Ceritra
Ceritra Warga

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update

Elsa - Friday, 17 April 2026 | 01:00 PM

Background
FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
Ilustrasi Fomo Vs Realita (Pinterest/)

Update Adalah Nafas, Validasi Adalah Oksigen

Zaman sekarang, ada semacam aturan tak tertulis: kalau nggak di-update, berarti nggak kejadian. Makan cantik di kafe estetik nggak afdol kalau nggak dipotret dari atas (flat lay) sampai makanan keburu dingin. Nonton konser musisi favorit bukannya menikmati lagu, malah sibuk merekam layar panggung lewat HP yang diangkat tinggi-tinggi, cuma buat pamer di Story kalau kita "ada di sana".

Kita terjebak dalam siklus mencari validasi. Tekanan sosial untuk selalu terlihat sibuk, selalu terlihat bahagia, dan selalu punya "pencapaian" setiap minggunya itu melelahkan banget. Kita seolah-olah dipaksa untuk terus berlari mengikuti standar hidup orang lain yang sebenarnya kita sendiri nggak tahu itu asli atau cuma konten. Ingat, di balik foto liburan yang kelihatan tenang itu, mungkin ada perdebatan sengit soal siapa yang salah baca peta atau tagihan kartu kredit yang sudah bengkak.

Lucunya, kita sering lupa kalau apa yang kita lihat di layar HP itu cuma 1 persen dari realita hidup seseorang. Sisanya yang 99 persen? Ya sama kayak kita: ada drama telat bangun, pusing mikirin cicilan, atau sekadar malas mandi di hari Minggu. Tapi ya mana ada orang yang mau nge-post foto lagi nangis di pojokan kamar karena dikatain bos? Kecuali kalau emang niatnya mau soft-selling produk healing, sih.

Paradoks Koneksi di Tengah Kesepian

Secara teori, media sosial bikin kita makin terkoneksi. Tapi secara realita, banyak dari kita yang merasa makin kesepian. Kita tahu apa yang dimakan teman SD kita pagi ini, tapi kita nggak tahu kalau dia lagi berjuang melawan depresi. Kita cuma saling "like" tapi jarang benar-benar "talk".

Tekanan sosial ini bikin kita merasa harus selalu "on". Kalau ada film baru yang lagi viral dan kita belum nonton, kita ngerasa cupu. Kalau ada istilah baru di Twitter yang nggak kita paham, kita buru-buru cari tahu biar nggak dikatain kudet. Padahal, otak kita butuh istirahat dari arus informasi yang nggak berhenti-berhenti ini. Bayangin, setiap hari kita dipaksa mengonsumsi ribuan informasi yang sebenarnya nggak relevan-relevan amat sama hidup kita. Dampaknya? Kecemasan meningkat, kualitas tidur menurun, dan kita jadi gampang iri sama orang lain.

Belajar Menikmati JOMO: Seni Masa Bodoh yang Menenangkan

Lawan dari FOMO adalah JOMO, atau Joy of Missing Out. Kedengarannya mungkin agak asing, tapi JOMO adalah kunci kewarasan di era digital ini. JOMO adalah kondisi di mana kita merasa cukup dan bahagia meskipun nggak ikut-ikutan tren. Kita nggak merasa rugi kalau nggak tahu gosip artis terbaru, kita nggak merasa sedih kalau nggak diundang ke pesta mewah, dan kita baik-baik saja saat HP ditaruh di meja saat sedang makan bareng keluarga.

Mempraktekkan JOMO itu emang susah-susah gampang. Langkah awalnya adalah sadar kalau kita nggak harus punya pendapat tentang semuanya. Kita nggak harus ikut mengomentari setiap drama yang lewat di timeline. Terkadang, menutup aplikasi sosial media dan memilih untuk baca buku atau sekadar bengong di teras rumah jauh lebih menyeguhkan daripada scrolling tanpa tujuan selama berjam-jam.

Realitanya, hidup itu bukan tentang siapa yang paling cepat sampai atau siapa yang paling banyak dapet likes. Hidup itu tentang gimana kita bisa merasa damai dengan diri sendiri, tanpa perlu membandingkan proses kita dengan halaman depan orang lain. Setiap orang punya garis start dan rute yang beda-beda. Kalau kamu terus-terusan nengok ke jalur lari orang lain, ya wajar kalau kamu capek dan sering tersandung.

Menutup Layar, Membuka Mata

Sebagai penutup, ada baiknya kita mulai lebih bijak menanggapi apa yang ada di layar. Jangan telan mentah-mentah kesempurnaan yang dipamerkan orang lain. Di balik foto outfit of the day yang keren itu, mungkin ada tumpukan baju kotor yang belum dicuci seminggu. Di balik wajah yang glowing itu, mungkin ada filter yang bekerja keras menutupi kantung mata.

Nggak salah kok kalau mau update atau pamer dikit, itu manusiawi. Yang salah adalah kalau kita menjadikan standar orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan kita sendiri. Yuk, sesekali log out dari dunia maya dan log in ke dunia nyata. Rasakan angin yang beneran lewat, nikmati kopi yang beneran hangat, dan hargai percakapan yang beneran tatap muka.

Dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu nggak tahu tren TikTok minggu ini. Justru mungkin, dengan sedikit "tertinggal", kamu malah jadi orang yang paling tenang di tengah kerumunan yang lagi panik ngejar bayangan mereka sendiri. Jadi, mau pilih FOMO yang bikin stres, atau JOMO yang bikin adem? Pilihan ada di jempolmu.

Logo Radio
🔴 Radio Live