Jangan Tertipu Harga Murah Kenali Risiko Barang Cepat Rusak
Refa - Friday, 20 February 2026 | 08:00 PM


Membedakan Barang "Murah tapi Bagus" vs "Murahan": Biar Nggak Boncos Berkedok Hemat
Pernah nggak sih kamu ngerasa menang banyak pas dapet earphone harga dua puluh ribuan di marketplace? Tampilannya kece, suaranya ya lumayanlah buat dengerin podcast sebelum tidur. Tapi baru dipakai seminggu, kabelnya mulai ngadat, suara sebelah kiri hilang, dan ujung-ujungnya kamu harus beli lagi. Selamat, kamu baru saja terjebak dalam lingkaran setan barang murahan.
Di dunia yang serba mahal ini, pengen hemat itu wajar banget. Malah harus. Tapi masalahnya, banyak dari kita yang belum bisa membedakan mana barang yang "harganya miring tapi kualitasnya oke" dengan barang yang "memang kualitasnya sampah". Istilah kerennya, kita sering tertukar antara affordable quality sama cheap trash. Kalau salah pilih, bukannya saldo rekening aman, yang ada malah makin "boncos" karena harus bolak-balik beli barang yang sama.
Mari kita bedah pelan-pelan gimana cara jadi pembeli cerdas yang nggak gampang ketipu label diskon.
1. Material Nggak Pernah Bohong
Langkah pertama paling gampang adalah lewat indra peraba. Barang yang murah tapi bagus biasanya tetap menggunakan material yang jujur. Misalnya, kalau kamu cari kaos polos harga 50 ribuan, carilah yang bahannya katun, bukan yang rasanya kayak plastik atau bikin gerah maksimal. Katun lokal itu murah, tapi awet. Sebaliknya, barang murahan biasanya pakai bahan campuran nggak jelas yang setelah dicuci sekali langsung melar atau warnanya luntur total.
Untuk barang elektronik atau perabotan, coba ketuk bodinya. Kedengaran kopong nggak? Atau baunya gimana? Plastik murahan biasanya punya bau kimia yang menyengat banget dan teksturnya kasar di pinggiran (finishing-nya berantakan). Barang murah yang berkualitas biasanya punya finishing yang rapi meskipun desainnya sangat sederhana. Mereka nggak berusaha tampil mewah, tapi mereka solid.
2. Fokus pada Fungsi, Bukan Gimmick
Ini nih jebakan paling sering. Barang murahan hobi banget nambahin fitur-fitur yang sebenernya nggak perlu tapi kelihatan keren di iklan. Powerbank harga 30 ribu tapi kapasitasnya tertulis 50.000 mAh? Jelas bohong. Pisau dapur satu set isi sepuluh harga 50 ribu dengan warna pelangi? Yakin deh, sebulan kemudian tumpulnya minta ampun.
Barang yang "murah tapi bagus" biasanya menganut prinsip minimalis. Mereka fokus pada satu fungsi utama dan melakukannya dengan baik. Misalnya, blender merek lokal yang desainnya biasa aja tapi motornya kuat, atau sepatu lari dari brand baru yang nggak pakai teknologi "ruang angkasa" tapi solnya empuk dan jahitannya kuat. Jangan gampang tergiur sama fitur tambahan kalau fungsi utamanya aja masih diragukan.
3. Rumus Sakti: Cost-per-Use
Pernah denger istilah Cost-per-Use? Ini adalah cara paling masuk akal buat nentuin apakah sebuah barang itu layak dibeli atau nggak. Rumusnya gampang: Harga barang dibagi berapa kali kamu bakal memakainya.
Contohnya begini. Kamu beli sepatu kerja seharga 150 ribu tapi cuma bertahan 3 bulan karena solnya lepas (murahan). Artinya, biaya kamu per bulan adalah 50 ribu. Bandingkan kalau kamu beli sepatu seharga 500 ribu tapi awet sampai 3 tahun (murah tapi bagus dalam jangka panjang). Biayanya cuma sekitar 14 ribu per bulan. Di sini kelihatan kan, kalau barang yang harganya lebih mahal di awal sebenarnya jauh lebih murah secara akumulasi. Jadi, jangan cuma lihat angka di label harga hari ini, tapi bayangkan nasib barang itu setahun ke depan.
4. Jangan Males Baca Review yang "Jujur"
Zaman sekarang, review pembeli adalah kunci. Tapi hati-hati, jangan cuma lihat bintang limanya doang. Banyak lho toko yang beli review atau ngasih bonus kalau pembeli kasih bintang lima. Cara paling ampuh adalah cek bintang dua atau tiga. Kenapa? Karena di situ biasanya letak review yang paling jujur. Mereka biasanya orang yang nggak benci-benci amat tapi juga nggak terkesan sama barangnya.
Kalau banyak yang komplain soal "cepat rusak", "suara berisik", atau "ukuran nggak sesuai", itu tandanya barang tersebut masuk kategori murahan. Tapi kalau review-nya bilang "modelnya jadul tapi fungsinya oke banget", nah itu kemungkinan besar adalah permata tersembunyi alias barang murah tapi berkualitas.
5. Ada Harga, Ada Rupa (Hukum Alam yang Tetap Berlaku)
Kita harus realistis. Nggak mungkin ada laptop spek dewa harga sejuta, atau tas kulit asli harga lima puluh ribu. Kalau harganya udah nggak masuk akal murahnya, hampir bisa dipastikan itu barang murahan yang bakal bikin kamu rugi. Penjual juga butuh untung, dan bahan baku berkualitas itu ada harganya.
Barang "murah tapi bagus" biasanya berada di rentang harga yang masuk akal tapi kompetitif. Biasanya mereka bisa murah karena nggak keluar duit banyak buat iklan, nggak pakai nama brand besar, atau kemasannya cuma kardus cokelat biasa. Mereka memangkas biaya di hal-hal yang nggak mempengaruhi performa barang.
Kesimpulan: Jadilah Konsumen yang "Skeptis" tapi Bijak
Intinya, membedakan barang berkualitas dengan yang cuma modal murah itu butuh jam terbang dan ketelitian. Jangan gampang laper mata pas lihat diskon gede atau promo flash sale. Tanya ke diri sendiri: "Ini barang bakal bertahan berapa lama?" atau "Apa yang dikorbanin produsen biar harganya bisa semurah ini?"
Nggak ada salahnya pakai barang murah, serius. Tapi pastikan murahnya itu karena efisiensi, bukan karena pengurangan kualitas yang ekstrem. Lebih baik sabar dikit nabung buat beli yang bagusan daripada beli murah sekarang tapi minggu depan udah jadi sampah di pojokan kamar. Inget, jadi hemat itu keren, tapi jadi korban barang murahan itu cuma bikin nyesek di dada dan di dompet.
Next News

Jangan Kalap Diskon Lebaran! Simak Cara Belanja Bijak
3 hours ago

Tips Atasi Ajakan Bukber yang Bikin Kantong Kering
10 hours ago

Beli Karena Butuh atau Cuma Laper Mata? Cara Berhenti Jadi Korban Impulsive Buying di Media Sosial
3 days ago

Hati-Hati Gaya Hidup Mewah Saat Gaji Naik, Ini Solusinya
3 days ago

Sungkan Menagih Hutang? Coba 4 Kalimat Ampuh Ini
4 days ago

Jangan Canggung Lagi! 4 Kalimat Ampuh Menolak Permintaan Pinjam Uang secara Sopan
4 days ago

5 Trik Halus Menagih Hutang Tanpa Canggung
6 days ago

Nongkrong Tanpa Drama dengan 5 Aplikasi Split Bill Ini
6 days ago

5 Pertanyaan Finansial Wajib Sebelum Melangkah ke Pelaminan
7 days ago

Cara Membangun Kepercayaan Melalui Manajemen Uang Bersama
8 days ago






