Ceritra
Ceritra Cinta

Slow Dating: Tren Baru Gen Z di Era Swipe

Refa - Saturday, 13 December 2025 | 10:00 AM

Background
Slow Dating: Tren Baru Gen Z di Era Swipe
Pasangan (Pinterest/)

Siapa yang nggak pernah bingung melihat profil di aplikasi kencan dengan ribuan “swipe” cepat? Mulai dua tahun lalu, “slow dating” jadi topik hangat di kalangan anak muda, khususnya Gen Z dan millennial. Trennya? Alih-alih seret kiri atau kanan dalam hitungan detik, kita duduk santai di kafe, bicara tentang film, musik, bahkan kebobolan buku. Bukan sekadar ngobrol ringan, tapi lebih banyak tentang “menyelami” satu sama lain.

Secara sederhana, slow dating mengacu pada pendekatan yang lebih lambat, lebih terfokus pada kualitas interaksi daripada kuantitas. Di zaman di mana segala sesuatunya digerakkan oleh kecepatan, tren ini bisa dibilang seolah-olah bertindak sebagai “penahan adrenalin” bagi para pencari cinta.

Kenapa Slow Dating Bisa Menjadi Viral?

Gak ada yang bisa menolak fenomena “digital fatigue”. Setiap kali membuka aplikasi kencan, otak kita dipaksa memproses ribuan wajah, caption, dan filter. Akibatnya, otak bisa “malas” dan rasa “koneksi” pun terasa semu. Slow dating muncul sebagai balasan: “Hei, kita nikmati proses ini, bukan sekadar hitungan swipe.”

Selain itu, generasi milenial dan Gen Z semakin peduli terhadap isu mental health. Banyak yang ingin menjauh dari gaya hidup “instant gratification” yang membuat hati cepat lelah. Slow dating memberi ruang bagi kita untuk mengenal diri sendiri lebih baik sebelum melibatkan diri dengan orang lain.

Bagaimana Cara Slow Dating Itu Terbentuk?

Awalnya, slow dating lebih sering terdengar di kancah offline, seperti acara meetup, kelas seni, atau workshop kreatif. Tetapi dengan pandemi, banyak pertemuan online yang mencoba meniru suasana “offline” dengan video call yang santai. Dari situ, konsep ini meluas ke aplikasi kencan online yang kini mulai menawarkan opsi “match by interests” atau “slow mode”, di mana pengguna diberikan waktu untuk mengenal profil lebih dalam sebelum terjun ke obrolan langsung.

Manfaat Slow Dating: Lebih dari Sekadar “Ngobrol”

  • Hubungan yang Lebih Mendalam - Saat kita memperlambat, kita memberi ruang bagi cerita pribadi, nilai, dan kepercayaan diri terbuka.
  • Pengembangan Diri - Mengetahui apa yang dicari di pasangan membantu kita fokus pada pencapaian tujuan pribadi.
  • Mindfulness dalam Berhubungan - Kita belajar untuk menikmati setiap momen, bukan hanya menghitung “next swipe”.
  • Hemat Waktu dan Energi - Gak perlu ribet, “ghosting” jadi lebih jarang.

Contohnya seperti pernah temui teman lama di kafe. Kita mulai dengan sekadar minum kopi, kemudian ngobrol tentang pengalaman kerja, hobi, hingga kenangan masa kecil. Gak terasa ada “rencana” buat kencan selanjutnya, karena kita sudah saling “mengerti” secara spontan. Begitu, rasa “keterhubungan” muncul secara natural.

Slow Dating Bukan Pilihan Semua

Ya, meski menarik, slow dating juga punya kelemahan. Bagi yang sedang mencari hubungan cepat atau sudah punya target spesifik, mungkin pendekatan ini terasa lambat. Ada juga risiko ketidakjelasan, karena tidak ada “tanda” bahwa hubungan sedang berkembang. Jadi, penting untuk tetap jujur pada diri sendiri dan pasangan mengenai ekspektasi.

Tips Praktis Menjalani Slow Dating

  • Kenali Diri – Sebelum bertemu, tanyakan pada diri sendiri apa yang ingin dicari. Ini membantu menjaga fokus.
  • Rencanakan Aktivitas – Pilih kegiatan yang memungkinkan percakapan alami, seperti jalan santai, kelas memasak, atau tur museum.
  • Jangan Rasa Tersendat – Bicarakan tujuan jangka pendek secara terbuka agar tidak terjadi “penyesalan”.
  • Boundaries & Transparansi – Tetapkan batasan dalam berkomunikasi, jangan terlalu cepat membuka rahasia pribadi.
  • Hindari Ghosting – Jika tidak nyaman, beri tahu secara sopan. Keterbukaan lebih baik daripada menutup mata.

Misalnya, pada pertemuan pertama, Anda bisa mulai dengan pertanyaan ringan seperti “Apa film favoritmu akhir-akhir ini?” Kemudian, kalau percakapan terasa lancar, beralih ke topik yang lebih personal. Selama prosesnya terasa nyaman, Anda dapat melanjutkan ke langkah selanjutnya.

Slow Dating di Media Sosial: Dari Hashtag sampai Meme

Di platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, slow dating mulai muncul sebagai hashtag (#slowdating, #datingwithintent). Banyak influencer yang menyoroti kelebihan “me-time” dan “quality over quantity” dalam hubungan. Bahkan, ada meme yang mengolok-olok cara “swipe fast” dan mengajak orang untuk “swap slow”. Keren banget, kan?

Kesimpulan: Slow Dating Sebagai Pelarian dari “Swipe‑Hustle

Dengan segala kecanggihan teknologi, tren slow dating memberikan alternatif yang lebih manusiawi. Ia menuntun kita untuk menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Jadi, kalau kamu merasa lelah dengan kencan yang terlalu cepat, coba “perlahan” dulu. Siapa tahu, keheningan satu cangkir kopi bisa membuka pintu yang lebih dalam. Dan yang penting, jangan ragu untuk berbagi pengalaman ini dengan teman-teman. Karena setiap percakapan, apapun rasanya, adalah sebuah perjalanan.

Logo Radio
🔴 Radio Live