Ceritra
Ceritra Uang

5 Pertanyaan Finansial Wajib Sebelum Melangkah ke Pelaminan

Nisrina - Friday, 13 February 2026 | 12:11 PM

Background
5 Pertanyaan Finansial Wajib Sebelum Melangkah ke Pelaminan
Ilustrasi (Shuttestock/)

Membicarakan uang dengan pasangan sering kali dianggap sebagai sebuah hal yang tabu dan mematikan suasana romantis. Dalam budaya kita ada ketakutan tersendiri akan dicap sebagai orang yang materialistis atau perhitungan jika menanyakan urusan dompet kepada kekasih. Padahal mengabaikan percakapan finansial ini adalah salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan oleh pasangan muda.

Cinta memang butuh pengorbanan dan perasaan yang tulus namun pernikahan adalah sebuah kemitraan hidup yang sangat nyata. Saat Anda memutuskan untuk hidup bersama urusan cinta akan langsung berbenturan dengan realitas tagihan listrik cicilan rumah biaya belanja bulanan hingga dana pendidikan anak. Berdasarkan berbagai survei masalah keuangan selalu menempati urutan teratas sebagai penyebab utama perceraian di seluruh dunia.

Membangun keterbukaan finansial sejak masa pacaran adalah kunci untuk mencegah yang namanya perselingkuhan finansial di masa depan. Anda harus memastikan bahwa Anda dan pasangan memiliki frekuensi yang sama dalam memandang uang. Artikel ini akan memandu Anda melalui lima pertanyaan finansial paling krusial yang wajib Anda diskusikan secara terbuka dan dewasa sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

1. Bagaimana Kondisi Utang dan Cicilan Saat Ini?

Ini adalah pertanyaan pertama dan yang paling penting untuk ditanyakan. Membawa utang rahasia ke dalam sebuah pernikahan sama halnya dengan menaruh bom waktu di dalam rumah tangga Anda. Anda berhak tahu dan wajib tahu status finansial pasangan Anda saat ini secara transparan.

Tanyakan apakah pasangan Anda memiliki utang kartu kredit cicilan kendaraan kredit tanpa agunan atau bahkan pinjaman online (pinjol) dan paylater yang belum lunas. Jangan hanya bertanya soal nominalnya tetapi tanyakan juga bagaimana rencana mereka untuk melunasinya. Apakah mereka membayarnya tepat waktu setiap bulan atau sering menunggak.

Mengetahui kebiasaan berutang pasangan akan memberikan Anda gambaran tentang tingkat kedisiplinan mereka. Jika mereka memiliki utang konsumtif yang menumpuk ini bisa menjadi sinyal bahaya. Anda berdua harus sepakat apakah utang masa lalu tersebut akan diselesaikan secara pribadi sebelum menikah atau akan diselesaikan bersama sama setelah resmi menjadi suami istri. Transparansi di titik ini sangat tidak bisa ditawar.

2. Apa Tujuan Finansial Jangka Pendek dan Jangka Panjang?

Setiap orang pasti memiliki mimpi dan setiap mimpi biasanya membutuhkan uang untuk diwujudkan. Sangat penting untuk menyelaraskan visi dan misi finansial Anda berdua. Jika tujuan kalian saling bertolak belakang maka konflik besar pasti akan menanti di depan mata.

Diskusikan apa target kalian dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Apakah kalian ingin segera mencicil rumah KPR setelah menikah atau lebih memilih menyewa apartemen terlebih dahulu. Apakah ada rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 yang membutuhkan dana besar. Atau mungkin salah satu dari kalian memiliki impian untuk pensiun dini dan berkeliling dunia.

Dengan mengetahui tujuan finansial masing masing kalian bisa mulai menyusun strategi bersama. Jika satu pihak sangat fokus menabung untuk membeli rumah sementara pihak lain menghabiskan seluruh gajinya untuk hobi modifikasi mobil atau membeli tas mewah maka keseimbangan tidak akan pernah tercapai. Kompromi dan penyesuaian target adalah esensi dari kemitraan yang sehat.

3. Bagaimana Cara Kita Membagi Pengeluaran Rumah Tangga Nanti?

Banyak pasangan yang terjebak asumsi bahwa urusan pembagian uang akan berjalan mengalir begitu saja setelah menikah. Ini adalah sebuah ilusi yang berbahaya. Masalah operasional rumah tangga harus dibicarakan secara teknis dan mendetail sejak awal.

Tanyakan model pengelolaan uang seperti apa yang akan kalian gunakan. Apakah semua pendapatan akan digabung ke dalam satu rekening bersama dan dikelola bersama. Atau apakah kalian akan mempertahankan rekening masing masing dan hanya membagi tagihan secara proporsional berdasarkan persentase gaji.

Diskusikan juga siapa yang akan memegang peran sebagai "menteri keuangan" di dalam rumah tangga. Apakah istri yang akan mengatur seluruh arus kas atau suami. Bagaimana dengan konsep "uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah uang istri". Semua ekspektasi dan asumsi kultural ini harus dibedah dan disepakati bersama agar tidak ada pihak yang merasa dieksploitasi atau tidak dihargai kontribusinya.

4. Seberapa Besar Tanggungan Finansial untuk Keluarga Besar?

Bagi masyarakat Indonesia konsep Sandwich Generation atau generasi tulang punggung adalah realitas yang sangat umum. Banyak dari kita yang masih harus menanggung biaya hidup orang tua menyekolahkan adik atau membantu kerabat dekat secara finansial meskipun kita sudah memiliki keluarga sendiri.

Ini adalah topik yang sangat sensitif namun berpotensi memicu pertengkaran hebat jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Tanyakan kepada pasangan Anda apakah mereka saat ini menjadi tulang punggung keluarga. Jika ya diskusikan berapa alokasi dana bulanan yang wajib diberikan kepada keluarga besar mereka.

Apakah bantuan tersebut akan terus berlanjut setelah kalian menikah dan memiliki anak. Anda dan pasangan harus sepakat mengenai batas toleransi atau boundaries dalam membantu keluarga besar. Jangan sampai niat baik untuk berbakti kepada orang tua justru mengorbankan stabilitas keuangan rumah tangga inti kalian sendiri. Kesepakatan di area ini akan menyelamatkan kalian dari drama mertua dan menantu di kemudian hari.

5. Apa Kebiasaan Terburuk dan Terbaikmu dalam Mengelola Uang?

Pertanyaan terakhir ini bersifat lebih psikologis dan bertujuan untuk saling memahami karakter. Setiap orang memiliki kebiasaan atau money habit yang terbentuk dari pola asuh masa kecil dan pengalaman hidup mereka.

Tanyakan apa yang menjadi godaan terbesar mereka dalam menghabiskan uang. Apakah pasangan Anda adalah tipe orang yang stres lalu berbelanja impulsif (retail therapy). Atau apakah mereka tipe yang sangat pelit hingga mengorbankan kualitas hidup demi melihat angka saldo tabungan terus bertambah.

Dengan mengenali kelemahan finansial satu sama lain kalian bisa bertindak sebagai pengingat yang baik. Jika pasangan Anda tahu bahwa Anda sangat lemah melihat diskon sepatu mereka bisa membantu mengingatkan Anda saat Anda mulai lepas kendali. Memahami kebiasaan ini bukanlah untuk saling menghakimi melainkan untuk saling melengkapi kelemahan dan merayakan kekuatan finansial yang kalian miliki.

Membahas uang sebelum menikah bukanlah tanda bahwa cinta kalian kurang kuat. Sebaliknya itu adalah bukti dari kedewasaan emosional dan kesiapan mental untuk membangun masa depan bersama. Percakapan ini mungkin akan terasa canggung pada awalnya namun kelegaan yang Anda rasakan setelah semuanya terbuka akan memperkuat ikatan kepercayaan kalian hingga berlipat ganda. Ingatlah bahwa pernikahan yang langgeng dibangun di atas pondasi komunikasi yang jujur termasuk dalam urusan angka dan rupiah.

Logo Radio
🔴 Radio Live