Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
Elsa - Friday, 17 April 2026 | 12:00 PM
Climate Anxiety: Ketika Masa Depan Bumi Bikin Gen Z Susah Tidur Nyenyak
Kalau lo pernah ngerasain perasaan sesak, cemas, atau rasa bersalah yang nggak jelas tiap kali denger berita lingkungan, selamat datang di klub. Lo mungkin lagi ngalamin yang namanya climate anxiety.
Istilah ini mungkin terdengar agak "berat" atau terlalu akademis, tapi percayalah, fenomena ini nyata banget di kalangan Gen Z. Bukan cuma sekadar takut kepanasan pas jalan ke minimarket, climate anxiety atau kecemasan iklim adalah rasa takut kronis terhadap kehancuran lingkungan. Ini bukan cuma soal polusi udara yang bikin batuk-batuk, tapi soal perasaan eksistensial bahwa masa depan kita lagi dipertaruhkan oleh keputusan orang-orang di masa lalu yang bahkan belum pernah ketemu kita.
Bukan Sekadar "Overthinking" Biasa
Jujur aja, panasnya Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia belakangan ini emang udah nggak ngotak. Istilah "simulasi neraka" sering banget lewat di Twitter (atau X, terserahlah namanya apa sekarang). Tapi buat Gen Z, rasa gerah ini bukan cuma soal keringat yang bercucuran. Ada beban mental yang ikut nempel. Kita tumbuh besar di era di mana informasi soal kiamat iklim itu sarapan sehari-hari. Kalau generasi sebelumnya mungkin takut sama Perang Dingin, Gen Z takut sama kenaikan permukaan air laut yang bakal nenggelamin rumah mereka.
Ada semacam perasaan hopelessness atau rasa putus asa yang muncul. Bayangin aja, lo udah berusaha keras bawa tumbler ke mana-mana, nolak sedotan plastik sampai dibilang ribet sama temen, tapi di saat yang sama, lo baca berita kalau perusahaan minyak besar malah makin cuan dan emisi karbon dunia terus naik. Rasanya kayak lagi berusaha nguras samudra pakai sendok teh. Capek, kan?
Dilema Punya Anak dan Rencana Masa Depan
Salah satu tanda paling jelas dari climate anxiety di kalangan anak muda sekarang adalah pergeseran rencana hidup. Dulu, standar sukses itu ya lulus kuliah, dapet kerja mapan, nikah, terus punya anak. Sekarang? Banyak Gen Z yang mikir dua kali buat punya keturunan. Bukan karena nggak suka anak kecil, tapi karena kasihan. "Tega nggak ya gue bawa orang baru ke dunia yang udaranya makin kotor dan airnya makin susah?" Pertanyaan ini sering banget muncul di diskusi-diskusi tongkrongan yang agak dalem.
Belum lagi soal perencanaan finansial. Ada semacam nihilisme yang kadang menyelinap: buat apa nabung mati-matian buat beli rumah di umur 50 kalau di umur segitu mungkin dunia udah kacau balau karena bencana alam? Pikiran-pikiran gelap kayak gini yang bikin climate anxiety bukan cuma masalah lingkungan, tapi udah jadi masalah kesehatan mental yang serius.
Doomscrolling dan Algoritma Ketakutan
Kita nggak bisa nutup mata kalau media sosial punya peran besar dalam memupuk rasa cemas ini. Algoritma kita sering banget ngasih konten-konten bencana. Sekali lo nge-klik berita soal banjir bandang, besoknya timeline lo isinya bakal penuh sama prediksi cuaca ekstrem. Fenomena doomscrolling ini bikin kita terjebak dalam siklus ketakutan tanpa henti.
Ironisnya, di tengah semua kecemasan itu, kita juga sering ngerasa guilty. Kita ngerasa bersalah kalau sesekali pengen beli baju baru (fast fashion) atau lupa bawa kantong belanja sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir, porsi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh individu itu jauh lebih kecil dibandingin kerusakan yang dibuat oleh korporasi besar. Tapi ya namanya juga Gen Z, rasa tanggung jawab sosialnya emang tinggi banget, sampai-sampai beban dunia pengen dipikul sendirian.
Terus, Kita Harus Gimana?
Menghadapi climate anxiety itu nggak bisa cuma dengan dibilangin "Sabar ya, jangan terlalu dipikirin." Itu mah basi. Yang kita butuhin adalah validasi bahwa rasa cemas itu wajar. Rasa takut lo itu bukti kalau lo peduli. Tapi, jangan sampai rasa takut itu bikin lo lumpuh. Ada istilah keren namanya radical hope—harapan yang radikal. Artinya, kita tahu kondisinya buruk, tapi kita tetep milih buat berbuat sesuatu bukan karena kita yakin bakal menang, tapi karena itu hal yang benar buat dilakuin.
Langkah kecil kayak ikut komunitas lokal, belajar slow living, atau sekadar membatasi asupan berita negatif bisa jadi awal yang baik. Dan yang paling penting: dorong perubahan sistemik. Jangan cuma fokus sama sedotan plastik lo, tapi mulai kritis sama kebijakan pemerintah dan praktik bisnis perusahaan besar. Kecemasan ini bakal terasa lebih ringan kalau kita nggak nanggungnya sendirian.
Pada akhirnya, bumi emang lagi nggak baik-baik aja, dan wajar banget kalau lo ngerasa ngeri. Tapi inget, lo nggak sendirian dalam ketakutan ini. Kita semua ada di kapal yang sama, lagi berusaha nyari cara biar kapalnya nggak karam. Jadi, yuk, tarik napas dalem-dalem (selagi udaranya masih lumayan oke), dan mulai bergerak bareng-bareng. Karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?
Next News

Misteri Earworm: Kenapa Lagu yang Kita Benci Malah Susah Hilang?
an hour ago

Membedah Lebih Dalam: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dalam Kepercayaan Diri Individu
a day ago

Bukan Kebetulan, Ini Asal Usul Nama Makanan Berawalan Bak
2 days ago

Selama Ini Kita Salah Sebut? Ternyata "Tisu" Punya Banyak Nama di Luar Negeri
2 days ago

Ingat Minyak Hijau Ini? Kenali Manfaat Urang Aring untuk Rambut
4 days ago

Generation Gap: Kenapa Kita Nggak Paham Humor Anak Zaman Sekarang?
4 days ago

Dari Gado-Gado ke Rujak: Inovasi Salad Lokal Paling Enak
4 days ago

"Aku Memang Turunan Pemarah": Benarkah Sifat Mudah Marah Bisa Diwariskan?
11 days ago

Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial
11 days ago

Mencuri Waktu dari Tidur: Kebiasaan Scroll Malam yang Diam-Diam Menjadi Alasan "Insomnia" Kita
15 days ago





