Seni Melawan Doomscrolling: Gimana Caranya Bisa Betah Baca Buku Lagi di Tengah Gempuran Konten 15 Detik?
Elsa - Tuesday, 10 March 2026 | 06:00 PM


Seni Melawan Doomscrolling: Gimana Caranya Bisa Betah Baca Buku Lagi di Tengah Gempuran Konten 15 Detik?
Bayangin skenario ini: Kamu baru aja pulang kerja atau kuliah, badan capek, dan niatnya pengen healing dengan baca buku yang udah nangkring di meja belajar selama tiga bulan. Kamu ambil bukunya, buka halaman pertama, baru baca tiga kalimat, eh, ada notifikasi WhatsApp masuk. Balas sebentar, terus tanpa sadar jempol kamu udah mencet ikon Instagram, lanjut ke TikTok, dan tiba-tiba dua jam berlalu gitu aja. Buku tadi? Masih terbuka di halaman yang sama, tergeletak pasrah di samping bantal. Miris, tapi ya, itulah realita kita sekarang.
Kita hidup di era di mana rentang perhatian alias attention span manusia itu katanya udah lebih pendek dari ikan mas koki. Kita lebih betah ngeliatin video transisi makeup atau debat kusir di kolom komentar Twitter (X) daripada nyelesein satu bab buku non-fiksi yang berat. Tapi tenang, kamu nggak sendirian. Masalahnya bukan karena kamu nggak pinter atau nggak niat, tapi karena otak kita emang lagi "disabotase" sama algoritma yang haus akan dopamin instan. Membentuk kebiasaan membaca di era digital itu bukan cuma soal hobi, tapi soal perjuangan merebut kembali fokus yang udah dijajah sama layar smartphone.
Jangan Mulai dari yang Berat, Plis!
Satu kesalahan fatal orang yang pengen mulai baca lagi adalah langsung pengen jadi "intelek". Baru mau mulai lagi, eh langsung beli bukunya Pramoedya Ananta Toer yang tebelnya kayak bantal, atau buku filsafat yang bahasanya bikin ngerasa bodoh di setiap paragraf. Ya nggak kuat, lah! Ujung-ujungnya cuma jadi pajangan estetik buat difoto, dikasih caption puitis, terus ditinggalin.
Kuncinya adalah mulai dari apa yang kamu suka, bukan apa yang menurut orang lain bagus. Kalau kamu suka gosip, baca biografi artis. Kalau kamu suka hal-hal mistis, cari kumpulan cerpen horor. Nggak perlu merasa berdosa kalau cuma baca komik atau novel metropop yang ringan-ringan aja. Tujuannya adalah membiasakan otak kamu buat fokus pada satu medium dalam waktu yang agak lama. Ibarat olahraga, kamu nggak bakal langsung angkat beban 50 kg di hari pertama gym, kan? Mulai dari yang enteng dulu biar otot fokusnya nggak kaget.
Manajemen Notifikasi adalah Jalan Ninja
Mari jujur-jujuran, godaan terbesar saat baca buku itu bukan rasa kantuk, tapi getaran di kantong celana atau bunyi "ting" dari HP. Di era sekarang, HP kita itu kayak mantan yang posesif; nggak bisa liat kita tenang dikit, pasti langsung manggil-manggil. Kalau kamu serius mau baca, minimal 15 menit sehari aja, cobalah buat pakai fitur Do Not Disturb atau taruh HP di ruangan yang berbeda. Jauhkan dari jangkauan tangan.
Kadang kita merasa fomo kalau nggak megang HP. Takut ada berita besar, takut ada diskon flash sale, atau takut grup WA lagi bahas hal seru. Tapi percaya deh, dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu nggak pegang HP selama 20 menit. Dengan menjauhkan distraksi digital, kamu baru bisa benar-benar "tenggelam" ke dalam dunia yang ditawarkan oleh buku tersebut. Itu sensasi yang nggak bakal kamu dapet dari sekadar scrolling di eksplor Instagram.
Gunakan Teknologi buat Ngelawan Teknologi
Aneh memang kalau kita bilang era digital itu musuh membaca, padahal teknologi juga bisa jadi sahabat. Kalau kamu tipe orang yang nggak bisa lepas dari layar, ya udah, manfaatin itu. Sekarang ada yang namanya E-book atau Audiobook. Buat orang-orang yang mobilitasnya tinggi atau yang matanya cepet capek liat kertas, dengerin buku lewat audiobook sambil naik ojek online atau di kereta itu adalah life hack yang hakiki.
Ada juga aplikasi semacam Kindle atau iPusnas (punya perpusnas kita sendiri, lho!) yang bikin akses ke buku jadi gampang banget. Nggak ada lagi alasan "buku mahal" atau "mager ke toko buku". Masalahnya tinggal satu: mau atau nggak? Membangun kebiasaan itu soal konsistensi, bukan soal intensitas. Mending baca 5 halaman setiap hari secara rutin daripada baca 100 halaman tapi cuma sekali setahun pas lagi dapet hidayah doang.
Bikin Reading List yang Realistis
Banyak orang terjebak dalam ambisi "Tahun ini harus baca 50 buku!". Begitu masuk bulan Maret dan baru baca dua buku, mereka langsung nyerah karena ngerasa gagal. Santai aja, kawan. Membaca itu bukan lomba lari maraton. Nggak ada medali buat siapa yang paling cepet selesai. Nikmatin setiap kalimatnya, resapi ide-idenya. Kalau emang bukunya bosenin, ya udah tutup aja, ganti yang lain. Hidup ini terlalu singkat buat nyelesein buku yang nggak bikin kamu bahagia.
Coba deh cari temen atau komunitas baca. Di zaman sekarang, banyak kok klub buku online atau sekadar ngobrolin bacaan di akun Bookstagram atau BookTok. Melihat orang lain antusias bahas buku biasanya bakal nularin semangat yang sama ke kita. Kesimpulannya, membaca di era digital itu emang tantangan berat, tapi bukan misi mustahil. Ini adalah cara kita buat tetep "waras" dan punya kedalaman berpikir di tengah dunia yang makin dangkal karena serba instan. Jadi, sudah siap buka halaman pertama hari ini?
Next News

Cara Menghindari Penipuan Digital dan Kejahatan Siber
in 4 hours

Pentingnya Olahraga Rutin untuk Menjaga Kesehatan Tubuh
in 3 hours

Tips Mengelola Emosi saat Menghadapi Konflik
in 3 hours

Dampak Positif dan Negatif Media Sosial bagi Kehidupan Sehari-hari
in 2 hours

Pentingnya Pendidikan Karakter bagi Generasi Muda
in an hour

Cara Mengatasi Burnout di Dunia Kerja
in an hour

Pentingnya Tidur yang Cukup untuk Kesehatan Fisik dan Mental
in an hour

Cara Mengelola Waktu agar Lebih Produktif di Tengah Aktivitas Padat
in 2 hours

Dampak Teknologi terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
2 minutes ago

Pentingnya Komunikasi yang Baik dalam Hubungan Keluarga
2 minutes ago






