Ceritra
Ceritra Warga

Waspada Kesedihan Ditinggal Orang Tercinta Bisa Picu Depresi Berat dan Diagnosis BPD

Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 11:16 AM

Background
Waspada Kesedihan Ditinggal Orang Tercinta Bisa Picu Depresi Berat dan Diagnosis BPD
Ilustrasi (Freepik/Drazen Zigic)

Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai baik karena putus hubungan perceraian atau kematian adalah salah satu pengalaman paling traumatis dalam hidup manusia. Banyak orang mengatakan bahwa waktu akan menyembuhkan luka. Namun bagi sebagian orang waktu seolah berhenti berputar saat orang terkasih pergi. Rasa sakit yang dirasakan bukan hanya sekadar sedih biasa melainkan sebuah kehancuran emosional yang total.

Kita sering mendengar istilah "patah hati" yang terdengar puitis. Namun secara medis dan psikologis dampak dari ditinggalkan bisa sangat mematikan. Ada kasus di mana kesedihan yang tidak tertangani dengan baik bermetamorfosis menjadi gangguan mental serius. Mulai dari depresi mayor hingga memicu munculnya gejala Borderline Personality Disorder atau BPD yang selama ini terpendam.

Artikel ini akan menyelami sisi gelap dari sebuah perpisahan. Kita akan membahas bagaimana otak dan tubuh bereaksi terhadap pengabaian mengapa rasa sakit itu bisa memicu gangguan kepribadian ambang dan langkah apa yang harus diambil jika Anda atau orang terdekat mulai menunjukkan tanda tanda bahaya ini. Simak ulasan lengkapnya agar kita lebih waspada terhadap kesehatan mental pasca trauma kehilangan.

Ketika Tubuh Bereaksi Terhadap Luka Batin

Langkah pertama memahami fenomena ini adalah menyadari bahwa patah hati bukan hanya terjadi di kepala tetapi juga di seluruh tubuh. Saat kita menjalin hubungan yang mendalam dengan seseorang otak kita menyinkronkan ritme biologis dengan orang tersebut. Mulai dari detak jantung ritme tidur hingga regulasi hormon.

Ketika orang tersebut tiba tiba menghilang sistem biologis tubuh mengalami syok atau withdrawal layaknya pecandu yang putus obat. Otak berhenti memproduksi dopamin dan oksitosin (hormon bahagia) secara mendadak dan menggantinya dengan banjir kortisol (hormon stres).

Akibatnya kesehatan fisik menurun drastis. Penderita sering mengalami insomnia kronis gangguan pencernaan berat penurunan atau kenaikan berat badan ekstrem hingga nyeri dada yang nyata. Dalam dunia medis ada kondisi yang disebut Takotsubo Cardiomyopathy atau Sindrom Patah Hati di mana otot jantung melemah mendadak karena stres emosional yang parah menyerupai gejala serangan jantung. Jadi rasa sakit di dada itu nyata bukan imajinasi.

Transisi dari Duka Menjadi Depresi Mayor

Kesedihan normal memiliki gelombang. Ada saat di mana Anda menangis tapi ada saat di mana Anda bisa tersenyum sebentar melihat meme lucu. Namun jika kesedihan itu menetap menjadi awan hitam yang permanen selama berminggu minggu atau berbulan bulan itu adalah tanda transisi menuju Depresi Mayor.

Kehilangan orang tercinta sering kali merenggut rasa identitas diri. "Siapa aku tanpa dia" adalah pertanyaan yang menghantui. Perasaan tidak berharga rasa bersalah yang irasional dan pandangan masa depan yang suram mendominasi pikiran. Penderita mulai kehilangan minat pada hobi menarik diri dari lingkungan sosial dan kesulitan melakukan aktivitas dasar seperti mandi atau makan.

Pada tahap ini fungsi otak bagian prefrontal cortex yang mengatur logika dan pengambilan keputusan mulai melemah. Sebaliknya bagian amigdala yang mengatur rasa takut dan emosi menjadi sangat aktif. Inilah sebabnya mengapa orang yang depresi karena cinta sulit dinasihati dengan logika "masih banyak ikan di laut". Bagi otak mereka laut itu sudah kering.

Munculnya Gejala Borderline Personality Disorder

Bagian yang paling kompleks dan sering kali mengejutkan adalah ketika trauma ditinggalkan memicu diagnosis Borderline Personality Disorder (BPD) atau Gangguan Kepribadian Ambang. Perlu dipahami bahwa perpisahan itu sendiri mungkin bukan penyebab tunggal BPD namun sering kali menjadi pemicu atau trigger terbesar bagi seseorang yang memiliki bakat genetik atau trauma masa kecil untuk memunculkan gejala BPD secara fulminan.

BPD ditandai dengan ketidakstabilan emosi yang ekstrem citra diri yang kacau dan impulsivitas. Salah satu kriteria diagnostik utama BPD adalah "upaya gila gilaan untuk menghindari pengabaian yang nyata atau imajiner".

Ketika seseorang dengan kecenderungan BPD ditinggalkan oleh orang yang mereka anggap sebagai Favorite Person (FP) dunia mereka runtuh seketika. Mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan untuk menenangkan diri. Rasa takut ditinggalkan yang selama ini mereka khawatirkan menjadi kenyataan dan ini memvalidasi keyakinan mereka bahwa mereka "memang tidak layak dicintai".

Dinamika Emosi Penderita BPD Pasca Perpisahan

Bagi penderita BPD kehilangan pasangan bukan sekadar kehilangan pacar tetapi kehilangan jangkar realitas. Reaksi yang muncul bisa sangat ekstrem dan menakutkan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pertama adalah Splitting atau pemikiran hitam putih. Sesaat mereka sangat mencintai mantan pasangannya dan memohon untuk kembali namun detik berikutnya mereka sangat membenci dan memaki maki mantan tersebut. Perubahan ini bisa terjadi dalam hitungan menit.

Kedua adalah rasa hampa kronis. Setelah ditinggal penderita BPD sering menggambarkan perasaan "kosong" di dada yang menyakitkan secara fisik. Untuk mengisi kekosongan ini mereka mungkin melakukan perilaku impulsif yang berbahaya. Contohnya belanja gila gilaan mengemudi ugal ugalan penyalahgunaan zat terlarang atau seks bebas yang tidak aman.

Ketiga adalah ideasi menyakiti diri sendiri. Rasa sakit emosional yang begitu intens membuat mereka mencari pelarian fisik. Tindakan self harm sering kali dilakukan bukan untuk mengakhiri hidup tetapi untuk mengalihkan rasa sakit batin ke rasa sakit fisik yang lebih bisa dikontrol. Ini adalah jeritan minta tolong yang sangat serius.

Mengapa Diagnosis Sering Terlambat

Sering kali dokter atau psikolog awalnya mendiagnosis kondisi ini sebagai depresi atau kecemasan biasa. Namun jika pengobatan standar depresi (seperti antidepresan) tidak memberikan hasil yang signifikan dan perilaku impulsif terus berlanjut barulah diagnosis BPD dipertimbangkan.

Kesulitan diagnosis juga terjadi karena gejala BPD sering tumpang tindih dengan Complicated Grief atau Duka yang Rumit. Perbedaannya terletak pada pola hubungan antarpribadi yang tidak stabil dan citra diri yang hancur yang lebih khas pada BPD.

Orang dengan BPD memiliki sensitivitas emosional yang jauh lebih tinggi daripada orang biasa. Jika orang normal merasakan sedih pada skala 5 orang dengan BPD merasakannya pada skala 10. Mereka seperti orang yang menderita luka bakar tingkat tiga di sekujur tubuh emosionalnya sentuhan sedikit saja sudah terasa sangat menyakitkan.

Langkah Penanganan dan Harapan Sembuh

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala ini setelah perpisahan ketahuilah bahwa ini bukan akhir segalanya. BPD dan depresi berat adalah kondisi medis yang bisa diobati treatable.

Terapi yang paling efektif untuk BPD adalah DBT atau Dialectical Behavior Therapy. Terapi ini mengajarkan pasien keterampilan untuk meregulasi emosi menoleransi penderitaan atau distress tolerance dan memperbaiki hubungan interpersonal. Pasien diajarkan cara menenangkan diri saat gelombang emosi datang tanpa harus melakukan tindakan impulsif.

Penggunaan obat obatan seperti penstabil suasana hati (mood stabilizer) atau antipsikotik dosis rendah juga mungkin diresepkan oleh psikiater untuk membantu meredakan badai emosi di otak.

Dukungan lingkungan juga krusial. Jangan hakimi mereka sebagai "drama queen" atau "bucin berlebihan". Mereka sedang berjuang melawan penyakit yang nyata. Validasi perasaan mereka dengarkan tanpa menghakimi dan arahkan untuk mencari bantuan profesional.

Kehilangan orang tercinta memang menghancurkan tetapi itu tidak mendefinisikan seluruh hidup Anda. Dengan penanganan yang tepat banyak penderita BPD dan depresi yang berhasil bangkit menemukan kembali identitas diri mereka dan membangun kehidupan yang layak untuk dijalani atau a life worth living. Ingatlah rasa sakit itu valid tetapi harapan untuk sembuh juga sama nyatanya.


Jika Anda memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, jangan ragu bercerita, konsultasi, atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Terlebih apabila pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri.

Untuk konsultasi, Anda dapat menghubungi nomor hotline Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Menur di 081-3472-753-07 via WhatsApp, setiap Senin-Kamis: 08.00-19.00 dan Jumat: 08.00-13.00 WIB. Atau mengakses layanan Love Inside Sucide Awareness (LISA) Kementerian Kesehatan di Call Center 119 atau hotline 08113855472. 

Logo Radio
🔴 Radio Live