Ceritra
Ceritra Warga

Emang Masih Jaman Baca Koran? Alasan Koran Masih Tetap Layak Untuk Dibeli di Era Digital

Nizar - Monday, 13 April 2026 | 11:00 AM

Background
Emang Masih Jaman Baca Koran? Alasan Koran Masih Tetap Layak Untuk Dibeli di Era Digital
ilustrasi (flouristaustralia/)

Menimbang Nasib Kertas Berita: Di Era Scroll Gini, Koran Masih Worth It Nggak Sih?

Bayangkan sebuah pagi yang tenang. Kamu duduk di teras, menyesap kopi hitam yang uapnya masih mengepul, dan di tanganmu ada selembar kertas lebar berwarna agak kusam yang baunya sangat khas—campuran aroma kayu dan tinta basah. Adegan ini rasanya makin hari makin mirip cuplikan film vintage atau sekadar kenangan masa kecil saat melihat kakek kita sibuk menandai kolom teka-teki silang. Sekarang, coba bandingkan dengan realitas kita sekarang: bangun tidur, mata masih sepat, yang dicari langsung HP. Scroll TikTok sebentar, buka Twitter—eh, sekarang X—buat lihat apa yang lagi trending, lalu kena doomscrolling sampai lupa waktu.

Pertanyaan besarnya kemudian muncul di kepala: Di tengah gempuran informasi yang serba "sat-set" dan gratisan di internet, apakah berlangganan koran fisik itu masih worth it? Atau jangan-jangan, koran cuma jadi artefak sejarah yang menunggu waktu untuk benar-benar punah?

Kecepatan vs Ketajaman: Kita Lagi Butuh yang Mana?

Jujur saja, kalau kita bicara soal kecepatan, koran sudah kalah telak sejak ronde pertama. Hari ini ada kecelakaan di jalan tol, detik itu juga videonya muncul di grup WhatsApp atau FYP TikTok. Kalau kamu nunggu koran besok pagi buat tahu berita itu, ya basi. Di era digital, informasi itu kayak gorengan panas; kalau telat dikit, rasanya udah hambar dan nggak renyah lagi.

Tapi, masalahnya, kecepatan itu sering kali mengorbankan akurasi. Pernah nggak kamu baca berita breaking news di portal online yang judulnya bombastis tapi isinya cuma tiga kalimat pendek? Belum lagi iklan pop-up yang nutupin layar dan bikin emosi. Di sinilah koran mengambil peran yang berbeda. Membaca koran itu ibarat makan di restoran yang masaknya lama, tapi bumbunya meresap sampai ke tulang. Ada proses kurasi, verifikasi, dan penyuntingan yang berlapis-lapis sebelum sebuah tulisan naik cetak.

Di koran, kamu nggak bakal nemu judul clickbait yang menipu kayak "Artis Ini Menangis, Ternyata Ini Penyebabnya!". Koran cenderung menyajikan analisis mendalam. Mereka nggak cuma bilang "apa" yang terjadi, tapi "kenapa" itu bisa terjadi dan "bagaimana" dampaknya buat kita. Buat sebagian orang yang sudah lelah dengan bisingnya media sosial yang isinya debat kusir, kedalaman informasi di koran adalah sebuah kemewahan tersendiri.

Sensasi Taktil dan Digital Detox

Ada satu hal yang nggak bisa digantikan oleh layar AMOLED secanggih apa pun: sensasi meraba kertas. Ada kepuasan tersendiri saat kita membalik halaman koran, mendengar suara srek-srek yang khas, atau sekadar melipatnya jadi kecil biar enak dibaca sambil tiduran. Ini bukan cuma soal nostalgia, tapi soal kesehatan mental.

Kita sudah terpapar layar (screen time) mungkin lebih dari 10 jam sehari. Kerja di depan laptop, hiburan di HP, sampai pesan makanan pun lewat aplikasi. Membaca koran fisik bisa jadi salah satu bentuk digital detox yang paling sederhana. Mata kita istirahat dari paparan blue light, dan otak kita dipaksa untuk fokus pada satu hal tanpa gangguan notifikasi chat dari gebetan atau tagihan paylater yang muncul tiba-tiba. Membaca koran itu aktivitas yang linear, bukan melompat-lompat kayak kita buka tab di browser yang jumlahnya sampai puluhan itu.

Siapa Sih yang Masih Baca Koran?

Kalau kita perhatikan, loper koran sekarang jumlahnya makin sedikit. Pelanggannya pun makin spesifik. Biasanya mereka adalah para pembuat kebijakan, akademisi, pengusaha, atau orang-orang tua yang memang sudah menjadikan koran sebagai ritual wajib pagi hari. Tapi belakangan, ada tren unik di kalangan anak muda "aesthetic" yang mulai melirik koran lagi. Bukan cuma buat dibaca, tapi buat properti foto di kafe biar kelihatan intelektual atau gaya hidup slow living.

Ya, nggak salah juga sih. Tapi lebih dari itu, memiliki koran di meja tamu seolah memberikan pernyataan bahwa "saya adalah orang yang menghargai proses literasi". Koran jadi simbol prestise intelektual. Di kantor-kantor bonafide atau lobi hotel berbintang, koran fisik tetap disediakan. Kenapa? Karena koran masih dianggap sebagai sumber informasi yang paling punya otoritas dan bisa dipercaya (trusted source).

Jadi, Masih Worth It Nggak?

Jawaban jujurnya: Tergantung kamu tipe manusia yang mana. Kalau kamu adalah pemburu berita instan yang cuma pengen tahu "siapa pacar baru artis A", koran jelas nggak worth it buat kamu. Boros kertas dan buang-buang duit. Tapi kalau kamu adalah tipe orang yang suka menggali isu lebih dalam, pengen tahu kebijakan pemerintah dari berbagai sudut pandang, atau sekadar pengen punya waktu berkualitas tanpa gangguan gadget, koran masih sangat layak dikoleksi.

Memang, harganya sekarang lumayan mahal dan nyarinya pun susah. Langganan koran sekarang rasanya kayak investasi kecil buat kewarasan pikiran. Selain itu, koran bekasnya pun masih sangat fungsional—mulai dari buat bungkus paket, alas cat rumah, sampai buat ngeringin sepatu yang kehujanan. Multifungsi banget, kan?

Akhir kata, koran mungkin nggak akan lagi jadi media utama masyarakat luas. Dia akan bergeser menjadi produk "niche" atau hobi bagi kalangan tertentu. Tapi selama masih ada orang yang percaya bahwa kualitas tulisan lebih penting daripada sekadar jumlah klik, koran akan tetap bertahan, meski terseok-seok di tengah deru algoritma internet yang makin gila.

Jadi, besok pagi mau coba beli koran dan duduk tenang sebentar, atau lanjut scroll HP sampai jempol keriting?

Logo Radio
🔴 Radio Live