Hati-Hati Gaya Hidup Mewah Saat Gaji Naik, Ini Solusinya
Refa - Tuesday, 17 February 2026 | 11:00 AM


Lifestyle Inflation: Mengapa Gaji Naik Seringkali Tidak Terasa Cukup? Ini Cara Mengeremnya
Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja mendapatkan kabar gembira dari atasan. Kerja kerasmu selama setahun terakhir membuahkan hasil berupa kenaikan gaji yang cukup signifikan. Angkanya lumayan, bisa buat cicil motor baru atau setidaknya lebih sering makan di restoran yang ada pelayannya, bukan yang kita ambil nasi sendiri. Di kepala sudah terbayang daftar keinginan yang selama ini tertunda. Akhirnya, mimpi untuk punya gadget terbaru atau sekadar upgrade skin care ke merek yang lebih high-end bisa terwujud.
Namun, anehnya, setelah tiga bulan berjalan dengan gaji baru, saldo di rekeningmu di akhir bulan tetap saja mepet. Fenomena "numpang lewat" masih tetap terjadi, bahkan rasanya lebih parah dari saat gajimu masih di angka sebelumnya. Kamu mulai bertanya-tanya, kemana perginya uang-uang itu? Kenapa kenaikan gaji dua digit tidak membuat hidup terasa lebih longgar? Selamat datang di jebakan Batman dunia finansial yang bernama lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup.
Apa Itu Lifestyle Inflation?
Secara sederhana, lifestyle inflation adalah kondisi di mana pengeluaranmu meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Ini adalah jebakan psikologis yang sangat halus. Saat kita punya uang lebih, standar "kebutuhan" kita biasanya ikut bergeser secara otomatis. Dulu, minum kopi saset di meja kantor sudah cukup buat melek. Sekarang, rasanya kurang afdol kalau nggak memesan kopi susu kekinian lewat aplikasi ojek online yang harganya setara dengan tiga porsi makan siang di warteg.
Masalahnya, kenaikan biaya hidup ini seringkali tidak kita sadari karena dianggap sebagai reward atas kerja keras kita. Kalimat sakti "Gue kan sudah kerja capek, masa nggak boleh memanjakan diri sendiri?" seringkali menjadi pembenaran paling ampuh untuk menguras isi dompet. Tanpa sadar, kita terjebak dalam lingkaran setan di mana kita bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang lebih banyak, hanya untuk menghabiskannya pada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Kenapa Kita Begitu Mudah Terjebak?
Ada beberapa alasan mengapa lifestyle inflation ini begitu sulit dihindari. Pertama, faktor media sosial. Kita hidup di zaman di mana kesuksesan sering diukur dari apa yang terlihat di feed Instagram atau TikTok. Melihat teman nongkrong di kafe estetik atau pamer liburan ke luar negeri secara tidak langsung menciptakan tekanan sosial. Kita merasa harus keep up agar tidak terlihat tertinggal secara finansial.
Kedua, adanya fenomena hedonic treadmill. Ini adalah kecenderungan manusia untuk cepat beradaptasi dengan tingkat kebahagiaan baru. Saat gaji naik, kamu merasa bahagia. Kamu membeli barang baru, kebahagiaanmu melonjak. Tapi, tidak lama kemudian, barang itu jadi hal yang biasa saja, dan kamu butuh "dosis" belanja yang lebih tinggi lagi untuk mendapatkan level kebahagiaan yang sama. Akhirnya, kamu terus berlari tapi tetap di tempat yang sama secara finansial.
Ketiga, kurangnya literasi keuangan dan perencanaan yang matang. Banyak orang yang ketika melihat angka di saldo naik, langsung berpikir "Gue bisa beli apa ya?", bukan "Gue bisa nabung berapa ya?". Mindset konsumtif ini sudah tertanam begitu dalam di masyarakat kita, apalagi dengan kemudahan akses pinjaman online dan paylater yang membuat barang impian terasa seolah-olah sangat terjangkau.
Cara Mengerem Inflasi Gaya Hidup Agar Tak Jadi Boncos
Terus, apakah kita tidak boleh menikmati hasil kerja keras? Tentu saja boleh. Hidup bukan cuma tentang menimbun uang sampai tua. Namun, kunci utamanya adalah moderasi dan kesadaran penuh. Berikut adalah beberapa tips buat kamu yang ingin mengerem gaya hidup agar tidak kebablasan:
- Terapkan Aturan 24 Jam atau 30 Hari: Saat kamu melihat barang yang sangat kamu inginkan, jangan langsung check out. Tunggu 24 jam untuk barang kecil, atau 30 hari untuk barang besar seperti gadget atau kendaraan. Biasanya, setelah emosi mereda, keinginan menggebu-gebu itu akan hilang dan kamu baru sadar kalau barang itu sebenarnya nggak butuh-butuh amat.
- Pertahankan Standar Hidup yang Lama: Ini tantangan paling berat. Saat gaji naik, cobalah untuk tetap hidup dengan anggaran saat gajimu masih lama. Alokasikan selisih kenaikan gaji itu langsung ke tabungan, investasi, atau dana darurat secara otomatis di awal bulan. Jangan biarkan uang itu mengendap di rekening utama yang gampang kamu pakai buat jajan.
- Bedakan Keinginan vs Kebutuhan dengan Jujur: Tanyakan pada dirimu sendiri, "Kalau gue nggak posting barang ini di media sosial, apakah gue tetap bakal membelinya?". Jika jawabannya ragu-ragu, kemungkinan besar itu hanyalah keinginan untuk validasi sosial, bukan kebutuhan fungsional.
- Buat Budget "Self-Reward" yang Jelas: Jangan mematikan kesenanganmu sepenuhnya. Alokasikan persentase tertentu, misalnya 10% dari gaji, khusus untuk hobi atau kesenangan pribadi. Dengan begitu, kamu tetap bisa "healing" tanpa merasa bersalah karena anggarannya sudah dikunci sejak awal.
- Fokus pada Pengalaman, Bukan Barang: Barang material akan menyusut nilainya dan rasa senangnya biasanya singkat. Cobalah alihkan uangmu untuk pengalaman seperti belajar skill baru, traveling (yang terencana), atau sekadar makan malam berkualitas dengan orang tersayang. Investasi pada memori seringkali lebih memuaskan daripada sekadar punya handphone baru setiap tahun.
Kesimpulan: Uang Banyak Bukan Jaminan Bahagia
Pada akhirnya, berapa pun gajimu, kalau kamu tidak punya rem yang pakem dalam gaya hidup, kamu akan selalu merasa kekurangan. Financial freedom bukan soal seberapa besar pendapatanmu, tapi seberapa besar jarak antara pendapatan dan pengeluaranmu. Semakin besar celah itu, semakin merdeka kamu secara finansial.
Jadi, mumpung gajian masih baru saja cair atau mungkin kamu sedang menunggu momen promosi, mulailah berdamai dengan dirimu sendiri. Tidak perlu memaksakan diri tampil mewah di mata orang lain jika di akhir bulan kamu harus pusing tujuh keliling mencari pinjaman. Menjadi kaya secara diam-diam jauh lebih menyenangkan daripada terlihat kaya padahal sebenarnya megap-megap dikejar tagihan. Yuk, mulai ngerem pelan-pelan!
Next News

Beli Karena Butuh atau Cuma Laper Mata? Cara Berhenti Jadi Korban Impulsive Buying di Media Sosial
11 hours ago

Sungkan Menagih Hutang? Coba 4 Kalimat Ampuh Ini
a day ago

Jangan Canggung Lagi! 4 Kalimat Ampuh Menolak Permintaan Pinjam Uang secara Sopan
a day ago

5 Trik Halus Menagih Hutang Tanpa Canggung
3 days ago

Nongkrong Tanpa Drama dengan 5 Aplikasi Split Bill Ini
3 days ago

5 Pertanyaan Finansial Wajib Sebelum Melangkah ke Pelaminan
4 days ago

Cara Membangun Kepercayaan Melalui Manajemen Uang Bersama
5 days ago

Lawan Inflasi dengan Gaya! Cara Memulai Underconsumption Core
5 days ago

Cara Menghitung Untung-Rugi Asuransi Ponsel Baru
7 days ago

Mengapa Investment-Grade Jewelry Menjadi Primadona?
7 days ago





