Ceritra
Ceritra Warga

Panduan Panen Bokashi yang Benar

Refa - Friday, 06 February 2026 | 08:00 PM

Background
Panduan Panen Bokashi yang Benar
Ilustrasi pupuk bokasi (shutterstock/MYBEARS)

Memanen hasil dari metode Bokashi sedikit berbeda dengan pengomposan konvensional. Karena Bokashi adalah proses fermentasi (bukan pembusukan total), hasil akhirnya tidak langsung berupa tanah hitam, melainkan sampah yang masih terlihat utuh namun memiliki tekstur lunak dan aroma asam yang khas. Proses pemanenan ini melibatkan dua hasil utama: pupuk organik cair (lindii) dan sisa organik yang terfermentasi (pre-kompos).

Keberhasilan memanen Bokashi terletak pada ketepatan waktu dan cara pengaplikasiannya ke media tanam agar tidak merusak akar. Berikut adalah panduan taktis memanen dan menggunakan pupuk kompos dari metode Bokashi.

1. Mengenali Tanda Bokashi yang Siap Panen

Proses fermentasi biasanya memakan waktu sekitar 10 hingga 14 hari setelah wadah komposter penuh dan ditutup rapat.

  • Tanda Fisik: Sampah organik tidak hancur menjadi tanah, melainkan terlihat seperti "acar". Teksturnya menjadi sangat lunak dan kadang muncul lapisan jamur putih halus (actinomycetes) di permukaannya.
  • Tanda Aroma: Tercium aroma asam segar seperti tapai atau cuka. Jika aroma yang muncul adalah bau busuk menyengat seperti bangkai, berarti proses fermentasi gagal dan hasil tersebut tidak boleh langsung digunakan ke tanaman.

2. Pemanenan Cairan Lindi (Pupuk Organik Cair)

Cairan lindi adalah produk sampingan pertama yang bisa dipanen bahkan sebelum sampah padatnya siap.

  • Tindakan: Buka keran pada bagian bawah ember komposter setiap 2–3 hari selama proses fermentasi berlangsung.
  • Cara Penggunaan: Jangan menyiramkan cairan ini langsung ke tanaman karena tingkat keasamannya sangat tinggi (pH rendah). Encerkan dengan air menggunakan rasio 1:100 (10 ml lindi untuk 1 liter air). Gunakan untuk menyiram media tanam satu minggu sekali.

3. Proses Penimbunan (Penyelesaian Akhir)

Karena hasil padat Bokashi masih bersifat sangat asam, sampah ini tidak boleh langsung dicampur dengan tanaman yang sedang tumbuh. Sampah ini perlu melalui tahap "penyelesaian" di dalam tanah.

  • Tindakan: Gali lubang di tanah atau gunakan wadah besar berisi tanah sisa. Masukkan hasil padat Bokashi, lalu tutup kembali dengan lapisan tanah setebal 10–15 cm.
  • Durasi: Biarkan di dalam tanah selama 2 hingga 4 minggu. Dalam fase ini, mikroba tanah akan dengan cepat menghancurkan sampah terfermentasi tersebut menjadi tanah kompos yang kaya nutrisi.

4. Penggunaan untuk Tanaman di Pot atau Apartemen

Bagi pengguna di apartemen yang tidak memiliki lahan tanah terbuka, metode "pabrik tanah" (soil factory) adalah solusinya.

  • Strategi: Gunakan wadah plastik besar atau container. Campurkan hasil padat Bokashi dengan tanah bekas secara merata (rasio 1:2), lalu tutup bagian atasnya dengan lapisan tanah bersih.
  • Manfaat: Setelah 2 minggu, tanah di dalam wadah tersebut akan menjadi sangat subur dan siap digunakan sebagai media tanam baru bagi koleksi tanaman indoor.

5. Pemanfaatan sebagai Nutrisi Tanaman Keras

Jika memiliki tanaman pohon atau tanaman keras di pekarangan, Bokashi dapat diaplikasikan dengan metode parit.

  • Tindakan: Buat parit kecil melingkar di sekitar area perakaran tanaman (sekitar 30 cm dari batang). Masukkan hasil Bokashi ke dalam parit tersebut dan tutup kembali dengan tanah.
  • Hasil: Nutrisi akan dilepaskan secara perlahan (slow release) seiring dengan hancurnya materi organik oleh organisme tanah, memberikan asupan energi jangka panjang bagi tanaman.

Penutup: Menutup Siklus Nutrisi dengan Sempurna

Memanen Bokashi adalah bukti nyata keberhasilan mengelola limbah domestik secara mandiri. Meskipun membutuhkan tahap tambahan sebelum bisa digunakan, kualitas nutrisi yang dihasilkan sangat tinggi dan mampu memperbaiki struktur biologi tanah secara signifikan. Dengan pemanfaatan yang benar, sisa dapur yang tadinya sampah kini berubah menjadi pendukung utama kesuburan tanaman di rumah.

Logo Radio
🔴 Radio Live