Memahami 5 Stages of Grief Kübler Ross Agar Hati Kembali Pulih
Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 10:15 AM


Kehilangan adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia. Entah itu kehilangan orang yang dicintai karena kematian berakhirnya hubungan asmara kehilangan pekerjaan impian atau bahkan hilangnya kesehatan karena diagnosis penyakit kronis. Saat kehilangan terjadi dunia rasanya runtuh seketika. Ombak emosi datang silih berganti menghantam batin tanpa permisi.
Sering kali kita merasa bingung dengan perasaan kita sendiri. Satu detik kita merasa mati rasa detik berikutnya kita marah besar dan sesaat kemudian kita menangis tanpa henti. Apakah kita sedang menjadi gila. Jawabannya tentu tidak. Anda sedang berduka.
Duka adalah respons alami terhadap kehilangan. Namun karena sifatnya yang abstrak dan menyakitkan banyak orang kesulitan memetakan apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. Di sinilah pentingnya memahami "The Five Stages of Grief" atau Lima Tahapan Kesedihan. Model psikologi legendaris ini bukan hanya sekadar teori melainkan peta jalan yang membantu jutaan orang di dunia untuk memvalidasi perasaan mereka dan menemukan jalan menuju pemulihan.
Artikel ini akan mengupas tuntas setiap lapisan dari tahapan tersebut. Kita akan meluruskan kesalahpahaman umum tentang proses berduka dan bagaimana Anda bisa berdamai dengan kenyataan pahit tersebut. Simak panduan lengkapnya agar Anda tidak merasa sendirian dalam perjalanan emosional ini.
Asal Usul Teori Elisabeth Kübler Ross
Sebelum masuk ke dalam tahapan itu sendiri penting untuk mengetahui dari mana konsep ini berasal. Pada tahun 1969 seorang psikiater bernama Elisabeth Kübler Ross menerbitkan sebuah buku revolusioner berjudul On Death and Dying.
Awalnya teori ini dikembangkan berdasarkan pengamatannya terhadap pasien sakit terminal yang menghadapi kematian mereka sendiri. Kübler Ross mengidentifikasi pola emosional yang konsisten pada pasien pasien tersebut. Seiring berjalannya waktu teori ini diadopsi dan diperluas penggunaannya.
Kini para ahli psikologi sepakat bahwa kelima tahapan ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang menghadapi kematian tetapi juga bagi siapa saja yang mengalami kehilangan signifikan dalam hidup. Mulai dari perceraian bangkrut hingga kehilangan hewan peliharaan kesayangan. Kelima tahapan tersebut adalah Penyangkalan Marah Tawar menawar Depresi dan Penerimaan. Mari kita bedah satu per satu.
Tahap Pertama Penyangkalan atau Denial
Tahap ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan diri alamiah. Ketika berita buruk pertama kali datang otak manusia sering kali tidak mampu memproses besarnya rasa sakit tersebut secara langsung. Sebagai bentuk perlindungan sistem saraf kita melakukan "shutdown" atau mati rasa sementara.
Inilah fase Penyangkalan atau Denial. Ciri khasnya adalah perasaan syok tidak percaya dan mati rasa. Anda mungkin mendapati diri Anda berkata "Ini tidak mungkin terjadi" atau "Pasti ada kesalahan diagnosis" atau "Dia pasti akan meneleponku lagi besok".
Penyangkalan berfungsi sebagai peredam kejut bagi jiwa. Ia memberi waktu bagi hati untuk menyerap kenyataan pahit sedikit demi sedikit. Tanpa fase ini rasa sakit yang tiba tiba bisa menghancurkan kewarasan seseorang. Jadi jika Anda merasa hampa dan tidak bisa menangis saat pertama kali mendengar kabar duka itu adalah hal yang sangat wajar. Itu adalah cara tubuh Anda melindungi Anda.
Tahap Kedua Kemarahan atau Anger
Ketika efek mati rasa dari penyangkalan mulai memudar realitas rasa sakit akan muncul kembali. Namun kali ini ia tidak datang dengan lembut melainkan dengan ledakan emosi yang panas. Inilah tahap Kemarahan atau Anger.
Rasa sakit emosional dialihkan menjadi amarah. Anda mungkin marah kepada diri sendiri kepada orang yang meninggalkan Anda kepada dokter yang merawat kepada Tuhan atau bahkan kepada orang asing yang terlihat bahagia di jalan. Pertanyaan klasik yang muncul di tahap ini adalah "Kenapa harus aku" atau "Ini tidak adil".
Kemarahan adalah emosi yang sangat kuat dan sering kali membuat orang di sekitar Anda menjauh. Namun penting untuk dipahami bahwa kemarahan ini adalah bagian dari proses penyembuhan. Di balik amarah tersebut tersimpan rasa sakit yang teramat sangat. Marah adalah cara emosi mencari jalan keluar agar tidak membusuk di dalam hati.
Tahap Ketiga Tawar Menawar atau Bargaining
Setelah kemarahan mereda biasanya muncul rasa keputusasaan untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Di sinilah tahap Tawar menawar atau Bargaining terjadi. Tahap ini dipenuhi dengan pernyataan "Seandainya saja" atau "Bagaimana jika".
Kita mencoba membuat kesepakatan dengan semesta atau Tuhan. "Tuhan tolong sembuhkan dia aku berjanji akan rajin beribadah selamanya" atau "Seandainya aku tidak marah padanya malam itu mungkin dia tidak akan pergi".
Tahap ini erat kaitannya dengan rasa bersalah atau guilt. Kita terus memutar ulang skenario masa lalu di kepala mencari cari kesalahan diri sendiri dan berharap bisa mengubah hasil akhir. Tawar menawar adalah upaya terakhir ego kita untuk mengontrol situasi yang sebenarnya sudah di luar kendali. Kita berusaha menunda rasa sakit dengan harapan palsu.
Tahap Keempat Depresi atau Depression
Ketika kita sadar bahwa tawar menawar tidak membuahkan hasil dan kemarahan tidak mengubah keadaan kita tiba di lembah terdalam dari duka yaitu Depresi.
Harap dicatat bahwa depresi dalam konteks ini bukanlah gangguan mental klinis melainkan respons yang tepat terhadap kehilangan besar. Kita mulai merasakan kenyataan bahwa orang atau hal tersebut benar benar telah pergi dan tidak akan kembali.
Gejala di tahap ini meliputi kesedihan mendalam sering menangis gangguan tidur kehilangan nafsu makan dan menarik diri dari lingkungan sosial. Rasanya seperti ada kabut tebal yang menyelimuti hari hari Anda. "Untuk apa aku bangun pagi jika dia sudah tidak ada" adalah pikiran yang umum muncul.
Meskipun menyakitkan tahap ini sangat krusial. Ini adalah momen di mana Anda benar benar memproses kehilangan tersebut secara emosional. Jangan buru buru memaksa diri untuk "ceria". Izinkan kesedihan itu mengalir agar ia bisa tuntas.
Tahap Kelima Penerimaan atau Acceptance
Tahap terakhir adalah Penerimaan atau Acceptance. Banyak orang salah mengartikan tahap ini sebagai perasaan "bahagia" atau "baik baik saja" dengan kehilangan tersebut. Itu anggapan yang keliru.
Penerimaan bukan berarti Anda melupakan orang yang pergi atau merasa senang dengan apa yang terjadi. Penerimaan berarti Anda mengakui kenyataan baru bahwa hidup harus terus berjalan tanpa kehadiran mereka. Anda berhenti melawan realitas.
Di tahap ini emosi mulai stabil. Anda mulai bisa menata kembali hidup Anda. Anda mungkin masih merasa sedih sesekali tetapi kesedihan itu tidak lagi melumpuhkan. Anda mulai bisa tertawa lagi mengejar hobi baru dan menjalin hubungan baru tanpa rasa bersalah. Anda belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan tersebut bukan melupakannya.
Mitos Garis Lurus dalam Berduka
Satu hal yang sangat penting untuk diingat adalah bahwa kelima tahapan ini tidaklah linier atau berurutan rapi. Kübler Ross sendiri menekankan bahwa setiap orang menjalani proses ini dengan cara yang unik.
Anda bisa saja melompat dari Penyangkalan langsung ke Depresi. Atau Anda sudah sampai di tahap Penerimaan namun tiba tiba kembali marah karena mendengar sebuah lagu kenangan. Proses ini lebih mirip roller coaster atau benang kusut daripada garis lurus.
Jangan menghakimi diri sendiri jika Anda merasa "mundur" ke tahap sebelumnya. Itu adalah dinamika emosi yang wajar. Tidak ada durasi waktu yang pasti untuk setiap tahap. Ada yang butuh waktu bulan ada yang butuh waktu tahun. Semuanya valid.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional
Meskipun berduka adalah proses alami ada kondisi di mana kesedihan berubah menjadi Complicated Grief atau Duka yang Rumit. Jika bertahun tahun berlalu dan Anda masih terjebak dalam kemarahan atau depresi yang intens hingga tidak bisa berfungsi dalam kehidupan sehari hari maka itu adalah tanda lampu merah.
Jika Anda mulai memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri mengabaikan kebersihan diri secara ekstrem atau menyalahgunakan alkohol dan obat obatan untuk lari dari kenyataan segeralah mencari bantuan profesional. Psikolog atau konselor duka dapat membantu Anda mengurai benang kusut emosi yang menghambat pemulihan Anda.
Memahami 5 tahapan kesedihan memberikan kita kacamata baru untuk melihat penderitaan. Ia mengajarkan kita untuk lebih welas asih pada diri sendiri. Bahwa apa yang kita rasakan "kegilaan" emosi itu adalah bukti bahwa kita pernah mencintai dengan sangat dalam. Dan seperti luka fisik yang akan mengering seiring waktu luka hati pun perlahan akan sembuh menyisakan parut yang mengingatkan kita pada kekuatan diri untuk bertahan.
Next News

Waspada Kesedihan Ditinggal Orang Tercinta Bisa Picu Depresi Berat dan Diagnosis BPD
in 6 hours

Rapat Selesai Tapi Otak Kosong? Gunakan Teknik Transisi 5 Menit untuk Rebut Kembali Fokus
in 6 hours

Waspada Burnout Syndrome Kelelahan Bekerja yang Lebih Bahaya dari Stres
in 4 hours

Fakta Ilmiah Sleep Paralysis atau Ketindihan Bukan Karena Gangguan Makhluk Halus
in 3 hours

Hubungan Erat Antara Asam Lambung Naik dan Tekanan Berlebih
in 3 hours

Mengapa Sifat Kekanakan Muncul Saat Dewasa dan Cara Menyembuhkannya
in 2 hours

Mengapa Selalu Berpikir Positif Justru Bisa Merusak Kesehatan Mental Anda dan Cara Menghindarinya
in 2 hours

Apa Itu Revenge Bedtime Procrastination? Alasan Psikologis Kenapa Orang Sibuk Sengaja Menunda Tidur
in an hour

Mengapa Anda Mudah Terbangun Saat Tidur dan Cara Ampuh Mengatasinya
8 hours ago

Manfaat Mandi Air Hangat Sebelum Tidur Menurut Penjelasan Fisiologis
10 hours ago






