Ceritra
Ceritra Warga

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG

Nizar - Monday, 20 April 2026 | 06:00 PM

Background
Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
Potret siswa menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) (kilasjatim/)

Makan Siang Gratis Memang Enak, Tapi Ada yang Lebih Gawat: Membedah Prioritas Pendidikan Kita

Beberapa bulan terakhir, obrolan di warung kopi sampai ruang rapat formal nggak jauh-jauh dari satu topik seksi: Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini digadang-gadang jadi kunci emas buat memutus rantai stunting dan bikin anak-anak sekolah kita lebih konsentrasi belajar. Siapa sih yang nggak setuju anak-anak kita dapet asupan protein yang bener? Bayangin, nggak ada lagi cerita bocah lemes di kelas karena cuma sarapan kerupuk atau malah nggak sarapan sama sekali. Secara narasi, ini jualan yang sangat humanis dan gampang dicerna—persis kayak bubur kacang ijo di hari Jumat.

Tapi, mari kita tarik napas sejenak dan coba melihat lebih luas. Kalau kita ibaratkan pendidikan Indonesia itu sebuah bangunan, apakah memberi makan penghuninya adalah hal paling mendesak saat atapnya bocor, temboknya retak, dan pondasinya mulai goyang? Jangan-jangan, kita sibuk masak di dapur yang hampir roboh. Bukannya mau jadi "party pooper" atau tukang kritik yang nggak ada habisnya, tapi ada beberapa isu yang kalau boleh jujur, jauh lebih urgent dan butuh "bensin" lebih banyak daripada sekadar urusan piring makan.

Nasib Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Tapi (Seringkali) Tanpa Gaji Layak

Ngomongin pendidikan tapi nggak ngomongin guru itu ibarat beli mobil mewah tapi nggak punya sopir yang kompeten. Kita bisa kasih makan anak-anak sampai kenyang, tapi kalau yang ngajar di depan kelas itu orang yang pikirannya lagi kacau karena belum bayar cicilan motor atau bingung besok beli beras pakai apa, ya sama saja bohong. Fenomena guru honorer dengan gaji "seikhlasnya"—yang kadang lebih rendah dari tarif parkir mall sebulan—adalah borok lama yang belum juga sembuh.

Urgent-nya di mana? Di kualitas interaksi. Pendidikan itu bukan proses mekanis mindahin isi buku ke kepala murid. Itu soal inspirasi, transfer nilai, dan bimbingan emosional. Mana bisa guru fokus ngasih inspirasi kalau perutnya sendiri keroncongan? Kesejahteraan guru adalah pondasi paling dasar. Tanpa perbaikan sistem rekrutmen dan penggajian yang manusiawi, program makan gratis cuma bakal jadi gimik di atas sistem yang rapuh. Kita butuh guru yang tenang secara finansial supaya mereka bisa "war" di kelas dengan totalitas.

Kurikulum yang Sering Ganti Kulit, Tapi Lupa Ganti Isi

Ada jargon klasik di kalangan pendidik: "Ganti menteri, ganti kurikulum." Ini bukan cuma guyonan, tapi keresahan nyata. Setiap ada kebijakan baru, guru-guru kita dipaksa jadi "admin" dadakan. Mereka harus ngisi platform ini, bikin laporan itu, ikut pelatihan sana-sini yang seringkali cuma formalitas biar dapet sertifikat. Beban administratif ini luar biasa menyita waktu.

Alih-alih fokus gimana caranya bikin murid kritis dan kreatif, energi guru habis buat urusan birokrasi digital yang ribetnya minta ampun. Yang lebih urgent adalah penyederhanaan sistem. Gimana caranya biar guru balik lagi ke fungsi aslinya: mendidik. Kita butuh kurikulum yang konsisten, yang nggak bikin sekolah berasa kayak laboratorium kelinci percobaan tiap lima tahun sekali. Konsistensi inilah yang bakal bikin pendidikan kita punya arah yang jelas, bukan sekadar muter-muter di urusan teknis administrasi.

Fasilitas yang Masih "Laskar Pelangi" di Tahun 2024

Coba main agak jauh ke pelosok, atau nggak usah jauh-jauh deh, ke pinggiran kota besar. Masih banyak sekolah yang kalau hujan harus geser bangku karena atapnya bocor. Perpustakaan yang isinya buku-buku usang dari zaman Orde Baru, atau laboratorium komputer yang isinya cuma CPU berdebu tanpa koneksi internet. Digitalisasi pendidikan itu keren di atas kertas atau di presentasi PowerPoint kantor kementerian, tapi realitanya di lapangan seringkali jauh panggang dari api.

Ketimpangan akses ini jauh lebih mendesak untuk diselesaikan. Percuma anak dapet asupan gizi bagus kalau mereka belajar di ruangan yang nggak layak, nggak punya akses ke referensi ilmu pengetahuan yang mutakhir, atau nggak punya alat buat praktik. Kita butuh pemerataan infrastruktur yang nggak cuma fokus di Jawa-sentris. Standarisasi bangunan dan fasilitas sekolah di seluruh pelosok negeri harusnya jadi prioritas yang nggak bisa ditawar lagi.

Literasi yang Bukan Sekadar Bisa Baca

Masalah paling horor dari pendidikan kita sebenarnya adalah rendahnya tingkat literasi. Bukan berarti anak-anak kita nggak bisa baca huruf, ya. Mereka bisa baca, tapi sering nggak paham apa yang mereka baca. Skor PISA (Programme for International Student Assessment) kita seringkali ada di papan bawah. Ini gawat darurat, kawan.

Membangun budaya pikir kritis dan kemampuan analisis itu jauh lebih susah (dan lebih penting) daripada sekadar bagi-bagi makanan. Ini butuh renovasi cara mengajar, penyediaan buku-buku berkualitas yang menarik, dan lingkungan yang mendukung rasa ingin tahu. Kalau masalah literasi ini nggak diberesin, kita cuma bakal punya generasi yang kenyang secara fisik tapi "lapar" secara intelektual, gampang kemakan hoaks, dan susah bersaing di kancah global yang makin kompetitif.

Penutup: Gizi Penting, Sistem Lebih Genting

Jadi, apakah Makan Bergizi Gratis itu buruk? Tentu nggak. Itu niat baik yang patut diapresiasi. Tapi kalau kita ditanya mana yang lebih urgent, jawabannya jelas: memperbaiki ekosistem pendidikannya secara menyeluruh. Kita nggak bisa cuma kasih "makan siang" dan berharap semua masalah selesai secara ajaib.

Pendidikan itu investasi jangka panjang yang variabelnya banyak banget. Mulai dari martabat guru, kesiapan infrastruktur, konsistensi kebijakan, sampai ke kedalaman kurikulum. Jangan sampai anggaran raksasa habis buat urusan perut, tapi otak dan jiwa sistem pendidikan kita tetap dibiarkan "kurang gizi". Pada akhirnya, kita pengen anak-anak Indonesia itu bukan cuma sehat badannya, tapi juga tajam pikirannya dan kuat karakternya. Dan itu butuh lebih dari sekadar sepiring nasi dan lauk pauk.

Logo Radio
🔴 Radio Live