Ceritra
Ceritra Warga

Tips Sukses Membuat Gerabah bagi Pemula

Refa - Wednesday, 17 December 2025 | 12:30 PM

Background
Tips Sukses Membuat Gerabah bagi Pemula
Ilustrasi Pottery (Pinterest/Vector Styles Inspiration)

Melihat pengrajin memutar tanah liat di meja putar (wheel throwing) sering kali terlihat mudah dan menenangkan. Namun, begitu tangan menyentuh tanah basah, realitanya sering kali berbeda: tanah oleng, dinding gelas runtuh, atau hasil karya retak saat dijemur.

Membuat gerabah adalah perpaduan antara seni rasa dan hukum fisika. Bagi mereka yang baru ingin mencoba atau sedang belajar di kelas pottery, berikut adalah kunci teknis agar tanah liat mau "menurut" dan menjadi karya yang cantik.

1. Jangan Remehkan Proses 'Wedging' (Uleni)

Kesalahan fatal sering terjadi bahkan sebelum tanah naik ke meja putar. Tanah liat wajib diuleni (wedging) dengan teknik khusus. Biasanya teknik spiral atau kepala domba.

Tujuannya bukan sekadar melembutkan, tetapi membuang gelembung udara. Udara yang terperangkap di dalam tanah liat adalah musuh utama. Saat proses pembakaran di suhu 900-1200 derajat Celcius, udara itu akan memuai dan bisa menyebabkan karya meledak di dalam tungku (kiln), yang berpotensi merusak karya-karya lain di sekitarnya. Pastikan tanah padat dan homogen sebelum dibentuk.

2. Siku Harus Menempel di Meja Putar

Saat menggunakan teknik putar (throwing), banyak pemula yang hanya mengandalkan kekuatan pergelangan tangan. Ini cara yang kurang tepat dan melelahkan.

Kunci kestabilan ada pada posisi tubuh. Siku tangan harus dikunci (ditempelkan) ke pinggul atau paha. Dengan cara ini, tangan menjadi kokoh karena ditopang oleh berat tubuh, bukan otot lengan semata.

Jika tangan goyang, tanah akan ikut goyang (wobbly). Tahap awal yang disebut Centering (memusatkan tanah di tengah piringan) adalah tahap paling krusial. Jika tanah sudah berputar sempurna di tengah tanpa terlihat goyang, barulah proses pembentukan dinding bisa dimulai.

3. Jaga Kelembapan Air (Lubrikasi)

Gesekan antara kulit tangan dan tanah yang berputar cepat bisa merusak bentuk jika terlalu kering. Air (atau lumpur cair/slip) berfungsi sebagai pelumas agar tangan bisa meluncur mulus.

Namun, jangan terlalu banjir. Menggunakan terlalu banyak air akan membuat dinding tanah liat menjadi lembek, jenuh, dan akhirnya runtuh ke bawah karena tidak kuat menahan beban sendiri. Gunakan air secukupnya hanya untuk menghilangkan kesat, dan sering-seringlah membersihkan genangan air di dasar pot dengan spons.

4. Rumus Sambungan: Gores dan Beri Lumpur

Ingin menempelkan pegangan gelas (handle) atau hiasan timbul? Jangan asal tempel. Tanah liat yang sekadar ditekan akan lepas saat kering karena penyusutan.

Gunakan teknik Scoring and Slipping.

Scoring, yaitu gores-gores kedua permukaan yang akan ditempel menggunakan jarum atau garpu hingga kasar. Slipping, oleskan lumpur cair (slip) yang berfungsi sebagai lem.

Goresan ini bertindak seperti "velcro" atau resleting yang saling mengunci, sementara lumpur cair menyatukan partikel tanahnya.

5. Sabar di Fase Pengeringan

Bagian paling menguji kesabaran adalah pengeringan. Banyak karya retak (crack) karena dikeringkan terlalu cepat di bawah matahari terik atau terkena angin kencang.

Tanah liat menyusut saat air menguap. Jika bagian bibir gelas kering duluan sementara bagian bawah masih basah, ketegangan akan terjadi dan memicu keretakan.

Idealnya, keringkan secara perlahan di tempat teduh (slow drying). Bungkus karya dengan plastik longgar selama satu atau dua hari pertama agar kelembapan merata. Kondisi terbaik untuk merapikan atau mengukir (trimming) adalah saat leather hard (setengah kering), di mana tanah sudah kokoh seperti keju cheddar tapi masih bisa dipotong.

Logo Radio
🔴 Radio Live