Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Mengapa Kamu Harus Selalu Bawa Tas Belanja Sendiri

Shannon - Tuesday, 23 June 2026 | 03:00 PM

Background
Alasan Mengapa Kamu Harus Selalu Bawa Tas Belanja Sendiri
(Magnific/Freepik)

Dilema Kresek vs Tas Reusable: Solusi Lingkungan atau Cuma Pindah Masalah?

Bayangkan situasinya seperti ini: Kamu lagi buru-buru, haus bukan main karena cuaca Jakarta lagi lucu-lucunya alias panas minta ampun. Kamu masuk ke minimarket terdekat, ambil sebotol air mineral dingin, lalu jalan ke kasir dengan penuh harapan. Pas mau bayar, mbak kasirnya nanya dengan nada datar yang sudah terlatih ribuan kali, "Mau pakai tas belanjanya, Kak? Lima ribu rupiah."

Di situlah momen "deg-degan" itu muncul. Kamu lupa bawa tas belanja sendiri dari rumah. Dompet lagi tipis, tapi kalau nggak pakai tas, botol air mineral itu harus kamu tenteng-tenteng kayak orang lagi bawa barang bukti curian. Akhirnya, dengan berat hati, kamu mengangguk. "Ya udah mbak, satu." Dan selamat! Kamu baru saja menambah koleksi tas spunbond (tas kain tipis itu) yang ke-27 di rumahmu.

Pertanyaannya sekarang: Apakah penghentian kantong kresek dan penggantiannya ke tas reusable di minimarket ini beneran efisien? Atau jangan-jangan, kita cuma lagi memindahkan masalah dari sampah plastik ke gunung sampah kain sintetis?

Gunung Spunbond di Balik Pintu Dapur

Dulu, masalah kita adalah plastik sekali pakai yang berceceran di selokan dan bikin banjir. Oke, itu valid. Plastik kresek butuh waktu ratusan tahun buat terurai. Tapi coba kita jujur-jujuran, deh. Sejak kebijakan "No Plastic Bag" ini digencarkan di berbagai kota besar di Indonesia, berapa banyak tas belanja yang akhirnya berakhir cuma numpuk di balik pintu dapur atau di bawah jok motor?

Tas reusable yang dijual di kasir minimarket biasanya berbahan spunbond (polypropylene). Ironisnya, bahan ini sebenarnya juga turunan plastik. Bedanya, dia lebih tebal dan bisa dipakai berkali-kali. Masalahnya, sifat manusia itu sering lupa (atau malas). Kita sering lupa bawa tas itu saat belanja spontan. Akhirnya, setiap kali ke minimarket, kita beli tas baru. Alih-alih mengurangi limbah, kita malah mengoleksi "limbah premium" yang proses produksinya justru memakan lebih banyak energi dan air dibanding kantong plastik biasa.

Menurut beberapa riset lingkungan, sebuah tas kain atau spunbond harus dipakai minimal 50 sampai 100 kali supaya jejak karbonnya bisa setara dengan satu kantong plastik tipis. Kalau kamu beli tas itu hari ini dan besok sudah hilang atau cuma jadi wadah mukena di gudang, efisiensi lingkungannya jelas jadi nol besar. Malah minus.

Efisien buat Siapa?

Kalau kita bicara efisiensi dari sisi operasional minimarket, kebijakan ini adalah sebuah win-win solution buat pengusaha. Bayangkan, dulu mereka harus menyediakan ribuan kantong kresek secara gratis (atau berbayar sangat murah). Sekarang? Mereka nggak perlu keluar modal buat kresek, malah dapat cuan dari jualan tas reusable yang harganya bisa berkali-kali lipat dari modal produksinya.

Bagi konsumen, ini jelas "pajak lingkungan" yang kadang terasa tidak adil. Kita dituntut peduli lingkungan, tapi beban biayanya dilemparkan sepenuhnya ke pundak pembeli. Padahal, kalau kita lihat ke dalam keranjang belanjaan kita, hampir semua barang yang kita beli—mulai dari bungkus mi instan, botol sabun, sampai bungkus ciki—semuanya masih pakai plastik sekali pakai. Rasanya kayak kita disuruh memadamkan api kebakaran hutan pakai segelas air, sementara di belakang kita ada orang yang tetap nyiram bensin lewat produk-produk yang mereka jual.

Ironi di Balik Kasir

Ada satu hal yang sering bikin saya senyum kecut pas belanja. Kita nggak boleh pakai kantong plastik buat bawa barang belanjaan, tapi barang yang kita beli itu dibungkus plastik berlapis-lapis. Misalnya, kamu beli buah potong yang wadahnya plastik, dibungkus lagi pakai plastik wrap, lalu kamu bawa pakai tas kain. Lah?

Belum lagi kalau bicara soal layanan belanja online atau ojek online. Kalau kita pesan makanan lewat aplikasi, plastiknya malah lebih bar-bar lagi. Ada kantong plastiknya, ada kabel ties-nya, belum lagi sedotan dan alat makan plastik yang tetap dikasih meskipun kita sudah centang "jangan kasih alat makan". Jadi, apakah minimarket cuma jadi sasaran empuk biar kelihatan "hijau" di permukaan saja?

Habit yang Belum Matang

Perubahan gaya hidup itu butuh waktu, nggak bisa cuma lewat kebijakan "pokoknya nggak ada plastik". Efisiensi kebijakan ini sebenarnya sangat bergantung pada perilaku kita sebagai konsumen. Kalau kita sudah sampai di tahap "nggak bawa tas sendiri = nggak belanja", nah itu baru efisien.

Tapi kenyataannya, banyak dari kita yang masih dalam tahap "terpaksa beli tas". Solusinya mungkin bukan cuma melarang, tapi memfasilitasi. Kenapa minimarket nggak bikin sistem deposit tas? Misalnya, kita pinjam tas kain dengan jaminan 5 ribu, terus kalau tasnya dibalikin pas belanja berikutnya, uangnya balik. Itu jauh lebih fair dan mengedukasi daripada terus-menerus memproduksi tas baru yang ujung-ujungnya jadi sampah juga.

Jadi, Apakah Efisien?

Secara narasi besar untuk mengurangi plastik di lautan, kebijakan ini punya niat yang mulia banget. Kita memang harus mulai dari suatu tempat, dan minimarket adalah tempat paling gampang buat mulai mengubah kebiasaan masyarakat. Tapi kalau dibilang sudah efisien secara total, jawabannya: belum tentu.

Selama produksi tas "reusable" masih terus digenjot dan kita masih hobi mengoleksinya tanpa benar-benar memakainya berkali-kali, kebijakan ini cuma ganti baju saja. Masalah plastiknya tetap ada, cuma bentuknya sekarang jadi lebih tebal dan berwarna-warni.

Kesimpulannya, kebijakan ini bakal beneran efisien kalau kita sudah nggak lagi menyebutnya sebagai "tas belanja", tapi sebagai "barang wajib" yang ada di tas atau motor kita, sama wajibnya kayak bawa HP atau dompet. Kalau belum sampai sana, ya siap-siap saja dapur kita makin penuh sama koleksi tas spunbond yang entah kapan bakal terpakai lagi. Lingkungan memang butuh aksi nyata, bukan cuma sekadar ganti struk belanja.

Logo Radio
🔴 Radio Live