Ceritra
Ceritra Uang

Beli Karena Butuh atau Cuma Laper Mata? Cara Berhenti Jadi Korban Impulsive Buying di Media Sosial

Refa - Tuesday, 17 February 2026 | 12:00 PM

Background
Beli Karena Butuh atau Cuma Laper Mata? Cara Berhenti Jadi Korban Impulsive Buying di Media Sosial
Ilustrasi tas belanja (pexels.com/Sora Shimazaki )

Misteri Keranjang Kuning: Kenapa Kita Hobi Beli Barang yang Berakhir Jadi Pajangan?

Pernah nggak sih, kalian lagi asyik scrolling media sosial jam dua pagi, terus tiba-tiba besok siangnya ada kurir ngetok pintu bawa paket isinya pembersih telinga elektrik yang ada kameranya? Padahal, telinga kalian baik-baik saja dan korek kuping kapas biasa pun masih sisa setengah pak di laci. Pas barangnya sampai, kalian cuma pakai sekali, terus bingung mau ditaruh mana karena ternyata makainya ribet banget. Selamat, kalian baru saja menjadi korban dari rumitnya psikologi uang dan permainan otak kita sendiri.

Fenomena "beli barang nggak butuh" ini bukan cuma masalah kurang kontrol diri atau karena saldo rekening lagi lucu-lucunya. Ada alasan sains dan psikologis yang bikin jempol kita seolah-olah punya nyawa sendiri pas lihat tombol check out. Kita sering kali merasa sedang melakukan investasi buat kebahagiaan, padahal kenyataannya kita cuma lagi memuaskan rasa haus hormon yang sifatnya sementara banget.

Dopamin: Pelaku Utama di Balik Kata "Khilaf"

Kalau kita mau menyalahkan seseorang (atau sesuatu) atas belanjaan yang nggak penting, salahkanlah dopamin. Otak manusia itu didesain untuk menyukai kejutan dan antisipasi. Menariknya, kadar dopamin atau hormon bahagia kita itu memuncak bukan saat kita sudah memegang barangnya, tapi justru saat kita sedang memilih-milih dan menekan tombol beli. Itulah kenapa proses window shopping secara online itu nagih banget.

Bayangin rasa deg-degan nunggu paket datang. Perasaan "penasaran" itulah yang dicari otak kita. Begitu paket dibuka, barangnya dilihat, eh, rasa senangnya cuma bertahan lima menit. Setelah itu? Ya sudah, barangnya masuk lemari, dan otak kita mulai nagih "dosis" berikutnya. Kita nggak benar-benar butuh barangnya, kita cuma butuh sensasi berburunya. Istilah kerennya, kita itu jatuh cinta sama ide kepemilikan, bukan kegunaan barang itu sendiri.

Jebakan Diskon dan Efek Psikologi Angka

Pernah lihat tulisan "Diskon 70% hanya hari ini!" atau "Beli 2 gratis 1"? Secara logika, kalau kita beli barang yang nggak kita butuhin pas lagi diskon, kita nggak "hemat 70%," tapi kita tetap "rugi 30%." Tapi ya namanya juga manusia, logika sering kali kalah sama emosi. Di dunia psikologi, ini namanya anchoring effect.

Kita cenderung terpaku pada harga awal yang mahal banget sebagai patokan. Begitu harganya turun, otak kita langsung teriak, "Wah, murah nih! Kalau nggak beli sekarang, rugi!" Padahal mah, kalau nggak beli sama sekali, uang kita tetap utuh 100 persen. Belum lagi teknik harga psikologis kayak Rp199.000 yang kelihatan jauh lebih murah daripada Rp200.000. Padahal bedanya cuma seribu perak, tapi di mata kita, barang itu masuk kategori "seratus ribuan," bukan "dua ratus ribu." Murah banget, kan? (Padahal nggak juga).

Diderot Effect: Satu Barang yang Merusak Segalanya

Ada satu teori menarik yang namanya Diderot Effect. Diambil dari nama filsuf Prancis, Denis Diderot, yang ceritanya dapet hadiah jubah merah mewah. Masalahnya, begitu dia pakai jubah itu, dia ngerasa perabotan rumahnya jadi kelihatan kumal dan nggak level sama jubah barunya. Akhirnya, dia beli kursi baru, meja baru, sampai karpet baru cuma biar serasi sama satu jubah itu.

Relate nggak? Ini sering terjadi pas kita beli gadget baru. Awalnya cuma beli HP, terus ngerasa casing lamanya nggak cocok, beli casing baru. Habis beli casing, ngerasa butuh TWS yang warnanya senada. Habis itu butuh power bank yang mendukung fast charging-nya. Siklus ini nggak bakal berhenti sampai kita sadar kalau dompet sudah mulai menjerit minta tolong. Kita membeli barang bukan karena fungsinya, tapi karena kita ingin menjaga citra atau identitas tertentu yang konsisten.

Self-Reward yang Kebablasan

Di zaman sekarang, ada narasi Self-Reward atau Healing yang sering banget jadi pembenaran buat belanja impulsif. "Gue udah kerja keras seminggu ini, masa beli sepatu baru aja nggak boleh?" Begitu pikir kita. Memang bener sih, kita butuh apresiasi diri sendiri. Tapi masalahnya, batas antara menghargai diri dan merusak keuangan pribadi itu tipis banget, setipis tisu dibagi dua.

Kita sering pakai belanja sebagai pelarian dari stres atau emosi negatif. Lagi sedih? Belanja. Lagi marah sama bos? Check out Shopee. Lagi bosan? Scroll TikTok Shop. Belanja jadi semacam plester buat luka emosional. Padahal, luka itu nggak bakal sembuh cuma karena kita punya koleksi tumbler warna-warni yang harganya bisa buat makan seminggu. Yang ada malah kita makin stres pas akhir bulan lihat tagihan kartu kredit atau saldo ATM yang tinggal digit terakhir nomor handphone.

Gimana Caranya Biar Nggak Gampang "Laper Mata"?

Jujurly, susah banget buat bener-bener berhenti belanja impulsif di tengah gempuran iklan yang makin pintar baca pikiran kita lewat algoritma. Tapi, ada satu trik lama yang masih ampuh: aturan 24 jam. Kalau kalian lihat barang lucu dan pengen banget beli, masukkan dulu ke keranjang, terus tutup aplikasinya. Tunggu sampai besok. Biasanya, besok pagi pas bangun tidur, keinginan itu sudah menguap, dan kalian bakal mikir, "Ngapain juga ya kemarin gue mau beli alat pemotong bawang bentuk dinosaurus ini?"

Intinya, memahami psikologi uang bukan berarti kita nggak boleh belanja sama sekali. Hidup juga butuh kesenangan, kok. Tapi, ada baiknya kita mulai sadar kapan kita belanja karena butuh, dan kapan kita cuma lagi dikerjain sama hormon dopamin dan strategi marketing yang licin. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati itu nggak datang dari tumpukan kardus paket di depan pintu, tapi dari rasa tenang karena punya tabungan yang cukup buat masa depan.

Jadi, sebelum nge-klik 'Bayar Sekarang' buat barang aneh berikutnya, coba tanya ke diri sendiri: ini barang beneran bakal kepakai, atau cuma bakal jadi penghuni baru di museum barang nggak berguna di gudang rumah?

Logo Radio
🔴 Radio Live