Ceritra
Ceritra Warga

Makan Sayur Biar Sehat, Eh Malah Bonus Parkinson: Plot Twist Ngeri di Piring Kita

Nisrina - Friday, 16 January 2026 | 09:15 AM

Background
Makan Sayur Biar Sehat, Eh Malah Bonus Parkinson: Plot Twist Ngeri di Piring Kita
Penyakit Parkinson yang menyebabkan otot menjadi kaku. (Freepik/)

Sejak kecil kita didoktrin oleh orang tua, guru, hingga karakter kartun Popeye bahwa makan sayur adalah kunci keabadian. Makan bayam biar kuat, makan wortel biar mata tajam setajam silet, dan makan buah biar kulit glowing. Tapi ternyata, dunia modern yang penuh tipu daya ini menyisipkan plot twist yang cukup mengerikan di balik hijaunya sayuran kita. Di balik kesegaran yang menggoda itu, sering kali tersembunyi residu pestisida yang tak kasat mata. Zat kimia yang tugas mulianya membasmi hama ulat dan belalang ini ternyata punya hobi sampingan yang jahat, yaitu menggerogoti sistem saraf manusia secara perlahan tapi pasti.

Studi terbaru yang bikin bulu kuduk merinding menyebutkan kalau paparan pestisida tertentu bisa meningkatkan risiko terkena penyakit Parkinson hingga dua kali lipat. Bayangkan ironinya, kita mati-matian makan salad dan jus sayur demi hidup sehat sampai tua, eh pas tua malah tangan gemetar tak terkendali bukan karena grogi, tapi karena efek racun yang kita telan bertahun-tahun. Pestisida ini ibarat tamu tak diundang yang masuk ke pesta tubuh kita, lalu mengacak-acak perabotan di dalam otak. Dia tidak langsung membunuh, tapi dia menabung kerusakan sedikit demi sedikit sampai akhirnya "bom waktu" kesehatan itu meledak saat kita sudah pensiun dan ingin menikmati hidup.

Tentu saja fakta ini bikin kita parno setengah mati. Mau makan daging takut kolesterol, mau makan sayur takut pestisida, mau makan angin takut masuk angin. Hidup memang serba salah. Tapi jangan buru-buru memboikot tukang sayur keliling atau memutuskan untuk jadi manusia yang hanya makan suplemen pil. Tubuh kita tetap butuh serat dan vitamin dari tanaman asli. Solusinya bukan berhenti makan, tapi menjadi konsumen yang sedikit lebih rewel dan rajin. Mencuci sayur dan buah itu bukan sekadar dibilas air keran dua detik asal basah. Itu namanya memandikan sayur, bukan membersihkan.

Cucilah sayuran di bawah air mengalir sambil digosok-gosok dengan penuh perasaan, seolah kamu sedang memijat punggung sendiri yang pegal linu. Kalau perlu, gunakan larutan pencuci khusus atau air garam dan soda kue untuk meluruhkan lapisan lilin dan residu kimia yang nempelnya ngalahin perangko. Bagi yang punya dompet tebal, beralih ke produk organik mungkin bisa jadi opsi investasi kesehatan masa depan. Memang harganya sering kali tidak masuk akal dan bentuk sayurnya kadang tidak mulus karena dimakan ulat (yang menandakan bebas racun), tapi anggap saja itu biaya asuransi biar nggak kena Parkinson.

Intinya, jangan biarkan ketakutan akan pestisida membuat kita berhenti makan sayur. Musuh kita bukan kangkung atau apelnya, tapi zat kimia yang menempel di luarnya. Jadilah pemakan yang cerdas. Jangan sampai niat hati ingin badan sehat bugar, malah jadi penyakitan gara-gara malas cuci sayur. Ingat, kesehatan itu mahal, tapi biaya rumah sakit jauh lebih mahal. Jadi luangkan waktu lima menit ekstra di dapur untuk mencuci bahan makanan, demi masa tua yang tenang dan tangan yang tetap stabil saat memegang cangkir teh.

Logo Radio
🔴 Radio Live