Lawan Inflasi dengan Gaya! Cara Memulai Underconsumption Core


Di tengah gempuran tren belanja yang serba cepat, tahun 2026 justru membawa kita pada gerakan yang menyegarkan, Underconsumption Core. Berkebalikan dengan budaya unboxing atau koleksi barang berlebihan, tren ini merayakan seni merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
Underconsumption Core bukan berarti hidup dalam kemiskinan, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup yang mengutamakan utilitas (fungsi) di atas kuantitas.
Apa Itu Underconsumption Core?
Secara sederhana, tren ini adalah gerakan estetika dan gaya hidup yang memamerkan barang-barang yang sudah "berumur", diperbaiki, atau dipakai sampai benar-benar rusak.
Jika biasanya media sosial penuh dengan rak skincare yang meluap, pengikut underconsumption core justru akan bangga menunjukkan:
- Botol pelembap yang dipotong jadi dua untuk mengambil sisa terakhirnya.
- Satu pasang sepatu lari yang sudah dipakai selama 3 tahun (namun tetap bersih dan terawat).
- Lemari pakaian minimalis dengan baju-baju yang bisa dipadupadankan (capsule wardrobe).
- Perabot rumah tangga hasil turun-temurun atau beli bekas (thrifted) yang masih berfungsi baik.
Mengapa Tren Ini Populer Sekarang?
- Kejenuhan Digital: Banyak orang mulai lelah dengan tekanan untuk terus membeli barang baru demi konten.
- Krisis Ekonomi & Inflasi: Secara praktis, memaksimalkan barang yang ada adalah cara paling cerdas untuk menjaga kesehatan finansial di masa sekarang.
- Kesadaran Lingkungan: Mengurangi konsumsi adalah langkah paling konkret untuk menekan jejak karbon dibandingkan sekadar membeli produk berlabel "eco-friendly" yang baru.
Cara Memulai Gaya Hidup Underconsumption Core
1. Gunakan Sampai Habis (Hit the Pan)
Jangan membeli barang baru sebelum barang lama benar-benar habis. Hal ini berlaku untuk skincare, kosmetik, hingga sabun cuci piring. Ada kepuasan tersendiri saat melihat wadah benar-benar kosong.
2. Perbaiki, Jangan Langsung Ganti
Jika sepatu sedikit menganga atau baju robek kecil, bawalah ke tukang sol atau jahit. Di era underconsumption core, bekas jahitan atau tambalan pada barang justru dianggap sebagai simbol karakter dan dedikasi terhadap barang tersebut.
3. Belanja dengan Prinsip One In, One Out
Jika kamu benar-benar butuh satu barang baru, maka satu barang lama harus keluar (dijual, didonasikan, atau didaur ulang). Ini menjaga agar volume barang di rumahmu tetap stabil.
4. Investasi pada Kualitas, Bukan Tren
Lebih baik membeli satu jaket mahal yang tahan 10 tahun daripada lima jaket murah yang rusak dalam 6 bulan. Fokuslah pada bahan yang awet dan model yang timeless.
Manfaat Psikologis: Bebas dari Clutte
Selain menghemat uang, hidup dengan lebih sedikit barang terbukti secara ilmiah dapat menurunkan tingkat hormon kortisol (stres). Ruangan yang bersih dari tumpukan barang yang tidak terpakai membuat pikiran lebih jernih dan fokus pada hal-hal yang lebih penting, seperti hubungan sosial atau pengembangan diri.
Next News

Masih Bawa Uang Cash? Simak Alasan Dompet Mulai Terlupakan
9 days ago

Fenomena In This Economy: Saat Uang Seolah Lari dari Dompet
11 days ago

Cashless Society: Siapkah Kita Hidup Tanpa Uang Tunai?
a month ago

Split Bill: Solusi Patungan yang Makin Populer di Kalangan Anak Muda
a month ago

PayLater Semakin Populer, Kemudahan atau Godaan Belanja?
a month ago

QRIS: Mengapa Satu Kode QR Bisa Dipakai di Berbagai Aplikasi?
a month ago

Teknologi Finansial dalam Kehidupan Sehari-hari: Cara Baru Kita Mengelola dan Menggunakan Uang
a month ago

Dari Sosmed ke Bursa: Panduan Lengkap Mengenal Istilah IPO
a month ago

Isi Bensin Bikin Stres? Rahasia Hemat BBM Biar Dompet Sehat
a month ago

Nyesek Kena Tipu Harga Pasar? Ini Cara Menghindarinya
a month ago






