Tips Atasi Ajakan Bukber yang Bikin Kantong Kering
Refa - Friday, 20 February 2026 | 10:00 AM


Ramadhan Tiba, Dompet Merana: Cara Menolak Bukber Tanpa Dicap Sombong
Baru juga masuk minggu pertama puasa, grup WhatsApp sudah mulai 'panas'. Notifikasi yang tadinya cuma berisi info kerjaan atau meme receh, tiba-tiba berubah jadi medan perang koordinasi. "Eh, kapan nih bukber?" atau "Yuk, mumpung personil lengkap!" mulai bertebaran. Di satu sisi, ada rasa hangat karena masih diingat teman lama. Di sisi lain, saldo di m-banking seolah memberikan tatapan sinis, mengingatkan bahwa ada cicilan dan kebutuhan Lebaran yang sudah mengantre di depan pintu.
Mari kita jujur, Ramadan yang seharusnya menjadi bulan menahan hawa nafsu sering kali berubah menjadi bulan "balas dendam" kuliner. Fenomena Buka Bersama alias Bukber sudah mendarah daging dalam budaya kita. Masalahnya, kalau semua ajakan dari SD, SMP, SMA, kuliah, hingga rekan kerja kantor lama diiyakan, bisa-bisa dompet kita mengalami fase "puasa" yang lebih ekstrem daripada perut kita sendiri. Satu kali bukber di kafe atau restoran di Jakarta, misalnya, minimal bisa menghabiskan 100 ribu hingga 200 ribu rupiah. Kalikan saja dengan lima atau tujuh undangan. Boncos adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi keuangan setelahnya.
Strategi Kurasi: Memilih Mana yang Perlu, Mana yang Cuma FOMO
Langkah pertama dalam strategi budgeting Ramadan bukanlah mencatat setiap pengeluaran, melainkan melakukan kurasi mental. Kita perlu sadar bahwa tidak semua ajakan bukber itu esensial. Ada kalanya kita ikut bukber hanya karena rasa takut ketinggalan alias FOMO (Fear of Missing Out). Padahal, di sana kita mungkin cuma duduk diam, main HP, dan hanya ngobrol formalitas dengan orang yang sebenarnya sudah tidak terlalu nyambung dengan kita.
Coba buat skala prioritas. Pilih dua atau maksimal tiga lingkaran pertemanan yang memang benar-benar berkualitas. Teman dekat yang tahu luar-dalam hidup kita atau keluarga besar yang memang jarang bertemu. Selebihnya? Kamu punya hak prerogatif untuk berkata tidak. Ingat, menjaga kesehatan finansial itu sama pentingnya dengan menjaga pahala puasa. Jangan sampai pas lebaran tiba, kamu malah pusing tujuh keliling karena uang THR sudah habis buat bayar bill restoran yang makanannya bahkan tidak sempat kamu nikmati saking ramainya tempat tersebut.
Seni Menolak Tanpa Bikin Sakit Hati
Menolak ajakan bukber itu ada seninya. Jangan langsung bilang, "Nggak ada duit," meskipun itu faktanya. Kesannya terlalu tragis. Gunakan alasan-alasan yang logis namun tetap sopan. Misalnya, dengan alasan "Jadwal sudah penuh minggu ini," atau "Lagi fokus buka puasa bareng keluarga di rumah." Ini adalah alasan yang sangat manusiawi dan sulit untuk dibantah.
Kalau kamu merasa tidak enak hati, gunakan teknik postponing atau menunda. Kamu bisa bilang, "Wah, kalau bukber sekarang kayaknya belum bisa, gimana kalau kita ketemunya setelah Lebaran aja? Biar lebih santai dan nggak perlu rebutan tempat." Biasanya, setelah Lebaran, euforia kumpul-kumpul sudah menurun dan orang-orang sudah kembali sibuk. Dengan begitu, kamu bisa menghemat budget bukber yang mahal dan menggantinya dengan kopi santai yang jauh lebih murah.
Alternatif lainnya adalah dengan jujur mengenai kondisi social battery. Di zaman sekarang, orang-orang mulai paham bahwa setiap individu punya limit dalam bersosialisasi. Mengatakan bahwa kamu sedang butuh waktu istirahat di rumah setelah seharian bekerja sambil berpuasa adalah alasan yang sangat valid. Teman yang baik pasti akan mengerti bahwa kehadiran fisikmu tidak bisa dipaksakan jika kondisi mental dan fisikmu sedang tidak mendukung.
Bukber Low Budget: Solusi Tengah yang Menyenangkan
Kalau masalah utamanya memang benar-benar soal uang, kenapa tidak menawarkan alternatif yang lebih ramah kantong? Bukber tidak harus selalu di mal atau restoran fancy yang mengharuskan kita war reservasi seminggu sebelumnya. Coba usulkan konsep potluck di rumah salah satu teman atau di taman kota yang menyediakan fasilitas umum. Setiap orang membawa satu jenis makanan, lalu dimakan bersama. Selain lebih intim, biayanya pun bisa ditekan seminimal mungkin.
Atau pilih tempat makan pinggir jalan yang legendaris. Esensinya kan silaturahmi, bukan adu gengsi soal siapa yang paling keren update Instagram Story di restoran mahal. Terkadang, makan gorengan dan es campur di pinggir jalan sambil tertawa lepas jauh lebih membekas di ingatan daripada makan steak mahal tapi suasananya kaku dan bising.
Konsistensi Adalah Kunci
Pada akhirnya, strategi budgeting Ramadhan ini kembali ke prinsip masing-masing. Ramadhan adalah momen untuk merefleksikan diri, bukan untuk pamer gaya hidup. Dengan berani berkata "tidak" pada ajakan yang sekiranya memberatkan, kamu sebenarnya sedang melakukan self-care terhadap kesehatan finansialmu. Jangan biarkan tekanan sosial merusak kedamaian ibadahmu.
Tetapkan budget khusus untuk bukber sejak awal bulan. Jika budget itu sudah habis, maka itulah saatnya kamu berhenti dan mulai menikmati masakan ibu atau masakan sendiri di rumah. Percayalah, masakan rumah saat berbuka puasa punya kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dibeli dengan harga berapapun di restoran bintang lima. Jadi, sudah siap untuk menyaring grup WhatsApp hari ini? Tetap tenang, tetap hemat, dan selamat menjalani sisa Ramadhan dengan dompet yang tetap sehat!
Next News

Jangan Tertipu Harga Murah Kenali Risiko Barang Cepat Rusak
13 minutes ago

Jangan Kalap Diskon Lebaran! Simak Cara Belanja Bijak
3 hours ago

Beli Karena Butuh atau Cuma Laper Mata? Cara Berhenti Jadi Korban Impulsive Buying di Media Sosial
3 days ago

Hati-Hati Gaya Hidup Mewah Saat Gaji Naik, Ini Solusinya
3 days ago

Sungkan Menagih Hutang? Coba 4 Kalimat Ampuh Ini
4 days ago

Jangan Canggung Lagi! 4 Kalimat Ampuh Menolak Permintaan Pinjam Uang secara Sopan
4 days ago

5 Trik Halus Menagih Hutang Tanpa Canggung
6 days ago

Nongkrong Tanpa Drama dengan 5 Aplikasi Split Bill Ini
6 days ago

5 Pertanyaan Finansial Wajib Sebelum Melangkah ke Pelaminan
7 days ago

Cara Membangun Kepercayaan Melalui Manajemen Uang Bersama
8 days ago






