Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Psikologis Kamu Sering Merasa Tidak Pantas Sukses

Nisrina - Monday, 09 February 2026 | 04:12 PM

Background
Alasan Psikologis Kamu Sering Merasa Tidak Pantas Sukses
Ilustrasi (yesdok/)

Pernahkah Anda duduk di sebuah rapat penting dan tiba tiba merasa seperti penipu yang akan segera ketahuan. Anda mungkin baru saja mendapatkan promosi jabatan lulus dari universitas ternama atau menyelesaikan proyek besar dengan sukses. Namun alih alih merasa bangga ada suara kecil di kepala yang berbisik bahwa Anda tidak pantas berada di sana.

Suara itu mengatakan bahwa pencapaian Anda hanyalah hasil dari keberuntungan semata atau kesalahan rekrutmen. Anda merasa bahwa orang lain jauh lebih pintar dan lebih kompeten daripada Anda. Jika Anda pernah merasakan hal ini Anda tidak sendirian. Fenomena psikologis ini dikenal dengan nama Imposter Syndrome atau Sindrom Penipu.

Istilah ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1978 oleh psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes. Meskipun sudah lama dikenal fenomena ini semakin relevan di era media sosial dan tekanan kerja modern. Banyak artikel menyarankan cara "mengobati" perasaan ini dengan afirmasi positif. Namun laporan mendalam dari VICE mengajak kita untuk menggali lebih dalam ke akar masalahnya. Mengapa perasaan ini bisa muncul pertama kali. Apakah ini murni kesalahan pola pikir kita atau ada faktor luar yang membentuknya.

Definisi Sindrom Penipu yang Sebenarnya

Sebelum membahas penyebabnya kita perlu memahami apa itu Imposter Syndrome. Ini bukanlah penyakit mental melainkan sebuah fenomena psikologis di mana seseorang tidak mampu menginternalisasi pencapaian mereka.

Orang yang mengalaminya memiliki ketakutan yang persisten akan "terbongkar" sebagai penipu. Mereka meyakini bahwa kesuksesan yang mereka raih bukan karena kemampuan atau kecerdasan melainkan karena faktor eksternal seperti keberuntungan timing yang tepat atau karena berhasil menipu orang lain agar berpikir mereka pintar.

Paradoksnya sindrom ini sering menyerang orang orang yang berprestasi tinggi atau high achievers. Semakin tinggi pencapaian seseorang sering kali semakin besar pula rasa takut mereka bahwa semua itu akan runtuh seketika.

Label Masa Kecil dan Dinamika Keluarga

Akar dari perasaan tidak pantas ini sering kali dapat dilacak kembali ke masa kanak kanak. VICE menyoroti bahwa dinamika keluarga memainkan peran yang sangat besar. Psikolog menemukan bahwa Imposter Syndrome sering muncul pada anak anak yang tumbuh dengan label tertentu dari orang tua mereka.

Misalnya ada anak yang diberi label "si jenius" atau "si pintar". Anak ini tumbuh dengan keyakinan bahwa kesuksesan harus datang dengan mudah dan alami. Ketika mereka menghadapi tantangan yang mengharuskan mereka bekerja keras mereka mulai meragukan "kejeniusan" mereka. Bagi mereka usaha keras adalah bukti bahwa mereka tidak pintar. Inilah cikal bakal perasaan penipu itu muncul.

Di sisi lain ada anak yang diberi label "si pekerja keras" atau "si rajin". Meskipun label ini terdengar positif anak ini mungkin merasa bahwa mereka tidak memiliki bakat alami seperti saudara atau teman mereka yang "pintar". Akibatnya seberapa sukses pun mereka di kemudian hari mereka akan selalu merasa bahwa mereka harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk menyamai orang lain yang dianggap lebih berbakat.

Jebakan Pola Pikir Tetap

Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep Fixed Mindset (pola pikir tetap) dan Growth Mindset (pola pikir berkembang) yang sangat relevan di sini. Orang dengan Imposter Syndrome sering kali terjebak dalam pola pikir tetap.

Mereka percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan adalah sesuatu yang statis. Anda pintar atau tidak. Anda berbakat atau tidak. Ketika mereka melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan mereka tidak melihatnya sebagai proses belajar. Sebaliknya mereka melihat kegagalan sebagai bukti bahwa mereka tidak kompeten.

Ketakutan akan kegagalan ini membuat mereka menjadi perfeksionis yang ekstrem. Mereka menetapkan standar yang sangat tinggi dan tidak realistis untuk diri sendiri. Ketika standar itu tidak tercapai (yang mana sangat wajar) mereka langsung menghukum diri sendiri dengan kritik batin yang pedas.

Faktor Lingkungan dan Rasa Menjadi Minoritas

Penyebab Imposter Syndrome tidak melulu soal psikologi internal. Faktor lingkungan dan sistemik juga sangat berpengaruh. Perasaan menjadi penipu sering kali lebih kuat dirasakan oleh kelompok minoritas di lingkungan tertentu.

Contohnya perempuan yang bekerja di industri yang didominasi laki laki atau mahasiswa generasi pertama yang masuk ke universitas elit. Ketika seseorang melihat sekeliling dan tidak menemukan orang lain yang mirip dengannya baik dari segi latar belakang ras atau gender alam bawah sadar mengirimkan sinyal bahwa "kamu tidak seharusnya berada di sini".

Absennya representasi membuat seseorang merasa harus membuktikan diri lebih dari orang lain. Setiap kesalahan kecil dianggap sebagai konfirmasi bahwa stereotip negatif tentang kelompok mereka adalah benar. Tekanan tambahan ini memperparah kecemasan dan perasaan bahwa mereka hanyalah tamu yang beruntung bisa masuk bukan anggota yang sah.

Siklus Lingkaran Setan Sindrom Penipu

VICE menjelaskan bahwa sindrom ini bekerja dalam sebuah siklus yang melelahkan. Siklus ini biasanya dimulai ketika seseorang diberi tugas atau proyek baru.

Pertama muncul kecemasan dan keraguan diri. Untuk mengatasi kecemasan ini orang tersebut akan merespons dengan dua cara yaitu persiapan yang berlebihan (lembur gila gilaan) atau penundaan (prokrastinasi) yang diikuti dengan kerja panik di menit terakhir.

Ketika tugas tersebut selesai dan berhasil mereka akan merasa lega sesaat. Namun di sinilah masalahnya. Jika mereka melakukan persiapan berlebihan mereka akan berkata "Aku berhasil hanya karena aku bekerja terlalu keras bukan karena aku mampu". Jika mereka melakukan prokrastinasi mereka akan berkata "Aku berhasil karena keberuntungan semata".

Akibatnya kesuksesan tersebut tidak pernah diakui sebagai hasil kemampuan diri sendiri. Kepercayaan diri tidak pernah terbangun dan ketika tugas baru datang siklus kecemasan itu berulang kembali.

Peran Budaya Kerja yang Kompetitif

Lingkungan kerja modern yang sangat kompetitif juga turut menyuburkan perasaan ini. Budaya kerja yang mengagung agungkan kesibukan dan pencapaian instan membuat orang merasa harus selalu tampil sempurna.

Di era media sosial profesional seperti LinkedIn kita terus menerus disuguhi highlight reel atau momen terbaik karier orang lain. Kita melihat teman teman kita mendapatkan penghargaan promosi atau pendanaan bisnis. Kita membandingkan "dapur" kita yang berantakan dengan "etalase" orang lain yang sempurna.

Perbandingan sosial ini adalah racun. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan kegagalannya masing masing yang tidak ditampilkan di publik. Akibatnya kita merasa tertinggal dan memandang diri sendiri sebagai penipu di antara orang orang sukses.

Cara Memutus Rantai Perasaan Tidak Pantas

Memahami penyebab Imposter Syndrome adalah langkah pertama untuk mengatasinya. Mengetahui bahwa perasaan ini mungkin berasal dari label masa kecil atau tekanan lingkungan bisa membantu kita bersikap lebih welas asih pada diri sendiri.

Langkah selanjutnya adalah memisahkan perasaan dari fakta. Merasa bodoh tidak sama dengan menjadi bodoh. Merasa tidak pantas tidak mengubah fakta bahwa Anda telah bekerja keras untuk sampai di titik ini. Cobalah untuk berbicara dengan mentor atau teman dekat tentang perasaan ini. Sering kali Anda akan terkejut menemukan bahwa mereka orang orang yang Anda kagumi juga merasakan hal yang sama.

Terakhir ubahlah definisi kegagalan. Kegagalan bukanlah bukti ketidakmampuan melainkan bukti bahwa Anda sedang mencoba sesuatu yang menantang. Terimalah bahwa Anda tidak harus tahu segalanya dan tidak harus sempurna setiap saat. Anda layak berada di posisi Anda sekarang dan Anda pantas mendapatkan kesuksesan itu.

Logo Radio
🔴 Radio Live