Akhir Tahun dan Perasaan "Belum Menjadi Apa-apa"
Nisrina - Tuesday, 23 December 2025 | 02:43 PM


Desember selalu datang dengan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, ia hadir sebagai bulan perayaan yang penuh lampu warna-warni dan keriuhan menyambut pergantian kalender. Namun di sisi lain, ia sering kali datang membawa tamu tak diundang bernama kecemasan. Di saat lini masa media sosial penuh dengan orang-orang yang memamerkan kilas balik pencapaian mereka selama setahun, ada sebagian dari kita yang justru terdiam di pojok kamar. Kita menatap layar ponsel dengan hati yang mencelos sambil membatin pelan bahwa tahun sudah berganti lagi namun kita merasa belum menjadi apa-apa.
Perasaan tertinggal ini adalah hantu yang paling sering gentayangan di penghujung tahun. Kita melihat teman sebaya yang baru saja mendapat promosi jabatan, teman sekolah yang melangsungkan pernikahan mewah, atau kenalan yang berhasil membeli rumah pertama mereka. Sementara saat berkaca, kita merasa masih berkutat dengan masalah yang sama, saldo tabungan yang segitu-gitu saja, atau impian yang masih menggantung jauh di awang-awang. Rasanya seolah-olah kita adalah penonton yang duduk diam di tribun sementara seluruh dunia sedang berlari kencang di lintasan lari.
Namun sebelum Anda membiarkan rasa rendah diri itu merusak sisa hari di tahun ini, mari kita coba duduk sejenak dan menata ulang definisi kesuksesan yang ada di kepala.
Sering kali kita terjebak pada definisi "menjadi orang" yang sangat sempit dan materialistis. Kita mengukur kemajuan hidup hanya dari apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang seperti jabatan, harta benda, atau status hubungan. Kita lupa menghitung kemenangan-kemenangan kecil yang tidak kasat mata namun sangat fundamental.
Bertahan hidup melewati 365 hari yang penuh ketidakpastian adalah sebuah prestasi tersendiri yang patut dirayakan. Mungkin tahun ini karier Anda belum melesat seperti roket, tetapi mental Anda sudah jauh lebih baja dibandingkan tahun lalu. Mungkin Anda belum bisa keliling dunia, tetapi Anda berhasil bangkit dari patah hati atau kegagalan yang nyaris membuat Anda menyerah. Kedewasaan emosional, kemampuan mengelola stres, dan kelembutan hati untuk tetap berbuat baik di tengah hari yang buruk adalah bentuk "menjadi sesuatu" yang jauh lebih mahal harganya.
Hidup bukanlah sebuah perlombaan lari cepat dengan satu garis finis yang sama untuk semua orang. Hidup lebih mirip seperti menanam tanaman di sebuah kebun raya yang luas. Ada bunga yang mekar di pagi hari dan ada pula yang baru memancarkan wanginya saat malam tiba. Ada pohon toge yang tumbuh tinggi dalam hitungan hari dan ada pohon jati yang butuh puluhan tahun untuk menjadi kokoh.
Fase yang Anda rasa sebagai kemandekan atau jalan di tempat ini bisa jadi adalah fase penguatan akar. Layaknya pohon bambu yang tidak menunjukkan pertumbuhan batang selama bertahun-tahun awal karena sibuk membangun fondasi akar di dalam tanah, mungkin Anda pun sedang dipersiapkan untuk menopang hal besar di masa depan. Anda tidak sedang gagal, Anda hanya sedang berproses di dalam tanah di mana tidak ada tepuk tangan penonton yang terdengar.
Maka dari itu, berhentilah menghukum diri sendiri dengan standar hidup orang lain. Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing. Terimalah bahwa tahun ini mungkin bukan tahun panen raya bagi Anda, melainkan tahun untuk menggemburkan tanah dan menyiram benih.
Tarik napas dalam-dalam dan ucapkan terima kasih kepada diri sendiri. Terima kasih karena tidak menyerah, terima kasih karena tetap bangun setiap pagi meski lelah, dan terima kasih karena terus berusaha meski hasilnya belum terlihat. Anda berharga bukan karena apa yang Anda capai, melainkan karena siapa Anda sesungguhnya. Selamat menutup tahun dengan damai.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
2 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
4 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
4 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
4 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






