Ceritra
Ceritra Kota

Kenapa Masuk Terowongan Malah Berasa Dipanggang Microwave?

Refa - Monday, 16 March 2026 | 02:00 PM

Background
Kenapa Masuk Terowongan Malah Berasa Dipanggang Microwave?
Ilustrasi underpass (pexels.com/Moritz Kindler)

Kenapa Neduh di Underpass Pas Jam 12 Siang Malah Serasa Masuk Oven?

Bayangin, lagi naik motor di tengah kota pas matahari lagi lucu-lucunya, alias jam 12 siang bolong. Aspal rasanya kayak mau meleleh dan jaket sudah mulai basah sama keringat yang nggak sopan banget keluarnya. Di depan mata, ada underpass. Wah, asyik nih, pikirmu. Lumayan bisa ngadem sebentar dari sengatan sinar ultraviolet yang hobi bikin kulit belang.

Tapi pas masuk ke area bawah underpass, bukannya hawa sejuk yang didapet, malah sensasi sumpek, gerah, dan panas yang luar biasa. Bukannya adem, rasanya malah kayak lagi masuk ke dalam microwave raksasa. Pernah nggak sih kamu mikir, ini kan di bawah tanah (atau setidaknya tertutup), kok malah lebih panas dibanding di jalanan terbuka? Kenapa efek "adem" yang kita harapkan malah jadi zonk?

Fenomena ini bukan halusinasi doang karena saking panasnya jalanan. Secara ilmiah, ada alasan kenapa area underpass itu jadi jebakan Batman buat suhu udara. Dan aktor utamanya nggak lain dan nggak bukan adalah material favorit kontraktor kita semua, beton.

Beton, Penyerap Panas yang Ambisius

Kita harus kenalan dulu sama yang namanya heat trapping atau jebakan panas. Beton, material utama pembuat underpass, punya sifat yang namanya thermal mass tinggi. Maksudnya begini, beton itu pinter banget nyerap panas, tapi bego banget kalau disuruh ngelepasinnya dengan cepat. Sejak matahari terbit jam 6 pagi, dinding-dinding beton underpass itu udah mulai "sarapan" sinar matahari. Mereka nyerap energi panas itu pelan-pelan tapi pasti.

Pas jam 12 siang, di saat kamu ngerasa matahari lagi panas-panasnya, si beton ini udah mencapai titik "kenyang". Mereka nggak cuma nyimpen panas di permukaannya doang, tapi meresap sampai ke inti strukturnya. Nah, pas kamu lewat di bawahnya, beton-beton ini mulai memancarkan balik panas tersebut ke udara di sekitarnya. Ini yang disebut radiasi termal. Jadi, meski kamu nggak kena sinar matahari langsung, tubuh sebenernya lagi "dipanggang" sama radiasi dari dinding dan langit-langit beton di sekeliling.

Ibaratnya, underpass itu kayak wajan yang udah dipanasin sejak pagi. Pas masuk ke situ jam 12 siang, ya kamu itu bumbunya. Suhu di dalam underpass bisa beberapa derajat lebih tinggi dibanding suhu udara di luar karena akumulasi panas yang tersimpan di dalam material padat itu.

Sirkulasi Udara yang "Mager"

Masalah kedua adalah soal sirkulasi udara. Di jalanan terbuka, angin masih bisa lewat dengan bebas. Seenggaknya kalau ada angin sepoi-sepoi, hawa panas bisa sedikit terdistribusi atau terbawa pergi. Tapi di underpass? Lupakan soal itu. Desain underpass yang berbentuk seperti terowongan atau cekungan seringkali membuat aliran udara jadi terjebak atau malah stagnan.

Kamu harus inget kalau di bawah underpass itu isinya bukan cuma kamu sendirian. Ada ratusan motor dan mobil yang lewat, yang semuanya buang gas emisi lewat knalpot. Gas buang ini sifatnya panas banget. Di tempat terbuka, gas panas ini langsung naik ke atmosfer. Tapi di bawah bawah underpass, gas panas ini muter-muter aja di situ, ketahan sama atap beton yang juga lagi panas-panasnya. Akhirnya terjadilah efek oven yang hakiki.

Oksigen rasanya makin tipis, diganti sama karbon monoksida dan hawa panas mesin. Belum lagi kalau macet di bawah underpass pas jam makan siang. Beuh, rasanya pengen cepet-cepet tancap gas tapi apa daya ban depan cuma bisa liatin plat nomor kendaraan di depan.

Polusi dan Kelembapan yang Bikin Engap

Selain panas beton dan mesin, ada faktor lain yang bikin kita makin tersiksa, yaitu kelembapan dan partikel polusi. Karena ventilasi yang minim, debu, asap, dan partikel mikro lainnya numpuk di area itu. Partikel-partikel ini punya andil dalam menahan panas lebih lama di udara. Udara yang kotor cenderung lebih berat dan sulit bergerak, bikin perasaan engap atau sesak makin terasa nyata.

Coba kalau kamu sering merhatiin abang-abang ojol yang milih buat berhenti sebentar di bawah underpass buat cek HP. Awalnya mungkin mereka ngerasa teduh karena nggak silau, tapi nggak sampai dua menit, biasanya mereka bakal mulai buka kaca helm atau ngipas-ngipas pake tangan. Itu tandanya badan mereka mulai sadar kalau suhu di situ sebenernya nggak sehat.

Lantas, Harus Gimana?

Fenomena ini sebenernya adalah bagian kecil dari masalah besar yang namanya Urban Heat Island (UHI). Kota-kota besar kita isinya kebanyakan beton dan aspal, tapi minim pohon. Underpass cuma salah satu contoh ekstrem di mana panas itu terkonsentrasi di satu titik sempit.

Harusnya sih, perencanaan tata kota ke depan nggak cuma mikirin gimana cara ngurai macet pake underpass atau flyover doang. Penggunaan material yang lebih ramah suhu atau penambahan sistem ventilasi alami yang lebih baik di area underpass bisa jadi solusi. Atau mungkin, penanaman vertikal garden di dinding underpass (kalau memungkinkan) buat ngeredam panas beton.

Tapi ya, buat kita kaum komuter yang tiap hari harus bergelut sama panasnya aspal, tips paling ampuh ya cuma satu, jangan kelamaan berhenti di bawah underpass pas jam-jam kritis matahari. Kalau emang perlu neduh, mending cari pohon yang beneran pohon, yang ada proses penguapan alami (transpirasi) yang bikin udara di bawahnya beneran dingin, bukan sekadar "teduh tapi bohong" ala underpass beton.

Jadi, buat kamu yang nanti siang lagi di jalan, jangan ketipu sama bayangan gelap di bawah underpass ya. Itu bukan oase di tengah padang pasir, itu cuma panggangan yang lagi nunggu daging buat dimatengin. Tetap terhidrasi dan jangan lupa pakai sunblock kalau nggak mau kulit mateng sebelah. Stay cool, literal and figuratively!

Logo Radio
🔴 Radio Live