Ceritra
Ceritra Warga

Tsundoku, Seni Menimbun Buku Tanpa Membacanya

Nisrina - Wednesday, 31 December 2025 | 10:01 AM

Background
Tsundoku, Seni Menimbun Buku Tanpa Membacanya
Tumpukan buku (Freepik/)

Bagi para  book lovers (pencinta buku), ada satu pemandangan yang sering memicu perasaan campur aduk antara kebahagiaan dan rasa bersalah, yaitu tumpukan buku yang baru dibeli namun belum sempat dibuka plastiknya. Tumpukan itu kian hari kian tinggi, bersaing dengan waktu luang yang kian menipis. Dalam budaya Jepang, kebiasaan ini dikenal dengan istilah Tsundoku. Kata ini lahir pada era Meiji sebagai permainan kata yang menggabungkan tsunde-oku (membiarkan sesuatu menumpuk) dan doku (membaca). Namun berbeda dengan perilaku menimbun barang yang patologis, Tsundoku memiliki nuansa filosofis yang jauh lebih positif dan romantis.

Banyak orang yang merasa tertekan melihat tumpukan buku yang belum dibaca karena menganggapnya sebagai monumen kegagalan atau pemborosan uang. Padahal jika dilihat dari sudut pandang lain, tumpukan buku itu adalah manifestasi fisik dari rasa ingin tahu yang tak terbatas. Penulis terkenal Nassim Nicholas Taleb mengangkat konsep yang disebut "Antiperpustakaan" milik Umberto Eco. Menurut pandangan ini, buku yang belum dibaca justru memiliki nilai yang lebih tinggi daripada buku yang sudah dibaca. Buku yang sudah dibaca adalah simbol dari apa yang sudah kita ketahui, sedangkan buku yang belum dibaca adalah pengingat rendah hati akan betapa banyaknya ilmu yang belum kita kuasai di dunia ini.

Kehadiran fisik buku-buku tersebut di dalam ruang pribadi kita memberikan efek psikologis yang menenangkan sekaligus menantang. Mereka berdiri di sana sebagai janji-janji petualangan dan wawasan baru yang sabar menunggu giliran. Membeli buku adalah tindakan membeli harapan. Saat kita membawa pulang sebuah buku, kita sebenarnya tidak hanya membeli kertas dan tinta, tetapi kita sedang membeli fantasi tentang versi diri kita di masa depan yang memiliki waktu luang untuk duduk tenang dan menyerap ilmu tersebut.

Selain itu, Tsundoku juga mencerminkan optimisme intelektual. Seseorang yang melakukan Tsundoku adalah orang yang percaya bahwa ia akan terus berkembang dan belajar sepanjang hayatnya. Ia menolak untuk berhenti pada apa yang sudah ia tahu sekarang. Tumpukan buku itu menjadi jaminan bahwa otak kita tidak akan pernah kelaparan akan ide-ide baru. Di tengah dunia yang serba cepat dan dangkal ini, keinginan untuk dikelilingi oleh kedalaman pemikiran para penulis hebat adalah sebuah keistimewaan mental yang patut dirayakan.

Jadi mulai sekarang berhentilah merasa bersalah setiap kali melirik tumpukan bukumu yang menggunung. Perlakukan buku-buku itu seperti botol anggur berkualitas yang disimpan di gudang bawah tanah. Mereka tidak harus dinikmati sekaligus dalam satu waktu. Mereka ada di sana, menua dengan anggun, dan siap memberikan kebijaksanaannya tepat pada saat kamu benar-benar membutuhkannya. Tsundoku bukanlah dosa kemalasan, melainkan seni mencintai ilmu dengan cara yang paling tulus dan penuh harap.

Logo Radio
🔴 Radio Live