Ceritra
Ceritra Warga

Panduan Mengelola Rasa Bersalah bagi People Pleaser

Refa - Monday, 09 February 2026 | 08:00 PM

Background
Panduan Mengelola Rasa Bersalah bagi People Pleaser
Ilustrasi merasa bersalah (Freepik/Freepik)

Munculnya rasa bersalah saat mulai memprioritaskan diri sendiri sering kali berakar dari ekspektasi sosial atau kebiasaan menjadi people pleaser. Ada anggapan keliru bahwa merawat kebutuhan pribadi adalah tindakan egois, padahal pengabaian terhadap diri sendiri justru akan menurunkan kapasitas dalam membantu orang lain. Memprioritaskan diri adalah strategi agar tetap memiliki energi, kesabaran, dan kejernihan pikiran dalam jangka panjang.

Mengelola rasa bersalah membutuhkan latihan untuk mengubah sudut pandang dan memahami bahwa kesejahteraan diri adalah fondasi dari segala interaksi. Berikut adalah panduan taktis untuk mengelola rasa bersalah saat menaruh diri sendiri di urutan teratas.

Memahami Perbedaan Antara Egois dan Perawatan Diri

Langkah pertama untuk menghapus rasa bersalah adalah mendefinisikan ulang makna tindakan tersebut. Tindakan egois adalah mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memedulikan dampak negatifnya. Sebaliknya, memprioritaskan diri (self-care) adalah memastikan bahwa kebutuhan dasar fisik dan emosional terpenuhi agar tidak menjadi beban bagi orang lain di masa depan. Menyadari bahwa "mengisi gelas sendiri" adalah syarat utama agar bisa "menuangkan air" ke gelas orang lain membantu menetralkan prasangka negatif terhadap diri sendiri.

Menggunakan Logika "Masker Oksigen Pesawat"

Gunakan analogi keselamatan penerbangan sebagai pengingat harian: petugas selalu menginstruksikan untuk memasang masker oksigen sendiri sebelum membantu anak-anak atau orang di sekitar. Jika seseorang pingsan karena kekurangan oksigen, ia tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun. Prinsip ini berlaku sama dalam kehidupan; memberikan waktu istirahat atau ruang pribadi pada diri sendiri bukanlah pengabaian terhadap orang lain, melainkan persiapan agar tetap mampu hadir secara maksimal saat dibutuhkan nanti.

Menghadapi Kritik Internal dengan Fakta, Bukan Perasaan

Saat rasa bersalah muncul, biasanya ia datang dalam bentuk suara batin yang menghakimi. Hadapi perasaan tersebut dengan menanyakan fakta yang objektif: "Apakah tindakan beristirahat ini benar-benar merugikan orang lain secara fatal?" atau "Apakah saya telah memberikan banyak waktu untuk orang lain sebelumnya?". Sering kali, rasa bersalah hanyalah residu dari kebiasaan lama yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan saat ini. Mencatat pencapaian atau kontribusi sosial yang telah dilakukan dapat membantu meredam suara kritis tersebut.

Mulai dari Batasan Kecil secara Konsisten

Rasa bersalah akan terasa sangat berat jika seseorang tiba-tiba melakukan perubahan besar secara drastis. Mulailah dengan menetapkan batasan-batasan kecil, seperti tidak membalas pesan pekerjaan setelah jam 8 malam atau mengambil waktu 15 menit untuk meditasi tanpa gangguan. Keberhasilan dalam mempertahankan batasan kecil akan membangun kepercayaan diri dan membiasakan orang-orang di sekitar dengan ritme baru tersebut, sehingga rasa canggung dan bersalah perlahan akan terkikis dengan sendirinya.

Mempraktikkan Afirmasi Diri yang Menenangkan

Kata-kata yang diucapkan pada diri sendiri memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional. Alih-alih berkata, "Saya merasa bersalah karena tidak ikut kumpul," ubahlah menjadi, "Saya bangga pada diri sendiri karena berani mendengarkan kebutuhan tubuh untuk istirahat." Kalimat ini menggeser fokus dari kegagalan sosial menuju keberhasilan dalam menjaga kesehatan mental. Validasi internal ini sangat penting agar ketenangan pikiran tidak bergantung pada persetujuan atau reaksi orang lain.


Penutup: Memulihkan Diri adalah Hak, Bukan Hadiah

Rasa bersalah mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam semalam, namun ia akan melemah seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Memprioritaskan diri sendiri adalah investasi untuk menjadi versi terbaik dalam setiap peran yang dijalani, baik sebagai teman, anggota keluarga, maupun profesional. Ingatlah bahwa waktu yang dialokasikan untuk memulihkan diri adalah hak setiap individu yang tidak memerlukan permohonan maaf dari siapa pun.

Logo Radio
🔴 Radio Live