Ceritra
Ceritra Warga

Anti-Bau! Cara Menjaga Keseimbangan Unsur Hijau dan Cokelat dalam Komposter Indoor

Refa - Friday, 06 February 2026 | 07:00 PM

Background
Anti-Bau! Cara Menjaga Keseimbangan Unsur Hijau dan Cokelat dalam Komposter Indoor
Ilustrasi kompos (Freepik/Freepik)

Mengolah sampah organik di dalam apartemen atau ruangan sempit sering kali memicu kekhawatiran akan munculnya aroma tidak sedap yang mengganggu kenyamanan. Bau menyengat pada kompos biasanya merupakan indikasi adanya proses dekomposisi yang tidak sempurna atau ketidakseimbangan unsur di dalam wadah pengomposan. Dengan metode yang tepat, proses pengomposan seharusnya hanya mengeluarkan aroma tanah yang segar atau bau asam ringan yang tidak mengganggu.

Kunci utama dalam pengomposan di ruang sempit adalah pengendalian kelembapan dan sirkulasi udara. Berikut adalah strategi taktis mengatasi dan mencegah bau kompos di dalam apartemen.

1. Gunakan Metode "Bokashi" untuk Ruangan Tertutup

Metode Bokashi adalah pilihan terbaik untuk penghuni apartemen karena prosesnya bersifat anaerob (tanpa udara) dan dilakukan dalam wadah tertutup rapat.

  • Cara Kerja: Metode ini menggunakan starter bakteri (EM4 atau Bokashi Bran) yang memfermentasi sampah, bukan membusukkannya.
  • Keunggulan: Karena wadahnya kedap udara, aroma sampah tidak akan keluar ke ruangan. Hasil akhirnya adalah sampah yang terfermentasi dengan bau mirip acar atau tapai yang segar.

2. Jaga Keseimbangan Unsur Hijau dan Cokelat

Penyebab utama bau busuk yang menyengat (seperti telur busuk atau amonia) adalah terlalu banyaknya unsur "Hijau" (sampah dapur yang basah) tanpa diimbangi unsur "Cokelat" (materi kering).

  • Tindakan: Setiap kali memasukkan sampah dapur (sisa sayur/buah), lapisi atasnya dengan unsur cokelat seperti potongan kardus bekas, serbuk gergaji, atau cacahan kertas koran.
  • Rasio Ideal: Gunakan perbandingan volume 1 bagian hijau : 2 bagian cokelat. Materi cokelat berfungsi menyerap kelebihan air dan mengunci bau.

3. Hindari Memasukkan Bahan Pemicu Bau

Dalam ruang sempit dengan sirkulasi udara terbatas, sangat penting untuk menyaring apa yang masuk ke dalam wadah kompos.

  • Daftar Larangan: Jangan memasukkan sisa daging, tulang, produk susu (keju/susu), minyak, atau kotoran hewan peliharaan.
  • Alasan: Bahan-bahan tersebut membutuhkan waktu lama untuk hancur dan akan mengeluarkan bau busuk yang sangat kuat selama proses pembusukan, serta berpotensi mengundang lalat dan tikus ke dalam apartemen.

4. Pastikan Drainase Cairan Berjalan Lancar

Cairan berlebih yang menggenang di dasar wadah kompos adalah sumber utama bau tidak sedap akibat proses pembusukan anaerob yang liar.

  • Solusi: Gunakan wadah komposter yang memiliki keran di bagian bawah (ember tumpuk). Kuras cairan lindi (leachate) secara rutin setiap 2–3 hari sekali.
  • Manfaat: Cairan yang dikuras ini bisa diencerkan dan digunakan langsung sebagai pupuk cair, sementara sisa sampah di dalam wadah tetap kering dan tidak berbau.

5. Gunakan Arang Aktif sebagai Penyerap Bau alami

Jika bau tetap muncul, manfaatkan bahan penyerap bau untuk menetralkan udara di sekitar area komposter.

  • Tindakan: Letakkan semangkuk kecil arang aktif atau bubuk kopi bekas yang sudah kering di dekat wadah kompos. Arang aktif sangat efektif menyerap molekul bau di udara.
  • Tips Tambahan: Bisa juga menempelkan filter karbon aktif pada bagian ventilasi wadah komposter untuk memastikan udara yang keluar tetap netral.

Penutup: Kompos Bersih, Udara Tetap Jernih

Mengompos di apartemen adalah langkah hebat untuk mendukung gaya hidup zero waste. Dengan menjaga keseimbangan materi dan memastikan tidak ada cairan yang mengendap, proses pengomposan akan berjalan senyap tanpa gangguan aroma. Kedisiplinan dalam memilah jenis sampah yang masuk akan menentukan keberhasilan mengolah limbah di ruang yang terbatas.

Logo Radio
🔴 Radio Live