Tak Mau Diseret Kasus Suami, Sandra Dewi Minta Aset Pribadinya Dikembalikan


Melalui tim kuasa hukumnya, Jakarta 22 Oktober 2025. Sandra Dewi mengambil langkah hukum dengan mengajukan keberatan atas aset pribadinya yang disita oleh Kejaksaan Agung RI. Aset tersebut sebelumnya disita dalam proses hukum kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) komoditas timah yang menjerat suaminya, Harvey Moeis.
Sandra Dewi menyatakan bahwa barang - barang yang diminta merupakan aset pribadi miliknya. Aset tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas kriminal yang diduga dilakukan oleh Harvey Moeis. Adapun barang yang menjadi objek keberatan meliputi 88 tas branded ternama, sejumlah perhiasan, deposito sebeas Rp 33 Miliar, serta dua rumah yang berada di kawasan elite Jakarta. Seluruh barang tersebut sebelumnya disita karena diduga memiliki hubungan dengan aset milik suaminya, Harvey Moeis.
Kejaksaan pun juga sudah menegaskan bahwa penyitaan tersebut sudah sesuai dengan prosedur dan sah secara hukum. Jaksa berpendapat bahwa aset - aset tersebut bagian dari harta yang digunakan untuk menutupi kerugian negara akibat kasus korupsi tata niaga timah.
Sidang keberatan yang diajukan Sandra kini memasuki tahap pembuktian akhir. Pihak kuasa hukum Sandra sudah menyerahkan sejumlah dokumen pendukung, termasuk bukti pembelian dan kontrak kerja, untuk membuktikan bahwa harta tersebut benar-benar berasal dari penghasilan pribadi.
Sandra sendiri memilih tidak hadir langsung di ruang sidang, namun terus memantau prosesnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum. Ia menegaskan bahwa upayanya bukan untuk melindungi suami, melainkan menegakkan hak sebagai pihak ketiga yang beritikad baik.
Sampai saat ini, majelis hakim belum memutuskan hasil dar permohonan tersebut. Keputusan sidang akhir diperkirakan keluar pada akhir tahun 2025, sementara seluruh aset masih berstatus disita hingga proses hukum selesai.
Next News

Penjara Emas di Balik Layar: Kenapa Jadi Terkenal Itu Nggak Selamanya Indah Seperti di Sosial Media
8 hours ago

Mengupas Rahasia di Balik Pentingnya Struktur Panitia dalam Acara
8 hours ago

Kenapa Setan Kita Beda? Sebuah Studi Sosiologi Hantu Indonesia
9 hours ago

Main character syndrome: semua orang pengen jadi pusat cerita
a day ago

Digital fatigue: capek hidup yang semuanya harus online
a day ago

Quiet quitting di kehidupan sosial: makin selektif atau makin menjauh?
2 days ago

Hustle culture burnout: capek ngejar sukses yang nggak ada garis finish-nya
2 days ago

Lazarus Effect: Ketika Kehidupan "Kembali" Setelah Kematian Klinis
10 hours ago

Breadcrumbing, tapi versi karier: dikasih harapan kerja tapi nggak jelas arahnya
3 days ago

Astronot di Masa Kecil, Budak Corporate di Masa Depan: Ke Mana Larinya Ambisi Kita?
12 hours ago



