Ceritra
Ceritra Warga

Simbol @ yang Menguasai Dunia: Dari Pasar Ikan Abad Pertengahan ke Kolom Komentar Julid

Nisrina - Friday, 16 January 2026 | 10:15 AM

Background
Simbol @ yang Menguasai Dunia: Dari Pasar Ikan Abad Pertengahan ke Kolom Komentar Julid
Ilustrasi simbol at. (Freepik/)

Pernahkah kamu memandangi keyboard laptopmu, tepatnya di atas angka 2, dan bertanya-tanya siapa orang jenius atau orang iseng yang menciptakan simbol melingkar aneh bernama "@" ini? Simbol yang kita sebut at sign atau dengan kearifan lokal disebut "keong" ini sekarang adalah raja di dunia digital. Tanpa dia, kamu tidak bisa log in ke Instagram, tidak bisa kirim email lamaran kerja, dan yang paling parah, tidak bisa mention teman kamu di kolom komentar akun gosip. Tapi tahukah kamu kalau simbol ini sebenarnya sudah tua banget? Umurnya jauh lebih tua daripada internet, bahkan lebih tua daripada kakek buyutmu.

Sejarah mencatat bahwa simbol ini sudah eksis sejak berabad-abad yang lalu, digunakan oleh para biarawan yang malas nulis panjang atau pedagang pasar di Eropa. Dulu, simbol ini dipakai sebagai singkatan akuntansi dalam transaksi dagang, misalnya untuk menyebut harga satuan anggur atau ikan. Jadi, nenek moyang simbol "@" ini adalah alat hitung pedagang pasar, bukan alat gaul anak Jaksel. Transformasi nasibnya benar-benar glow up parah. Dari catatan kumuh pedagang yang bau amis ikan, sekarang dia jadi kunci identitas digital miliaran manusia. Kalau ada penghargaan untuk simbol paling sukses beradaptasi, pialanya harus dikasih ke si keong ini.

Orang yang bertanggung jawab menyelamatkan simbol ini dari kepunahan dan membawanya ke era teknologi adalah Ray Tomlinson, bapak email dunia. Pada tahun 1971, Ray bingung mencari pemisah antara nama pengguna dan nama komputer dalam sistem surat elektronik pertamanya. Dia melirik keyboard dan melihat simbol "@" yang saat itu jarang dipakai dan nganggur di pojokan. Dia pikir, "Ah, pakai ini aja deh, bentuknya lucu dan artinya 'di' atau at." Keputusan iseng Ray inilah yang mengubah sejarah komunikasi manusia selamanya. Bayangkan kalau Ray waktu itu memilih tanda seru, alamat email kita bakal terlihat seperti orang yang sedang ngegas seumur hidup.

Di berbagai negara, simbol ini punya nama panggilan yang kocak. Di Indonesia kita sebut keong karena bentuknya melingkar kayak rumah siput. Di Belanda disebut "ekor monyet", di Italia disebut "siput kecil", dan di Israel malah disebut "strudel" karena mirip kue gulung. Apapun namanya, fungsi simbol ini sekarang sangat vital. Dia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain di dunia maya. Satu ketikan "@" bisa memanggil teman untuk melihat meme lucu, atau bisa juga memanggil musuh untuk memulai perang komentar yang tak berkesudahan.

Jadi, setiap kali kamu mengetik "@" untuk membalas pesan atau tag seseorang di story, ingatlah bahwa kamu sedang menggunakan artefak sejarah yang sudah menempuh perjalanan panjang. Dari pasar abad pertengahan hingga ke layar sentuh smartphone canggihmu, si keong kecil ini membuktikan bahwa hal kecil dan remeh pun bisa mengubah dunia kalau berada di tangan (atau jari) yang tepat. Hormatilah si keong, karena tanpanya, kita semua hanyalah netizen tanpa alamat yang jelas.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live