Mengapa Selalu Berpikir Positif Justru Bisa Merusak Kesehatan Mental Anda dan Cara Menghindarinya
Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 06:45 AM


Di era media sosial yang serba sempurna ini kita sering kali dibombardir dengan kutipan motivasi yang terdengar indah. Kalimat seperti "Good vibes only", "Jangan bersedih", atau "Lihat sisi baiknya saja" bertebaran di mana mana. Mulai dari feed Instagram hingga grup WhatsApp keluarga. Pesan pesan ini seolah mewajibkan kita untuk selalu tersenyum selalu bahagia dan selalu optimis dalam situasi apapun.
Sekilas ajakan untuk berpikir positif ini terdengar sangat baik dan membangun. Bukankah optimisme adalah kunci kesuksesan hidup. Namun tahukah Anda bahwa ada garis tipis yang membedakan antara optimisme yang sehat dengan apa yang disebut psikolog sebagai Toxic Positivity atau positivitas yang beracun.
Ketika dipaksakan secara berlebihan positivitas justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkan kesehatan mental. Alih alih membuat kita kuat kebiasaan ini malah memaksa kita untuk menyangkal realitas dan memendam emosi yang sesungguhnya. Artikel ini akan mengupas tuntas bahaya di balik topeng "pura pura bahagia" ini dan mengapa validasi emosi jauh lebih penting daripada sekadar senyuman palsu.
Apa Itu Toxic Positivity Sebenarnya
Toxic Positivity adalah keyakinan atau obsesi bahwa seseorang harus mempertahankan pola pikir positif secara terus menerus tidak peduli seberapa berat atau sulitnya situasi yang sedang dihadapi. Ini adalah bentuk penolakan terhadap emosi negatif.
Dalam konsep ini emosi seperti sedih marah kecewa atau takut dianggap sebagai "kegagalan" atau "kelemahan". Penganut toxic positivity akan berusaha keras untuk menekan perasaan tersebut dan menggantinya dengan kepura puraan bahwa "semua baik baik saja".
Masalah utamanya bukan pada keinginan untuk bahagia melainkan pada penyangkalan terhadap kenyataan. Manusia didesain dengan spektrum emosi yang luas. Kita bisa tertawa tapi kita juga bisa menangis. Memaksa diri untuk hanya merasakan setengah dari spektrum tersebut sama saja dengan mematikan separuh dari kemanusiaan kita. Ini menciptakan disonansi kognitif atau pertentangan batin yang melelahkan jiwa.
Tanda Tanda Anda Terjebak dalam Racun Positivitas
Sering kali kita tidak sadar bahwa kita sedang melakukan toxic positivity baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Berikut adalah beberapa indikator yang perlu diwaspadai.
Pertama Anda merasa bersalah karena merasa sedih. Ketika musibah datang bukannya memproses rasa duka Anda malah menghukum diri sendiri dengan berkata "Seharusnya aku tidak boleh cengeng" atau "Banyak orang lain yang lebih susah dariku".
Kedua Anda menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik topeng senyuman. Anda takut jika Anda jujur tentang kesulitan Anda orang lain akan menilai Anda negatif atau tidak bersyukur.
Ketiga Anda sering meremehkan masalah orang lain dengan kalimat klise. Ketika teman curhat tentang pemecatan Anda langsung memotong dengan "Ah tenang saja pasti ada hikmahnya kok jangan dipikirin". Meskipun niatnya baik respons seperti ini sebenarnya menutup ruang bagi teman tersebut untuk meluapkan perasaannya.
Bahaya Tersembunyi Memendam Emosi Negatif
Menekan emosi negatif tidak akan membuatnya hilang. Dalam psikologi hal ini dikenal dengan istilah supresi emosi. Emosi yang dipendam ibarat bola yang ditekan ke dalam air. Semakin kuat Anda menekannya ke bawah semakin besar tekanan yang dihasilkan untuk melontarkannya kembali ke permukaan.
Penelitian menunjukkan bahwa memendam emosi dapat meningkatkan stres pada tubuh. Kortisol atau hormon stres akan tetap tinggi yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan fisik. Risiko penyakit jantung gangguan pencernaan sakit kepala kronis hingga penurunan sistem kekebalan tubuh sering dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang mengelola emosi negatif.
Selain itu emosi yang tidak terproses akan menumpuk dan bisa meledak di kemudian hari dalam bentuk yang lebih destruktif. Bisa berupa burnout depresi berat atau ledakan amarah yang tidak terkendali pada hal hal sepele.
Perbedaan Antara Optimisme Sehat dan Toxic Positivity
Penting untuk membedakan antara menjadi optimis dan menjadi toxic. Optimisme sehat tidak menyangkal kenyataan. Optimisme sehat berkata "Situasi ini sangat berat dan aku merasa sakit sekarang tapi aku yakin aku bisa melewatinya dan akan ada harapan di depan".
Sementara itu toxic positivity berkata "Tidak ada yang perlu disedihkan! Semuanya indah! Hapus air matamu!".
Perbedaannya terletak pada penerimaan atau akseptasi. Optimisme sehat menerima perasaan negatif sebagai bagian dari proses menuju perbaikan. Sedangkan toxic positivity menolak kehadiran perasaan negatif tersebut sama sekali. Optimisme memberi ruang untuk validasi sedangkan positivitas beracun melakukan pembungkaman atau silencing.
Dampak Buruk Terhadap Hubungan Sosial
Pola pikir ini tidak hanya merusak diri sendiri tetapi juga hubungan dengan orang lain. Bayangkan Anda sedang berduka karena kehilangan orang tercinta lalu seseorang datang dan berkata "Jangan nangis terus dong dia pasti nggak tenang di sana kalau kamu sedih". Kalimat ini terdengar menghibur tapi sebenarnya sangat menyakitkan karena seolah olah melarang Anda untuk berduka.
Lama kelamaan orang orang akan enggan bercerita jujur kepada Anda. Hubungan menjadi dangkal atau superfisial. Anda akan dikelilingi oleh orang orang yang hanya berani berbagi kabar gembira tetapi menyembunyikan kabar duka karena takut dihakimi atau diceramahi dengan kutipan motivasi.
Validasi emosi adalah kunci koneksi antarmanusia. Validasi berarti mendengarkan dan mengakui perasaan orang lain tanpa harus langsung memperbaikinya. Kalimat sederhana seperti "Aku mengerti kenapa kamu sedih itu pasti berat banget" jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan kata motivasi kosong.
Cara Keluar dari Jebakan Pura Pura Bahagia
Langkah pertama untuk sembuh dari toxic positivity adalah menyadari bahwa emosi negatif bukanlah musuh. Emosi adalah data. Rasa takut memberi tahu kita ada bahaya. Rasa marah memberi tahu kita ada batasan yang dilanggar. Rasa sedih membantu kita memproses kehilangan.
Mulailah berlatih emotional agility atau ketangkasan emosional. Izinkan diri Anda merasakan apa pun yang muncul tanpa menghakiminya. Jika sedih katakan "Aku sedang sedih dan itu wajar". Berikan waktu bagi diri sendiri untuk tidak baik baik saja atau it is okay not to be okay.
Ubah juga kosakata Anda saat merespons masalah diri sendiri maupun orang lain. Ganti kalimat "Jangan menyerah!" dengan "Istirahatlah kalau lelah kita bisa coba lagi nanti". Ganti kalimat "Ambil positifnya aja!" dengan "Aku tahu ini sulit apa yang bisa aku bantu untuk meringankan bebanmu".
Menjadi manusia seutuhnya berarti merangkul seluruh spektrum pengalaman hidup baik suka maupun duka. Kebahagiaan sejati tidak datang dari penyangkalan melainkan dari kejujuran dan penerimaan diri yang utuh.
Next News

Fakta Ilmiah Sleep Paralysis atau Ketindihan Bukan Karena Gangguan Makhluk Halus
in 6 hours

Hubungan Erat Antara Asam Lambung Naik dan Tekanan Berlebih
in 6 hours

Mengapa Sifat Kekanakan Muncul Saat Dewasa dan Cara Menyembuhkannya
in 6 hours

Apa Itu Revenge Bedtime Procrastination? Alasan Psikologis Kenapa Orang Sibuk Sengaja Menunda Tidur
in 5 hours

Mengapa Anda Mudah Terbangun Saat Tidur dan Cara Ampuh Mengatasinya
4 hours ago

Manfaat Mandi Air Hangat Sebelum Tidur Menurut Penjelasan Fisiologis
7 hours ago

Penyebab Keringat Berlebih dan Solusi Ampuh Mengatasinya
6 hours ago

5 Cara Paling Ampuh Mengatasi Reading Slump Agar Semangat Baca Kembali Membara
7 hours ago

Suara Batin Meningkat Saat Malam? Simak Cara Mengelola Nighttime Loneliness Secara Elegan
4 hours ago

Cara Mengetahui Tubuh Kurang Air Meski Berada di Ruangan Dingin
11 hours ago






