Ceritra
Ceritra Warga

Penyebab Keringat Berlebih dan Solusi Ampuh Mengatasinya

Nisrina - Monday, 09 February 2026 | 07:15 PM

Background
Penyebab Keringat Berlebih dan Solusi Ampuh Mengatasinya
Ilustrasi (Getty Images/John Lund)

Berkeringat adalah mekanisme alami tubuh yang sangat penting. Ini adalah cara tubuh mendinginkan diri saat suhu lingkungan memanas saat kita berolahraga atau saat kita sedang merasa gugup. Namun bagi sebagian orang produksi keringat ini bisa terjadi secara ekstrem dan di luar batas kewajaran. Baju yang basah kuyup padahal sedang duduk santai di ruangan ber AC atau telapak tangan yang selalu basah hingga sulit memegang pulpen adalah pemandangan sehari hari bagi penderita kondisi ini.

Kondisi medis ini dikenal dengan nama Hiperhidrosis. Ini bukan sekadar masalah fisik semata tetapi sering kali menjadi beban psikologis yang berat. Rasa malu minder dan kecemasan sosial sering menghantui mereka yang memiliki masalah keringat berlebih. Mereka takut berjabat tangan takut mengangkat lengan atau takut bau badan mereka mengganggu orang lain.

Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal tentang hiperhidrosis. Mulai dari membedakan keringat normal dan tidak normal penyebab yang mendasarinya hingga langkah langkah praktis dan medis untuk mengendalikan produksi keringat agar Anda bisa kembali tampil percaya diri. Simak panduan lengkapnya berikut ini.

Memahami Perbedaan Keringat Normal dan Hiperhidrosis

Langkah pertama untuk mengatasi masalah ini adalah memahami apa yang sedang terjadi pada tubuh Anda. Keringat normal diproduksi oleh kelenjar ekrin ketika suhu tubuh naik. Ini adalah respons sehat. Namun pada penderita hiperhidrosis kelenjar keringat ini bekerja terlalu aktif atau overactive tanpa adanya pemicu yang jelas.

Hiperhidrosis sendiri dibagi menjadi dua kategori utama. Pertama adalah Hiperhidrosis Fokal Primer. Kondisi ini biasanya bersifat genetik atau keturunan dan terjadi di area area tertentu saja atau terlokalisir. Area yang paling sering terdampak adalah telapak tangan telapak kaki ketiak dan terkadang wajah. Uniknya keringat pada jenis ini biasanya berhenti saat penderitanya sedang tidur.

Kategori kedua adalah Hiperhidrosis Sekunder. Ini adalah kondisi yang lebih serius karena keringat berlebih disebabkan oleh kondisi medis lain atau efek samping obat obatan. Berbeda dengan tipe primer tipe sekunder ini biasanya menyebabkan keringat di seluruh tubuh dan bisa terjadi bahkan saat penderitanya sedang tidur.

Faktor Pemicu dan Penyebab yang Harus Diwaspadai

Meskipun hiperhidrosis primer sering kali tidak memiliki penyebab medis yang spesifik selain faktor genetika hiperhidrosis sekunder memiliki banyak pemicu yang perlu Anda waspadai. Beberapa kondisi kesehatan yang sering dikaitkan dengan keringat berlebih antara lain adalah diabetes gangguan tiroid atau hipertiroidisme masalah jantung dan infeksi seperti tuberkulosis.

Selain penyakit fase kehidupan tertentu juga bisa menjadi pemicu. Wanita yang sedang memasuki masa menopause sering mengalami hot flashes yang diikuti dengan keringat berlebih. Kehamilan juga bisa menyebabkan perubahan hormonal yang memicu kerja kelenjar keringat.

Gaya hidup dan asupan makanan juga berpengaruh besar. Konsumsi makanan pedas yang mengandung capsaicin minuman beralkohol dan kafein dalam kopi atau teh dapat merangsang sistem saraf untuk memproduksi keringat lebih banyak. Selain itu stres dan kecemasan adalah pemicu psikologis yang paling umum. Ironisnya rasa cemas karena takut berkeringat justru memicu tubuh untuk mengeluarkan lebih banyak keringat lagi menciptakan siklus lingkaran setan yang sulit diputus.

Gunakan Antiperspiran Bukan Sekadar Deodoran

Banyak orang yang salah kaprah menyamakan antiperspiran dengan deodoran. Padahal keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda. Deodoran berfungsi untuk menutupi bau badan dengan wewangian dan membunuh bakteri penyebab bau namun tidak menghentikan keluarnya keringat.

Jika masalah utama Anda adalah basah maka yang Anda butuhkan adalah antiperspiran. Produk ini mengandung bahan aktif biasanya berbasis aluminium yang bekerja dengan cara menyumbat sementara saluran kelenjar keringat sehingga produksi keringat dapat ditahan.

Untuk hasil yang maksimal disarankan menggunakan antiperspiran pada malam hari sebelum tidur saat aktivitas kelenjar keringat sedang menurun. Pastikan kulit dalam keadaan kering dan bersih sebelum mengoleskannya. Jika produk yang dijual bebas di pasaran tidak mempan Anda mungkin perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan resep antiperspiran dengan dosis yang lebih kuat.

Perhatikan Pilihan Pakaian dan Sepatu

Apa yang Anda kenakan sangat mempengaruhi kenyamanan Anda sepanjang hari. Hindari pakaian ketat dan berbahan sintetis seperti polyester atau nilon. Bahan bahan ini tidak menyerap keringat dan justru memerangkap panas tubuh sehingga memicu keringat lebih banyak dan bau badan yang menyengat.

Pilihlah pakaian yang longgar dan terbuat dari serat alami seperti katun linen atau sutra. Bahan bahan ini memungkinkan kulit untuk bernapas dan sirkulasi udara berjalan lancar. Untuk warna pilihlah warna warna gelap atau bermotif ramai untuk menyamarkan noda basah jika keringat tetap tembus.

Bagi yang bermasalah dengan keringat di kaki atau bromodosis pemilihan kaos kaki sangat krusial. Gunakan kaos kaki berbahan katun atau wol yang mampu menyerap kelembapan. Jangan lupa untuk mengganti kaos kaki setiap hari dan angin anginkan sepatu Anda agar tidak menjadi sarang bakteri dan jamur.

Menjaga Kebersihan Diri Secara Ekstra

Mandi adalah ritual wajib bagi penderita hiperhidrosis. Mandilah setidaknya dua kali sehari menggunakan sabun antibakteri. Keringat itu sendiri sebenarnya tidak berbau. Bau badan muncul ketika keringat bercampur dengan bakteri yang hidup di permukaan kulit.

Dengan rutin membersihkan diri Anda mengurangi populasi bakteri di kulit sehingga risiko bau badan dapat diminimalisir. Pastikan Anda mengeringkan tubuh dengan sempurna setelah mandi terutama di area lipatan tubuh seperti ketiak dan sela sela jari kaki karena bakteri dan jamur sangat menyukai tempat yang lembap.

Prosedur Medis Sebagai Langkah Lanjutan

Jika perubahan gaya hidup dan penggunaan antiperspiran tidak memberikan hasil yang signifikan dunia medis menawarkan beberapa solusi lanjutan. Salah satu yang populer adalah suntik Botox atau botulinum toxin. Zat ini bekerja dengan cara memblokir saraf yang memicu kelenjar keringat. Efeknya bisa bertahan beberapa bulan namun memerlukan penyuntikan ulang secara berkala.

Terapi lain yang bisa dicoba adalah Iontoforesis yaitu prosedur menggunakan arus listrik lemah yang dialirkan ke dalam air untuk memblokir kelenjar keringat di tangan atau kaki. Obat obatan oral jenis antikolinergik juga bisa diresepkan dokter untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat di seluruh tubuh.

Dalam kasus yang sangat parah dan tidak merespons terhadap terapi lain opsi operasi seperti Endoscopic Thoracic Sympathectomy atau ETS mungkin dipertimbangkan. Prosedur ini melibatkan pemotongan saraf yang mengontrol keringat di area tertentu. Namun operasi ini memiliki risiko efek samping seperti keringat kompensasi di mana keringat justru muncul berlebih di bagian tubuh lain.

Kapan Harus Menemui Dokter

Meskipun sering dianggap sepele Anda harus waspada jika keringat berlebih disertai dengan gejala lain. Segeralah temui dokter jika Anda mengalami keringat dingin yang disertai nyeri dada pusing atau sesak napas karena bisa jadi itu tanda serangan jantung.

Selain itu jika keringat berlebih terjadi secara tiba tiba di usia dewasa terjadi hanya pada satu sisi tubuh atau disertai dengan penurunan berat badan drastis tanpa sebab pemeriksaan medis menyeluruh sangat diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit serius seperti kanker atau gangguan hormon.

Hiperhidrosis memang kondisi yang menantang dan sering kali memalukan. Namun dengan pemahaman yang tepat dan penanganan yang konsisten Anda bisa mengontrol kondisi ini dan menjalani hidup dengan lebih nyaman dan percaya diri. Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dan bantuan medis selalu tersedia.

Logo Radio
🔴 Radio Live