memesan bantal ekstra atau memanfaatkan bantal sofa (kalau ada) buat dijadikan tumbal guling.

Beberapa hotel sebenernya menyediakan guling kalau kamu request, tapi biasanya jumlahnya terbatas banget. Jadi, jangan heran kalau pas kamu telepon room service, mereka bilang "Maaf Kak, gulingnya lagi habis dipinjam tamu lain." Nasib emang kalau harus rebutan bantal peluk sama orang asing di gedung yang sama.

Kesimpulannya, absennya guling di hotel itu bukan karena mereka pelit, tapi karena urusan standar internasional, kebersihan, dan efisiensi. Memang sih, rasanya aneh tidur 'sendirian' tanpa ada yang dipeluk. Tapi ya mau gimana lagi? Anggap aja ini latihan biar kamu nggak ketergantungan sama benda mati. Atau ya, solusinya cuma satu: bawa pasangan sah, atau bawa guling sendiri dari rumah kalau nggak malu sama petugas valetnya.

Jadi, gimana? Masih mau komplain ke resepsionis soal guling, atau mending lanjut tidur pakai bantal tambahan aja?

Logo Radio
🔴 Radio Live