Ceritra
Ceritra Cinta

Suka Tapi Tak Terikat: Memahami Fenomena Situationship dan HTS

Shannon - Wednesday, 20 May 2026 | 12:00 PM

Background
Suka Tapi Tak Terikat: Memahami Fenomena Situationship dan HTS
Hubungan penuh teka-teki (Heights.com/Parker Leaf)

Antara Sayang dan Gak Mau Terikat: Menavigasi Labirin Situationship di Era Digital

Zaman sekarang, kalau ditanya "Lagi dekat sama siapa?" jawabannya jarang sekali sesederhana "Si A" atau "Si B". Biasanya, jawaban itu akan diikuti dengan embel-embel penjelasan panjang lebar yang ujung-ujungnya bermuara pada satu istilah yang bikin dahi berkerut: Situationship. Atau kalau mau pakai istilah yang lebih lokal dan melegenda di telinga anak muda Indonesia, ya HTS alias Hubungan Tanpa Status.

Selamat datang di era di mana cinta bukan lagi soal hitam di atas putih atau jadian pakai nembak di depan kelas bawa cokelat. Kita sedang hidup di masa di mana hubungan romantis seringkali berada di area abu-abu yang sangat luas, seluas samudera yang memisahkan antara "kita ini apa" dan "jalani aja dulu". Fenomena ini bukan cuma sekadar tren lewat, tapi sudah jadi gaya hidup yang mendefinisikan bagaimana cara kita berkomunikasi, berekspektasi, dan tentu saja patah hati dengan cara yang paling rumit.

Definisi yang Tidak Terdefinisi

Secara teknis, situationship adalah sebuah hubungan yang punya elemen romantis dan seksual, tapi nggak punya label komitmen yang jelas. Kamu punya seseorang untuk diajak deep talk jam dua pagi, ada teman kondangan yang bisa diajak pakai baju senada, bahkan mungkin sudah kenal baik dengan lingkaran pertemanan masing-masing. Tapi, ketika salah satu mencoba bertanya "Kita ini apa?", suasana langsung berubah jadi lebih dingin daripada kulkas dua pintu.

Kenapa tren ini begitu menjamur? Banyak pengamat media sosial berpendapat bahwa generasi sekarang, terutama Gen Z dan Millennial akhir, punya ketakutan luar biasa terhadap yang namanya commitment. Bukan karena nggak mau sayang-sayangan, tapi lebih ke rasa ngeri kalau kebebasannya terenggut atau takut salah pilih di tengah lautan opsi yang ditawarkan aplikasi kencan seperti Tinder atau Bumble. Paradox of choice itu nyata, kawan. Ketika kita merasa selalu ada "yang lebih baik" di swipe berikutnya, berkomitmen pada satu orang terasa seperti menutup pintu pada sejuta kemungkinan lainnya.

Gaya Komunikasi yang Bikin Overthinking

Dalam labirin HTS ini, gaya komunikasi adalah kunci sekaligus racun. Kita terjebak dalam permainan "siapa yang paling cuek, dia yang menang". Pernah nggak sih kamu sengaja nunggu 30 menit buat balas chat padahal notifikasinya sudah kamu baca lewat preview? Itu adalah bentuk pertahanan diri supaya nggak kelihatan terlalu "ngebet".

Ada bermacam-macam gaya komunikasi yang muncul di tren sekarang:

  • Fast Response tapi Kering: Balasnya cepat, tapi cuma "wkwk", "oke", atau emoji jempol. Ini gaya komunikasi orang yang mau menjaga koneksi tapi nggak mau kasih investasi emosi lebih.
  • Breadcrumbing: Ini yang paling jahat. Dia cuma kasih "remahan roti" perhatian sesekali supaya kamu nggak benar-benar pergi, tapi dia nggak pernah berniat kasih "rotinya" secara utuh.
  • The Paragraph Writer vs The One-Liner: Yang satu curhat panjang lebar soal harinya, yang satu cuma balas "Sabar ya". Ketimpangan ini sering jadi awal mula keretakan di hubungan yang bahkan belum dimulai itu.
  • Slow Respon yang Terencana: Menghilang dua hari, lalu muncul lagi dengan alasan "Maaf ya, kemarin lagi riweh banget," tanpa penjelasan riwehnya kenapa.

Masalahnya, di dalam situationship, kita nggak punya hak untuk protes soal gaya komunikasi ini. Kalau kamu protes kenapa dia nggak balas chat seharian, dia bisa dengan mudah bilang, "Lah, emang kita pacaran?" Dan BOOM! Kamu langsung kena skakmat mental.

Validasi Instan vs Kedekatan Emosional

Jujur saja, banyak dari kita yang terjebak HTS karena cuma butuh validasi. Kita butuh rasa diinginkan, butuh ada yang nanyain "sudah makan belum" atau "hati-hati di jalan", tanpa mau menanggung beban tanggung jawab yang ada di dalam sebuah komitmen. Ini kayak langganan Netflix tapi sistemnya bayar per film; kita mau hiburannya tapi nggak mau terikat biaya bulanan tetap.

Namun, gaya hidup seperti ini punya dampak psikologis yang nggak main-main. Rasa tidak aman (insecurity) jadi makanan sehari-hari. Kamu nggak tahu harus menempatkan diri di mana. Mau cemburu tapi nggak berhak, mau rindu tapi takut dianggap berlebihan. Ujung-ujungnya, situationship seringkali berakhir dengan salah satu pihak yang "baper" sendirian, sementara pihak lainnya merasa sejak awal semuanya sudah jelas bahwa ini cuma main-main.

Lalu, Harus Gimana?

Gaya komunikasi yang bermacam-macam di era sekarang sebenarnya adalah cerminan dari betapa cairnya identitas sosial kita. Kita bisa jadi siapa saja di internet, dan itu terbawa ke hubungan personal. Tapi, satu hal yang sering dilupakan: kejujuran itu masih gratis. Mau kamu ada di posisi HTS, situationship, atau bahkan friends with benefits sekalipun, komunikasi yang jujur soal ekspektasi adalah satu-satunya cara supaya kamu nggak gila.

Kalau kamu memang oke-oke saja dengan ketidakpastian ini demi kesenangan sesaat, go ahead. Tapi kalau setiap malam kamu nangis sambil dengerin lagu galau di Spotify karena dia nggak kunjung kasih kepastian, mungkin sudah saatnya kamu sadar kalau situationship itu ibarat kamu lagi duduk di ruang tunggu bandara tapi nggak pernah punya tiket untuk terbang ke mana-mana. Kamu cuma duduk di sana, melihat orang lain berangkat, sementara kamu terjebak di kursi yang keras dan kopi yang sudah dingin.

Pada akhirnya, tren memang akan selalu berubah. Dulu ada istilah TTM (Teman Tapi Mesra), sekarang situationship. Nama bisa berganti, tapi esensinya tetap sama: sebuah upaya manusia untuk merasa dicintai tanpa harus merasa takut tersakiti oleh janji. Padahal, justru di dalam ketidakpastian itulah rasa sakit yang paling tajam seringkali bersembunyi.

Jadi, buat kamu yang sekarang lagi asyik situationship-an, coba deh tanya ke diri sendiri sekali lagi: kamu memang lagi menikmati perjalanannya, atau cuma takut pulang karena nggak tahu rumahmu di mana?

Logo Radio
🔴 Radio Live