Alasan Keyboard Tidak Pakai Urutan Abjad yang Bikin Penasaran
Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 06:15 AM


Misteri QWERTY: Kenapa Kita Betah Pakai Desain yang Sebenarnya Bikin Ribet?
Pernah nggak sih kamu lagi asyik ngetik chat panjang lebar di HP, terus tiba-tiba jempol kamu typo parah cuma gara-gara letak huruf A sama S yang dempetan? Atau pas lagi ngerjain tugas kuliah, kamu mikir: "Kenapa sih susunan huruf di keyboard ini nggak urut abjad aja dari A sampai Z? Kan lebih gampang dihafal."
Lucunya, susunan QWERTY yang sekarang kita pakai di laptop, HP, sampai tablet mahal sekalipun, sebenarnya adalah sebuah produk "kegagalan" masa lalu yang justru sengaja dibuat untuk menghambat kita. Iya, kamu nggak salah baca. Desain ini lahir bukan untuk bikin kita makin ngebut ngetik, tapi justru biar kita ngetiknya agak pelan-pelan sedikit. Mari kita bedah sejarahnya sambil ngopi tipis-tipis.
Zaman Dulu, Ngetik Terlalu Cepat Itu Musibah
Semua ini bermula di tahun 1860-an. Ada seorang pria bernama Christopher Latham Sholes. Dia adalah sosok di balik mesin tik mekanik pertama yang praktis. Awalnya, Sholes ini anak baik-baik. Dia bikin keyboard dengan susunan huruf sesuai abjad. Tapi, masalah muncul saat mesin itu dipakai buat ngetik cepat.
Bayangin mesin tik zaman dulu itu kayak piano besi raksasa. Di dalamnya ada tuas-tuas mekanik (disebut typebars) yang bakal loncat buat memukul pita tinta ke kertas setiap kali kamu tekan tombol. Masalahnya, kalau ada dua huruf yang letaknya berdekatan ditekan secara bergantian dengan sangat cepat, tuas-tuas itu bakal tabrakan di tengah jalan dan macet alias jammed.
Kalau sudah macet, penulis harus berhenti, bongkar tuasnya manual, dan itu ngerusak flow kerja banget. Ibarat lagi asyik nge-drift, tiba-tiba rem tangan ketarik sendiri. Sholes pusing tujuh keliling. Akhirnya, dia punya ide yang agak nyeleneh: gimana kalau huruf-huruf yang paling sering muncul berpasangan dalam bahasa Inggris (kayak T-H, S-T, atau E-R) diletakkan berjauhan satu sama lain?
Tujuannya jelas: supaya tuas-tuas itu nggak tabrakan karena jeda waktu antara satu ketukan ke ketukan lainnya jadi lebih lama. Jadilah susunan QWERTY ini. Jadi, QWERTY itu sebenarnya adalah "jebakan batman" supaya jari-jari manusia zaman dulu nggak balapan sama kemampuan mekanik mesinnya.
Remington dan Efek "Keterlanjuran"
Setelah Sholes menyempurnakan susunan ini, dia menjual patennya ke perusahaan senjata legendaris, E. Remington and Sons, pada tahun 1873. Remington kemudian memproduksi mesin tik secara massal. Nah, di sinilah letak poin pentingnya: Remington nggak cuma jualan mesin, mereka juga jualan kursus mengetik.
Karena orang-orang sudah terlanjur belajar ngetik pakai metode "sepuluh jari" dengan susunan QWERTY, mereka jadi malas kalau harus belajar lagi dari nol. Padahal, setelah teknologi mesin tik makin canggih dan nggak gampang macet lagi, sebenarnya alasan "biar nggak tabrakan" itu sudah nggak relevan. Tapi ya itu tadi, yang namanya kebiasaan emang lebih susah diubah daripada move on dari mantan.
Sempat muncul penantang kuat bernama August Dvorak di tahun 1930-an. Dia bikin susunan keyboard yang jauh lebih ergonomis, di mana huruf vokal ditaruh di baris tengah biar tangan nggak capek loncat sana-sini. Secara teori, pakai Dvorak Keyboard itu bisa bikin ngetik jauh lebih efisien. Tapi apa daya, dunia sudah terlanjur "nyaman" dengan QWERTY. Pabrik-pabrik sudah terlanjur cetak jutaan tombol QWERTY, dan sekolah-sekolah sudah terlanjur ngajarin QWERTY. Akhirnya, inovasi Dvorak cuma jadi catatan kaki di buku sejarah.
Terjebak di Era Layar Sentuh
Lompat ke abad ke-21, kita sekarang hidup di zaman yang serba digital. Kita nggak lagi pakai tuas besi yang bisa tabrakan. Kita ngetik di atas layar kaca yang licin. Secara logika, kita bebas dong mau pakai susunan huruf apa aja? Bahkan kita bisa bikin layout keyboard berbentuk lingkaran kalau mau.
Tapi coba lihat HP kamu sekarang. Tetap QWERTY, kan? Ini yang dalam ilmu ekonomi disebut sebagai path dependence. Sebuah kondisi di mana kita terus memakai sesuatu yang sebenarnya sudah nggak efisien, cuma karena "dari dulunya memang sudah begini".
Kita ini sebenarnya adalah korban warisan teknologi abad ke-19. Kita masih ngetik pakai aturan yang dibuat untuk mencegah besi macet, padahal alat yang kita pakai sekarang nggak punya komponen bergerak sama sekali. Ironis banget, kan? Desain yang dulunya dibuat untuk memperlambat, sekarang malah jadi standar kecepatan dunia modern.
Kesimpulan: Legacy yang Mengalahkan Logika
Sejarah QWERTY ngajarin kita satu hal penting tentang psikologi manusia: kita lebih milih sesuatu yang familiar daripada sesuatu yang sempurna. Kita lebih milih ribet dikit tapi sudah biasa, daripada harus belajar ulang demi sesuatu yang lebih baik. QWERTY sudah jadi bahasa universal jari-jari kita.
Mungkin di masa depan, ketika kita ngetik cuma pakai pikiran atau pakai gerakan mata, QWERTY bakal benar-benar pensiun. Tapi selama kita masih pakai jari untuk menyampaikan pesan, kayaknya susunan huruf acak-acakan ini bakal tetap setia menemani. Jadi, kalau nanti kamu typo lagi pas ngetik "Sayang" jadi "Sayamg", jangan salahin jari kamu sepenuhnya. Salahin aja Christopher Sholes dan tuas mesin tiknya yang gampang macet itu.
Yah, setidaknya sekarang kamu punya bahan obrolan keren pas lagi nongkrong di cafe. Sambil nunggu pesanan kopi, kamu bisa pamer tipis-tipis ke temanmu: "Eh, tau nggak kenapa keyboard kita QWERTY? Itu tuh sebenarnya desain gagal buat bikin kita ngetik lambat..." Lumayan, kan, biar kelihatan kayak anak skena yang melek sejarah.
Next News

Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?
in 6 hours

Kenapa Bus Sekolah Warna Kuning? Bukan Sekadar Estetika!
in 5 hours

Kenapa Nggak Biru atau Ungu? Rahasia Warna Lampu Lalu Lintas
in 4 hours

Arti Warna Paspor: Dari Alasan Geopolitik hingga Standar Global
in 3 hours

Arti di Balik Tradisi Cheers yang Sering Kamu Lakukan
in 2 hours

Panduan Bijak Beli Takjil Agar Dompet Tidak Menangis
in 5 hours

Alasan Mona Lisa Tak Sebesar Bayanganmu dan Karya Lain yang Terabaikan
in an hour

Asal-usul Kata Halo: Sapaan Telepon yang Mendunia
in 25 minutes

Suka Bau Tanah Saat Hujan Itu Namanya Petrichor
5 minutes ago

Misteri Menguap Berjamaah: Mengapa Kita Saling Menulari?
35 minutes ago






