Ceritra
Ceritra Kota

Throwback Ke Citayam Fashion Week di 2022

Nizar - Monday, 13 April 2026 | 06:35 PM

Background
Throwback Ke Citayam Fashion Week di 2022
Salah satu momen Citayam Fashion Week (megapolitan.kompas/)

Menengok Kembali Citayam Fashion Week: Saat Bocah Bojong Gede Menjajah Sudirman dan Mengacak-acak Peta Fashion Kita

Kalau kita memutar waktu kembali ke pertengahan tahun 2022, ingatan kita pasti bakal nyangkut di satu fenomena gila yang berlokasi di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Ya, apalagi kalau bukan Citayam Fashion Week alias CFW. Rasanya baru kemarin kita melihat Bonge dengan rambut nyentriknya, Jeje yang dibilang mirip Fuji, sampai Kurma yang mendadak jadi selebriti dadakan. Kawasan yang biasanya isinya cuma orang-orang kantoran berpakaian rapi dengan wajah stres mengejar KRL, tiba-tiba berubah jadi panggung peragaan busana paling demokratis yang pernah ada di negeri ini.

Citayam Fashion Week itu anomali. Ia adalah sebuah anarki kreatif yang lahir dari kebosanan anak-anak pinggiran. Bayangkan saja, anak-anak dari Citayam, Bojong Gede, hingga Depok—yang kemudian diplesetkan jadi singkatan elit "SCBD"—berbondong-bondong naik kereta demi sekadar nongkrong. Tapi mereka nggak cuma nongkrong kosong. Mereka datang dengan "seragam" perang masing-masing: hoodie oversize, celana kargo, kacamata hitam yang kadang nggak nyambung, sampai padu padan warna yang kalau kata anak zaman sekarang itu "nabrak tapi pede aja lagi."

Demokrasi Fashion di Atas Zebra Cross

Apa sih yang bikin CFW ini begitu magis? Jawabannya adalah hilangnya sekat kelas sosial. Selama bertahun-tahun, istilah "fashion" di Indonesia selalu identik dengan mal mewah di Jakarta Selatan, desainer kondang, atau model-model dengan tinggi badan semampai yang kalau jalan nggak pernah nunduk. Tapi CFW menghancurkan tembok itu dengan batu bata yang bernama kepercayaan diri. Di sana, zebra cross diubah jadi catwalk. Nggak perlu bayar tiket, nggak perlu undangan VIP.

Gaya berpakaian mereka mungkin bagi sebagian orang dianggap "norak" atau "ngasal", tapi justru di situlah letak kekuatannya. Mereka nggak peduli dengan tren Paris atau Milan. Mereka menciptakan tren mereka sendiri. Ada yang tampil ala "cewek mamba" yang serba hitam, ada yang jadi "cewek kue" dengan warna-warna pastel yang cerah, atau "cewek bumi" yang kalem. Tren-tren ini bukan lahir dari majalah Vogue, melainkan dari trotoar jalanan Jakarta yang panas dan berdebu.

Jujur saja, melihat mereka itu seperti melihat Harajuku versi lokal. Kalau Jepang punya anak-anak muda yang berani berekspresi di distrik Shibuya, kita punya anak-anak Citayam di Dukuh Atas. Ini adalah bukti bahwa fashion adalah milik semua orang, bukan cuma milik mereka yang saldo ATM-nya digitnya panjang. Modal baju thriftingan pasar loak yang harganya mungkin nggak sampai seratus ribu, mereka bisa tampil sekeren—atau setidaknya seberani—mereka yang pakai brand mewah dari atas sampai bawah.

Ketika "Orang Atas" Mulai Ikut Campur

Namanya juga fenomena viral, pasti nggak lepas dari mata para pencari konten dan tokoh-tokoh penting. Tak butuh waktu lama sampai para artis, influencer, bahkan pejabat ikut turun ke zebra cross itu. Ingat kan saat Gubernur DKI saat itu atau beberapa model profesional mulai ikutan melenggang di sana? Di satu sisi, ini adalah validasi bahwa gerakan anak-anak pinggiran ini memang keren. Tapi di sisi lain, ini juga jadi awal mula "kematian" dari keaslian semangat CFW itu sendiri.

Suasana jadi makin kacau saat ada pihak-pihak yang mencoba mendaftarkan nama "Citayam Fashion Week" ke HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Publik langsung geram. Bagaimana bisa sebuah gerakan akar rumput yang lahir secara organik mau dikomersialisasi oleh segelintir orang berduit? Di sinilah kita melihat ironi yang nyata: saat sesuatu yang murni dan tulus dari rakyat bawah mulai terlihat menguntungkan, "hiu-hiu" industri bakal datang buat mencaploknya. Untungnya, protes keras dari netizen berhasil menggagalkan upaya tersebut.

Kericuhan nggak berhenti di situ. Macetnya jalanan Sudirman gara-gara lautan manusia yang mau liat Bonge dkk bikin aparat keamanan mulai turun tangan. Satpol PP mulai sering patroli, zebra cross dijaga ketat, dan pelan-pelan, panggung itu mulai kehilangan cahayanya. CFW pelan tapi pasti mulai meredup, menyisakan trotoar Dukuh Atas yang kembali ke fungsi asalnya: tempat orang-orang lewat dengan terburu-buru.

Warisan yang Tertinggal: Lebih dari Sekadar Konten

Meskipun sekarang CFW sudah tinggal kenangan dan Bonge sudah jarang masuk TV, kita nggak bisa memungkiri bahwa fenomena ini meninggalkan jejak yang sangat dalam di industri kreatif kita. Sejak CFW meledak, brand-brand lokal mulai sadar bahwa target pasar mereka bukan cuma anak-anak Senopati. Brand lokal jadi lebih berani bereksperimen dengan desain yang lebih berani dan nyentrik.

Selain itu, CFW mengajarkan kita tentang hak atas ruang publik. Selama ini, pusat kota Jakarta seolah-olah hanya didesain untuk mereka yang punya kendaraan pribadi atau mereka yang bekerja di gedung-gedung kaca. Kedatangan anak-anak Citayam seolah-olah bilang, "Eh, Jakarta ini punya kita semua lho, bukan punya orang kaya doang." Mereka merebut kembali ruang publik dan menjadikannya tempat bermain yang asyik.

Secara mentalitas, CFW juga mendobrak rasa minder anak muda Indonesia. Kalau dulu kita sering merasa nggak pede pakai baju yang aneh sedikit karena takut dihakimi, sekarang batas itu sudah makin tipis. Ekspresi diri jadi lebih dihargai. Kita jadi lebih sadar bahwa fashion itu soal bagaimana kita merasa nyaman dan percaya diri dengan apa yang kita pakai, bukan soal seberapa mahal harga tag di baju kita.

Pada akhirnya, mengingat Citayam Fashion Week adalah mengingat sebuah momen singkat di mana stratifikasi sosial di Indonesia sempat menjadi kabur. Sebuah momen di mana seorang anak putus sekolah dari Bojong Gede bisa jadi pusat perhatian seluruh negeri hanya bermodalkan nyali dan gaya. Meskipun trennya sudah lewat, semangat "pede aja dulu" yang dibawa CFW akan selalu punya tempat dalam sejarah budaya pop Indonesia. Jadi, kalau hari ini kamu mau pakai baju warna-warni nabrak ke minimarket, lakukan saja. Anggap saja kamu sedang merayakan sisa-sisa kejayaan Citayam Fashion Week di dalam dirimu.

Logo Radio
🔴 Radio Live