Ceritra
Ceritra Update

Burnout bukan cuma kerja: capek karena dunia terasa nggak stabil

Elsa - Friday, 17 April 2026 | 02:00 PM

Background
Burnout bukan cuma kerja: capek karena dunia terasa nggak stabil
Ilustrasi Burnout (Pinterest/)

Burnout Bukan Cuma Soal Kerja: Ketika Dunia Terasa Terlalu Berisik dan Nggak Stabil

Pernah nggak sih lo bangun tidur, matahari baru aja nongol, tapi rasanya badan udah kayak habis narik truk tronton dari Jakarta ke Surabaya? Padahal semalam tidur cukup, kerjaan juga lagi nggak numpuk-numpuk amat, dan bos lo lagi nggak dalam mode "reog". Tapi di dalam kepala, rasanya ada mendung tebal yang bikin lo pengen narik selimut lagi dan menghilang dari peradaban selama satu dekade.

Kalau lo pernah ngerasain ini, selamat, lo nggak sendirian. Selama ini kita didoktrin kalau yang namanya burnout itu cuma milik mereka yang kerja 14 jam sehari atau para budak korporat yang dikejar-kejar target KPI. Padahal, kenyataannya nggak sesimpel itu. Ada jenis lelah yang lebih dalam, lebih "ngoyo", dan lebih susah diobati cuma pakai cuti dua hari atau sekadar staycation di hotel bintang empat. Namanya adalah lelah eksistensial karena dunia yang kita tinggali sekarang rasanya makin nggak masuk akal.

Dunia yang Lagi "Nggak Lucu"

Coba deh perhatiin. Baru aja kita napas lega habis pandemi yang bikin stres itu mereda, eh tiba-tiba dunia disuguhin sama inflasi yang gila-gilaan. Harga beras naik, bensin naik, tapi gaji ya segitu-gitu aja. Belum lagi kalau kita buka media sosial. Isinya kalau bukan berita perang di belahan dunia lain, ya berita tentang perubahan iklim yang bikin cuaca Jakarta jadi nggak jelas—pagi panas membara, sorenya hujan badai kayak mau kiamat.

Ketidakpastian global ini pelan-pelan menggerogoti kesehatan mental kita tanpa kita sadari. Kita dipaksa buat tetap produktif di tengah dunia yang lagi "sakit". Istilah kerennya, kita lagi ngalamin existential burnout. Kita capek bukan karena apa yang kita kerjain, tapi capek karena ngerasa nggak punya kendali atas masa depan. Rasanya kayak lagi naik komidi putar yang bautnya udah mau lepas: lo pusing, pengen turun, tapi mesinnya nggak berhenti-berhenti.

Doomscrolling: Racun Digital yang Kita Telan Tiap Hari

Salah satu biang kerok kenapa dunia kerasa makin nggak stabil adalah benda kecil yang ada di genggaman lo sekarang: smartphone. Kita terjebak dalam lingkaran setan yang namanya doomscrolling. Itu lho, kebiasaan scroll berita buruk berjam-jam sampai jempol kapalan, padahal kita tahu berita itu cuma bakal bikin kita makin cemas.

Bayangin, otak manusia itu secara evolusi nggak didesain buat nerima informasi bencana dari seluruh penjuru dunia dalam waktu bersamaan. Dulu, kakek-nenek kita mungkin cuma pusing kalau gagal panen atau ada maling di kampung sebelah. Sekarang? Kita ikut stres mikirin krisis ekonomi di Amerika, perang di Timur Tengah, sampai gosip artis yang sebenarnya nggak ada pengaruhnya sama cicilan motor kita. Kapasitas empati dan pikiran kita itu ada batasnya, kawan. Kalau tiap hari dikasih makan berita negatif, ya wajar kalau mesin di kepala kita jadi overheat.

Kenapa "Healing" Aja Nggak Cukup?

Banyak orang bilang, "Ah, lo cuma kurang healing." Masalahnya, istilah healing sekarang udah bergeser maknanya jadi sekadar konsumerisme. Pergi ke Bali, nongkrong di kafe estetik, atau belanja barang-barang yang nggak perlu. Tapi setelah semua itu selesai dan lo balik ke realitas, rasa capeknya datang lagi. Kenapa? Karena akar masalahnya bukan di kurangnya hiburan, tapi di rasa aman yang hilang.

Burnout karena dunia yang nggak stabil ini sifatnya sistemik. Lo nggak bisa menyembuhkan luka akibat sistem yang rusak cuma dengan beli kopi susu literan. Ada perasaan bersalah yang aneh juga: "Gue kok ngerasa sedih ya, padahal di luar sana ada yang lebih menderita." Nah, perasaan kayak gini nih yang bikin lelahnya makin berlipat ganda. Kita jadi capek karena ngerasa harus selalu peduli pada segalanya, tapi di saat yang sama kita ngerasa nggak berdaya buat ngubah apa pun.

Menemukan Cara buat "Napas" di Tengah Kekacauan

Terus kita harus gimana? Apa kita harus jadi pertapa di gunung biar nggak kena paparan dunia yang toxic ini? Ya nggak juga, sih. Boro-boro mau jadi pertapa, bayar tagihan listrik aja masih butuh koneksi internet. Tapi, ada beberapa hal yang bisa kita lakuin biar nggak benar-benar "padam".

Pertama, sadari kalau nggak apa-apa buat nggak tahu segalanya. Lo nggak harus punya opini tentang setiap isu yang lagi viral. Kadang, menutup mata sebentar dari hiruk-pikuk media sosial itu bukan bentuk ketidakpedulian, tapi bentuk pertahanan diri. Batasi waktu konsumsi berita. Kalau dunia lagi kerasa berisik banget, mending lo baca buku fiksi atau nonton kartun yang nggak perlu mikir keras.

Kedua, fokus ke hal-hal kecil yang bisa lo kendalikan. Dunia boleh aja nggak stabil, tapi lo masih bisa ngatur jam tidur lo, milih makanan yang bikin badan enak, atau sekadar nyiram tanaman di depan rumah. Hal-hal sepele ini ngasih sinyal ke otak kalau lo masih punya kendali atas hidup lo sendiri. Ini penting banget buat ngeredam rasa cemas yang meluap-luap.

Kesimpulan: Pelan-pelan Saja

Burnout karena dunia yang nggak stabil itu valid. Jangan pernah ngerasa lebay kalau lo ngerasa capek padahal menurut lo kerjaan lo biasa-biasa aja. Dunia memang lagi nggak baik-baik saja, dan wajar kalau kita ikut ngerasa kena imbasnya. Kita ini manusia, bukan robot yang bisa di-upgrade RAM-nya setiap kali beban informasi bertambah.

Jadi, kalau hari ini lo ngerasa dunia terlalu berat, nggak apa-apa buat pelan-pelan dulu. Tarik napas, matiin notifikasi, dan ingat kalau lo nggak harus memikul beban dunia di pundak lo sendirian. Kadang, bertahan hidup di tengah dunia yang lagi kacau begini udah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Semangat, ya! Kita semua lagi sama-sama berjuang kok.

Logo Radio
🔴 Radio Live