Ceritra
Ceritra Update

Rekor Gila Drake di 2026: Dominasi Total Top 10 ARIA Charts

Shannon - Monday, 25 May 2026 | 04:00 PM

Background
Rekor Gila Drake di 2026: Dominasi Total Top 10 ARIA Charts
(Getty Images/Joyner)

Drake Memang Nggak Ada Obat: Borong Tiga Album di Top 10 ARIA Charts Sekaligus!

Kalau ada yang bilang era Drake sudah habis gara-gara gempuran rapper-rapper baru atau drama perseteruan yang nggak habis-habis, sepertinya mereka harus mikir ulang. Bayangkan, di tengah gempuran tren TikTok yang berubah tiap jam, Aubrey Drake Graham malah makin menjadi-jadi. Per 25 Mei 2026, si "Champagne Papi" ini baru saja mencetak sejarah yang bikin geleng-geleng kepala di Australia. Drake resmi jadi musisi pertama sejak ARIA Charts pertama kali dipublikasikan tahun 1983 yang berhasil naruh tiga album baru sekaligus di posisi Top 10 dalam satu waktu. Gila, kan?

Buat lo yang nggak terlalu ngikutin statistik musik, rekor ini bukan cuma soal angka. Ini soal dominasi total. Sejak tahun 1983 zaman bokap nyokap kita mungkin masih hobi dengerin kaset pita nggak ada satu pun musisi, mulai dari Michael Jackson, Madonna, sampai Taylor Swift, yang pernah ngelakuin hal semasif ini di tanah Australia. Drake datang, rilis proyek, dan langsung menjajah tangga lagu seolah-olah ARIA Charts itu adalah halaman belakang rumahnya sendiri.

Strategi Banjir Konten yang Bikin Kompetitor Pusing

Gimana caranya satu orang bisa punya tiga album baru di Top 10 secara bersamaan? Jawabannya simpel tapi susah ditiru: Drake adalah mesin. Dia nggak cuma ngerilis album studio biasa, tapi juga main di ranah mixtape dan kolaborasi yang dirilis secara estafet. Strategi "flooding the market" ini sebenarnya berisiko bikin orang bosan, tapi buat fans Drake yang militan, makin banyak lagu justru makin bagus buat playlist mereka pas lagi galau atau pas lagi di gym.

Ada semacam adiksi kolektif kalau kita ngomongin Drake. Musiknya itu kayak makanan cepat saji yang enak banget dimakan kapan aja. Nggak terlalu berat buat mikir, tapi produksinya selalu jempolan. Fenomena ini juga ngebuktiin kalau di tahun 2026, cara orang konsumsi musik udah berubah total. Kita nggak lagi beli satu CD terus didengerin selama sebulan. Kita streaming, kita skip kalau nggak enak, tapi entah kenapa jari kita selalu balik lagi ke tombol play di albumnya Drake. Keberhasilan dia menempatkan tiga album baru ini menunjukkan kalau "Drake Fatigue" atau rasa bosan terhadap Drake itu cuma mitos belaka.

Kenapa Harus Australia dan Kenapa Sekarang?

Mungkin banyak yang nanya, "Kok di Australia sih rekornya?". Ya, Australia (melalui ARIA) adalah salah satu pasar musik paling jujur dan kompetitif di dunia. Kalau lo bisa tembus di sana, berarti musik lo emang punya jangkauan global yang nggak main-main. Drake berhasil ngebuktiin kalau daya tariknya melampaui batas Amerika Utara. Dari Toronto sampai Sydney, semua orang kayaknya sepakat buat dengerin rap-singing ala Drake yang khas itu.

Kalau kita flashback ke tahun 1983, saat ARIA mulai rajin nyatet siapa yang paling laku, persaingan itu bener-bener ketat. Dulu, lo harus punya fisik yang kuat buat jualan album. Sekarang, di era digital, kompetisinya justru makin berdarah-darah karena semua orang bisa rilis lagu. Tapi Drake punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain: algoritma yang sayang banget sama dia. Setiap kali dia rilis sesuatu, Spotify dan Apple Music pasti langsung naruh di baris paling depan. Ditambah lagi, Drake pinter banget bikin lagu yang "meme-able" atau enak dijadiin latar video pendek. Jadi, jangan heran kalau lo buka sosial media, lagunya dia lagi yang lewat.

Opini Jujur: Apakah Ini Kualitas atau Sekadar Kuantitas?

Jujur aja, kita harus akui kalau nggak semua lagu di tiga album itu bakal jadi klasik. Ada beberapa lagu yang jujur terasa kayak "filler" atau sekadar memenuhi kuota. Tapi, ya itu tadi, Drake itu pinter. Dia tahu pasar. Dia tahu kapan harus ngeluarin lagu rap yang keras, dan kapan harus ngeluarin lagu RnB yang bikin baper maksimal. Variasi genre di dalam album-album barunya inilah yang bikin dia bisa narik banyak pendengar dari berbagai kalangan.

Ada sedikit sentimen di kalangan kritikus kalau Drake ini lebih mirip "content creator" daripada musisi murni belakangan ini. Tapi ya terus kenapa? Kalau hasilnya adalah rekor yang belum pernah dipecahkan selama 43 tahun, argumen itu jadi nggak relevan. Dia adalah pebisnis ulung yang kebetulan sangat jago bikin hook yang nempel di kepala. Kita mungkin sering ngeluh "Drake lagi, Drake lagi," tapi pas malem minggu lagi nyetir sendirian, ujung-ujungnya playlist kita isinya dia juga.

Warisan yang Sulit Digoyahkan

Melihat pencapaian ini, rasanya Drake sudah berada di level "undisputed" atau nggak terbantahkan lagi posisinya di industri musik modern. Dia nggak perlu lagi validasi dari Grammy atau penghargaan formal lainnya kalau angka-angka di chart sudah bicara sekeras ini. Menjadi artis pertama yang punya tiga album baru di Top 10 ARIA sejak 1983 adalah pengingat buat kita semua bahwa Drake masih punya kunci buat ngebuka pintu kesuksesan kapan pun dia mau.

Apakah rekor ini bakal bertahan lama? Mengingat betapa cepatnya industri musik berubah, mungkin saja tahun depan ada artis lain yang mencoba hal yang sama. Tapi untuk saat ini, mahkota itu milik Drizzy. Dia sukses bikin sejarah di saat banyak orang mengira dia sudah mencapai titik jenuh. Jadi, buat lo yang masih hobi nge-hate Drake, mending simpan dulu energinya. Karena sepertinya, si pria asal Toronto ini belum ada niatan buat pensiun apalagi turun dari singgasananya. Rekor ARIA 2026 ini cuma satu lagi koleksi di lemari piala mentalnya yang sudah penuh sesak.

Logo Radio
🔴 Radio Live