Astronot di Masa Kecil, Budak Corporate di Masa Depan: Ke Mana Larinya Ambisi Kita?
Nizar - Monday, 20 April 2026 | 02:10 PM


Dulu Ingin Jadi Astronot, Sekarang Cuma Ingin Hari Senin Cepat Berlalu: Kenapa Cita-Cita Masa Kecil Kita Kandas?
Coba ingat-ingat lagi momen waktu kamu masih duduk di bangku TK atau SD. Waktu itu, kalau ada guru atau om-tante yang tanya, "Kalau sudah besar mau jadi apa?", jawaban kita biasanya meluncur deras tanpa beban. Ada yang teriak ingin jadi astronot, dokter bedah, pilot, pemain bola di Real Madrid, atau bahkan yang agak nyeleneh seperti ingin jadi Power Rangers merah. Intinya, dunia terasa kayak prasmanan; kita bisa ambil apa saja yang kita mau tanpa perlu mikir harga atau kalorinya.
Tapi, begitu kita benar-benar sampai di usia "dewasa" ini, cita-cita itu seolah menguap begitu saja. Alih-alih meluncur ke bulan, banyak dari kita yang justru terjebak di kemacetan jam 8 pagi, berhadapan dengan layar Excel yang nggak habis-habis, atau pusing mikirin cicilan motor yang jatuh tempo. Jangankan jadi astronot, bisa bangun pagi tanpa merasa ingin resign saja sudah sebuah pencapaian luar biasa. Lantas, ke mana perginya ambisi-ambisi megah masa kecil itu? Kenapa kita nggak pernah mempertimbangkannya lagi saat sudah punya kuasa atas hidup sendiri?
Imajinasi Tanpa Batas vs. Logika Tagihan
Alasan paling mendasar adalah soal kognisi. Waktu kecil, otak kita itu ibarat kertas kosong yang belum pernah kena tumpahan kopi realitas. Kita nggak tahu kalau jadi astronot itu butuh fisik yang prima dan otak yang encer di bidang fisika kuantum. Kita cuma tahu kalau pakai helm kaca dan melayang di luar angkasa itu keren banget. Anak-anak melihat profesi dari aspek "visual" dan "heroik"-nya saja.
Begitu dewasa, cara pandang kita bergeser dari "apa yang keren" menjadi "apa yang masuk akal". Kita mulai mengenal konsep biaya hidup, pajak, dan fakta pahit bahwa bakat menggambar kita ternyata cuma mentok di level corat-coret buku catatan rapat. Logika pragmatis ini perlahan membunuh imajinasi. Kita mulai menghitung-hitung: kalau gue nekat jadi pelukis, bulan depan makan apa? Akhirnya, cita-cita jadi pelukis diganti dengan jadi Graphic Designer di agensi, yang penting masih ada hubungannya dengan gambar tapi gajinya lebih pasti.
Tekanan "Jalan Aman" dari Lingkungan
Jangan lupakan faktor eksternal yang namanya lingkungan sosial. Di Indonesia, ada semacam standar emas yang nggak tertulis tentang kesuksesan. Orang tua kita, dengan segala niat baiknya, sering kali menyuntikkan narasi "jalan aman". Pasti banyak dari kalian yang pernah mendengar kalimat semacam, "Nak, jadi PNS saja biar masa tuanya tenang," atau "Ambil jurusan hukum biar gampang cari kerja."
Narasi-narasi ini secara tidak sadar masuk ke alam bawah sadar kita. Cita-cita masa kecil yang dianggap "nggak menghasilkan uang" atau "terlalu berisiko" perlahan dikubur dalam-dalam. Kita mulai merasa malu kalau masih memimpikan hal-hal yang dianggap kekanak-kanakan. Kita dipaksa untuk "dewasa" sebelum waktunya dalam urusan memilih karier, hingga akhirnya kita memilih jalan yang paling sedikit hambatan dan paling banyak restu keluarga.
Realitas di Balik Layar yang Ternyata Membosankan
Kadang, alasan kita nggak mengejar cita-cita lama adalah karena kita sudah tahu "dapur"-nya. Waktu kecil, kita ingin jadi dokter karena kelihatannya hebat bisa menyembuhkan orang. Tapi setelah besar dan melihat kenyataan bahwa sekolah kedokteran itu lamanya minta ampun, biayanya mahal, dan jam kerjanya bisa bikin kurang tidur kronis, kita jadi mikir dua kali.
Begitu juga dengan cita-cita jadi pilot atau polisi. Setelah kita tahu ada tanggung jawab besar, risiko nyawa, dan birokrasi yang rumit di dalamnya, rasa magis dari profesi itu perlahan luntur. Kita menyadari bahwa setiap pekerjaan punya sisi gelap dan sisi membosankannya masing-masing. Alhasil, kita lebih memilih pekerjaan yang "biasa saja" asalkan beban mentalnya masih sanggup kita pikul sambil tetap bisa nonton Netflix di akhir pekan.
Evolusi Diri dan Pergeseran Prioritas
Hal yang paling manusiawi adalah fakta bahwa kita terus berubah. Manusia di usia 7 tahun dan manusia di usia 27 tahun adalah dua individu yang berbeda secara psikologis. Selera kita berubah, ketertarikan kita bergeser. Mungkin dulu kamu sangat suka main bola, tapi sekarang kamu lebih menikmati duduk tenang sambil merakit keyboard mechanical atau belajar investasi saham.
Nggak ada yang salah dengan tidak lagi mempertimbangkan cita-cita masa kecil. Itu bukan berarti kamu gagal atau menyerah pada keadaan. Itu artinya kamu sedang beradaptasi. Kita mulai sadar bahwa kebahagiaan nggak melulu soal jabatan mentereng yang kita impikan dulu. Kadang, kebahagiaan itu sesederhana punya pekerjaan yang nggak bikin stres, rekan kerja yang asyik, dan waktu yang cukup untuk main sama kucing di rumah.
Menghidupkan Kembali "Semangat"-nya, Bukan "Judul"-nya
Walaupun kita nggak benar-benar jadi astronot atau pemain bola profesional, bukan berarti cita-cita itu harus mati total. Kita bisa mengambil "esensi" dari apa yang kita sukai dulu. Kalau dulu ingin jadi astronot karena rasa ingin tahu yang besar tentang alam semesta, mungkin sekarang kamu bisa memuaskannya dengan menjadi peneliti atau jurnalis sains.
Kalau dulu ingin jadi pemain bola karena suka kerja sama tim, mungkin kamu bisa jadi manajer proyek yang handal di kantor. Cita-cita masa kecil sebenarnya adalah petunjuk tentang apa yang membuat jiwa kita "hidup". Kita nggak perlu mengejar judul profesinya secara harafiah, tapi kita bisa membawa semangat masa kecil itu ke dalam realitas dewasa yang kadang terasa hambar ini.
Jadi, jangan merasa sedih kalau hari ini kamu cuma jadi "karyawan biasa" padahal dulu pengen jadi superhero. Dunia butuh orang yang menjalankan operasional harian sama besarnya dengan kebutuhan dunia akan petualang. Yang penting, jangan sampai rutinitas membuatmu lupa cara bermimpi, meski mimpi itu sekarang bentuknya cuma liburan ke Bali akhir tahun nanti.
Next News

Lazarus Effect: Ketika Kehidupan "Kembali" Setelah Kematian Klinis
in 7 hours

Breadcrumbing, tapi versi karier: dikasih harapan kerja tapi nggak jelas arahnya
2 days ago

Konsistensi vs viral: cara Gen Z melihat kesuksesan
3 days ago

Burnout bukan cuma kerja: capek karena dunia terasa nggak stabil
3 days ago

Seberapa Kuat Zeus? Mengupas Power Scaling dan Titik Lemah Sang Bapak Petir
in 5 hours

Lawan Predator Kampus: Kenali Red Flags dan Jurus Jitu Ciptakan Ruang Aman
in 4 hours

Bosan Main Monopoli yang Itu-itu Aja? Cobain 6 Edisi Unik Ini Biar Nongkrong Gak Garing
4 days ago

Gak Perlu Malu Lagi! Cara Tenxi Mengubah Dangdut Jadi "Swag" dan Mendunia
4 days ago

Warna Pink dalam Perspektif Sejarah: Dari Simbol Maskulinitas hingga Identitas Feminitas
5 days ago

Mengapa Sebagian Orang Justru Mengantuk Setelah Minum Kopi?
5 days ago




