Kenapa Radang Tenggorokan Lebih Sering Menyerang Anak-Anak Daripada Orang Dewasa?
Nizar - Thursday, 16 April 2026 | 11:00 AM


Kenapa Dulu Kita Dikit-Dikit Radang, Tapi Pas Gede Malah Jarang?
Coba deh ingat-ingat lagi zaman SD dulu. Rasanya dalam setahun, absen sekolah gara-gara "radang tenggorokan" itu sudah jadi agenda rutin yang nggak bisa dihindari. Skenarionya selalu sama: bangun tidur tenggorokan terasa ganjel, buat nelan ludah sakitnya minta ampun, terus badan mulai sumeng. Ujung-ujungnya, drama periksa ke dokter, disenter mulutnya, dan dilarang minum es sama Ibu selama dua minggu. Sebuah penderitaan yang hakiki buat bocah yang lagi senang-senangnya jajan es cekek di depan gerbang sekolah.
Tapi anehnya, pas kita sudah masuk usia produktif kayak sekarang, penyakit radang itu kayak perlahan "pensiun" dari hidup kita. Padahal, kalau dipikir-pikir, pola hidup kita pas dewasa malah makin berantakan. Kita sering begadang, minum kopi bergelas-gelas, makan gorengan yang minyaknya sudah sehitam aspal, sampai kena polusi di jalanan setiap hari. Tapi kok tenggorokan kita malah lebih "badak" alias lebih kuat daripada waktu kecil? Apakah ini semacam kekuatan super yang muncul seiring bertambahnya usia, atau ada penjelasan medis di baliknya? Mari kita bedah pelan-pelan tanpa perlu kerutan di dahi.
Sistem Imun Kita Dulu Itu Masih 'Magang'
Penjelasan paling mendasar sebenarnya ada pada "jam terbang" sistem imun kita. Bayangkan sistem imun itu kayak pasukan keamanan di sebuah gedung. Waktu kita masih kecil, pasukan ini statusnya masih anak magang. Mereka belum punya database lengkap tentang siapa saja "penjahat" atau virus dan bakteri yang sering lewat. Jadi, setiap kali ada virus baru yang mampir lewat udara atau jajanan, sistem imun kita bakal bereaksi secara heboh alias lebay. Reaksi heboh inilah yang kita rasakan sebagai peradangan.
Waktu kita kecil, tubuh kita lagi dalam fase belajar mengenali lingkungan. Setiap kali kita sakit, tubuh sebenarnya lagi mencatat: "Oh, virus model begini namanya si A, cara ngelawannya begini." Nah, pas kita sudah dewasa, database di otak sistem imun kita sudah penuh. Begitu ada virus yang sama masuk, pasukan imun kita nggak kaget lagi. Mereka tinggal bilang, "Lah, lo lagi? Cabut sana!" tanpa perlu bikin drama peradangan yang hebat. Inilah kenapa orang dewasa cenderung lebih kebal terhadap penyakit-penyakit musiman yang dulu sering bikin kita tumbang pas kecil.
Amandel: Si Satpam Galak yang Mulai Lelah
Ngomongin radang tenggorokan nggak bakal lengkap kalau nggak bahas amandel atau tonsil. Pas kita kecil, amandel itu ukurannya relatif besar dan sangat aktif. Dia fungsinya kayak filter atau satpam di garda terdepan saluran pernapasan dan pencernaan. Karena anak kecil sering masukin tangan ke mulut atau makan sembarangan, amandel ini kerja keras bagai kuda untuk menjerat kuman.
Masalahnya, karena terlalu aktif, amandel sering banget mengalami pembengkakan kalau kumannya kebanyakan. Itulah yang bikin tenggorokan kerasa penuh dan sakit buat nelan. Nah, uniknya, seiring kita beranjak dewasa, amandel ini secara alami bakal menyusut atau mengecil. Fungsinya mulai digantikan oleh sistem imun lain yang lebih canggih. Karena "satpam" di tenggorokan ini sudah nggak seagresif dulu, gejala peradangan hebat yang sering kita alami pas kecil pun jadi berkurang drastis.
Faktor Kebersihan: Dari Brutal ke Agak Waras
Jujur saja, waktu kecil kita itu makhluk yang cukup "brutal" soal kebersihan. Kita bisa main kelereng di tanah, tangan penuh debu, terus tanpa cuci tangan langsung nyomot gorengan atau minum es barengan sama teman pakai satu sedotan yang sama. Istilahnya, sharing is caring, tapi yang dibagi adalah kuman. Interaksi yang sangat intens dengan kuman di lingkungan ini jelas bikin risiko radang jadi berkali-kali lipat lebih tinggi.
Pas sudah dewasa, minimal kita sudah punya kesadaran sosial buat nggak minum di gelas yang sama dengan orang asing, atau minimal tahu kalau tangan kotor itu harus dicuci sebelum makan. Meskipun kita mungkin masih jajan sembarangan, setidaknya standar kebersihan kita nggak separah pas zaman SD yang hobi menjilat stik es krim sisa teman. Perubahan perilaku ini, sekecil apa pun, punya peran besar kenapa kita nggak gampang "kena mental" tenggorokannya sekarang.
Ganti Masalah: Dari Radang ke Penyakit Orang Tua
Tapi jangan senang dulu. Mentang-mentang sudah jarang radang tenggorokan, bukan berarti kita jadi manusia abadi yang nggak bisa sakit. Alam semesta itu adil, atau mungkin agak sarkastik. Begitu kita lolos dari kutukan radang tenggorokan masa kecil, kita malah disambut oleh masalah kesehatan baru yang lebih "estetik" buat orang dewasa.
Sekarang, kalau tenggorokan kita sakit, seringnya bukan karena infeksi bakteri kayak dulu lagi, tapi gara-gara asam lambung naik alias GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Kebiasaan kita yang habis makan langsung rebahan atau hobi makan pedas sebelum tidur bikin asam lambung naik ke kerongkongan dan bikin iritasi. Rasanya mirip radang, tapi penyebabnya beda total. Belum lagi urusan encok, pegal linu, dan pusing mikirin cicilan. Jadi ya, kita memang sudah jarang absen kantor gara-gara amandel bengkak, tapi kita malah lebih sering langganan tukang urut.
Kesimpulannya, jarang sakit radang pas sudah gede itu adalah salah satu "hadiah" dari proses pendewasaan tubuh kita. Tubuh kita sudah jauh lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih tahu cara menangani gangguan luar. Nikmatin saja fase "tenggorokan badak" ini, tapi tetap ingat kalau tubuh kita juga punya batasan. Jangan mentang-mentang nggak gampang radang, terus tiap hari minum es sirup pakai air mentah juga. Sehat-sehat ya, jangan lupa tetap jaga pola makan, biar yang dibanggakan bukan cuma masa lalu yang jarang sakit, tapi masa tua yang tetap bugar.
Next News

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
in 3 hours

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
2 hours ago

Lebih dari Sekadar "Jamet": Membedah Filosofi di Balik Gaya Rambut Sasuke dan Subkultur Emo
2 days ago

Jangan Kaget Dulu! Membedah Kenapa "Jancok" Jadi Bahasa Cinta Arek Suroboyo
2 days ago

Tren Jorts dan Baggy Jeans 2026: Alasan Mengapa Celana Lebar Lebih Disukai daripada Skinny Jeans
3 days ago

Emang Masih Jaman Baca Koran? Alasan Koran Masih Tetap Layak Untuk Dibeli di Era Digital
3 days ago

Bukan Sekadar Mendayu, Ini Alasan Politis di Balik Vibe Melayu pada Lagu Nasional Indonesia
6 days ago

Bukan Sekadar Lomba 17-an, Egrang adalah "Life Lesson" Tentang Keseimbangan dan Ego
6 days ago

Sebenernya Kita Ini Siapa? Menelusuri Jejak "Kesaktian" Orang Indonesia yang Unik
6 days ago

Solusi "Punggung Jompo"! 5 Wedang Tradisional Ini Siap Jadi Penyelamat Saat Badan Mulai Pegal
7 days ago






