Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia Ulat Mendengar Suara Predator Tanpa Memiliki Telinga

Nisrina - Monday, 16 February 2026 | 06:17 AM

Background
Rahasia Ulat Mendengar Suara Predator Tanpa Memiliki Telinga
Ulat bereaksi 10 hingga 100 kali lebih kuat terhadap suara airborne (Unsplash/Erda Estremera)

Dunia hewan selalu menyimpan misteri anatomi dan insting bertahan hidup yang sangat mengagumkan. Ketika kita berjalan menyusuri taman atau hutan kita sering kali melihat ulat merayap dengan sangat lambat di atas dedaunan hijau. Sekilas hewan bertubuh lunak ini terlihat sangat rentan lemah dan tidak memiliki alat pertahanan diri yang mumpuni untuk menghadapi kerasnya seleksi alam.

Banyak orang berasumsi bahwa ulat adalah target empuk yang pasrah saat diintai oleh para pemangsanya. Asumsi ini semakin diperkuat oleh fakta biologis bahwa ulat secara anatomi sama sekali tidak memiliki organ telinga seperti yang dimiliki oleh mamalia burung atau bahkan serangga jenis lainnya. Tanpa indra pendengaran yang memadai secara logika mereka seharusnya tidak bisa menyadari kedatangan bahaya yang mengancam nyawa.

Namun alam semesta bekerja dengan cara yang jauh lebih rumit dan menakjubkan dari sekadar logika dasar manusia. Sebuah ulasan ekologi dan sains yang dilansir dari Mongabay baru baru ini mengungkap sebuah fakta ilmiah yang sangat mengejutkan. Meskipun tidak memiliki daun telinga atau gendang telinga ulat ternyata memiliki sistem radar peringatan dini yang sangat canggih untuk mendeteksi suara kepakan sayap predator yang mendekat.

Anatomi Rambut Halus Setae Sebagai Radar Alami

Untuk menjawab bagaimana makhluk tanpa telinga bisa mendengar kita harus melihat lebih dekat pada permukaan tubuh sang ulat itu sendiri. Jika Anda memperhatikan ulat menggunakan kaca pembesar Anda akan melihat bahwa tubuh mereka dipenuhi oleh ribuan rambut halus atau bulu bulu kecil yang mencuat ke berbagai arah. Dalam dunia biologi dan entomologi rambut rambut halus ini dikenal dengan sebutan setae.

Bagi mata manusia awam rambut halus ini mungkin hanya terlihat seperti alat untuk menakuti predator atau sekadar pelindung kulit biasa. Faktanya setae adalah organ sensorik yang sangat sensitif dan menjadi kunci utama kelangsungan hidup ulat. Setiap helai rambut halus ini terhubung langsung dengan sistem saraf tepi di bawah jaringan kulit mereka yang ukurannya sangat mikroskopis.

Ketika ada gelombang suara yang merambat di udara gelombang tersebut akan menciptakan getaran atau fluktuasi tekanan udara di sekitar tubuh ulat. Getaran udara yang sangat halus ini sudah lebih dari cukup untuk menggerakkan rambut rambut setae tersebut. Gerakan fisik pada rambut inilah yang kemudian diterjemahkan oleh sistem saraf ulat sebagai sebuah sinyal suara atau peringatan akan adanya pergerakan di dekat mereka. Sistem pendengaran mekanis ini bekerja layaknya sebuah antena radar penerima sinyal yang sangat canggih.

Resonansi Spesifik Terhadap Ancaman Pemangsa Udara

Kehebatan sistem pendengaran ulat tidak hanya berhenti pada kemampuannya merasakan getaran udara secara acak. Melalui proses evolusi selama jutaan tahun rambut sensorik ini telah dirancang untuk merespons frekuensi suara yang sangat spesifik yang hanya dihasilkan oleh musuh bebuyutan mereka.

Predator utama ulat di alam liar biasanya datang dari udara yaitu burung pemakan serangga dan tawon parasit. Burung akan memakan ulat secara langsung sementara tawon parasit memiliki cara yang jauh lebih mengerikan. Tawon pemangsa ini akan menyuntikkan telur telurnya ke dalam tubuh ulat yang masih hidup. Ketika telur itu menetas larva tawon akan memakan ulat tersebut dari dalam hingga mati perlahan lahan.

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa rambut setae pada ulat memiliki tingkat resonansi yang sangat presisi terhadap frekuensi kepakan sayap burung dan dengungan sayap tawon predator. Ketika frekuensi maut tersebut tertangkap oleh rambut halusnya ulat bisa langsung membedakan apakah itu suara angin biasa suara daun yang bergesekan atau suara kematian yang sedang mendekat ke arah mereka. Ketajaman sensor ini membuktikan bahwa tidak memiliki telinga bukan berarti ulat buta terhadap suara di sekelilingnya.

Reaksi Insting Kilat Menyelamatkan Nyawa

Mendeteksi suara predator hanyalah separuh dari strategi bertahan hidup ulat. Separuh lainnya adalah bagaimana mereka bereaksi secara kilat setelah peringatan bahaya tersebut diterima oleh otak kecil mereka. Karena ulat adalah hewan yang bergerak sangat lambat mereka tidak mungkin bisa melarikan diri dengan cara berlari merayap saat dikejar oleh tawon atau burung yang terbang dengan kecepatan tinggi.

Alam telah membekali ulat dengan beberapa mekanisme respons darurat yang sangat efektif. Reaksi paling umum yang sering dilakukan oleh ulat ketika rambut setae mereka menangkap suara dengungan tawon adalah langsung menghentikan segala aktivitas memakan daun dan diam mematung. Dengan tidak bergerak sama sekali ulat mencoba memaksimalkan warna kamuflase tubuhnya agar menyatu dengan dedaunan hijau atau ranting cokelat di sekitarnya berharap predator tersebut terkecoh dan terbang melewatinya.

Namun jika suara kepakan sayap terasa semakin dekat dan keras yang menandakan predator sudah berada tepat di atas mereka ulat akan melakukan manuver yang jauh lebih ekstrem. Mereka akan secara sengaja melepaskan cengkeraman kaki mereka dari atas daun dan menjatuhkan diri terjun bebas ke tanah atau ke semak belukar yang ada di bawahnya. Terjatuh dari ketinggian pohon adalah risiko yang jauh lebih baik daripada harus berakhir menjadi makanan burung atau sarang inkubator bagi telur tawon parasit.

Beberapa jenis ulat bahkan memiliki kelenjar khusus yang memungkinkan mereka mengeluarkan seutas benang sutra tipis saat menjatuhkan diri. Benang sutra ini berfungsi layaknya tali bungee jumping. Setelah predator tersebut pergi dan situasi dirasa sudah aman ulat akan menggunakan tali sutra tersebut untuk merayap naik kembali ke atas pohon dan melanjutkan aktivitas makannya seolah tidak terjadi apa apa.

Pelajaran Ekologi Keajaiban Adaptasi Fauna

Fenomena ulat yang mampu mendengar menggunakan bulu tubuhnya ini memberikan wawasan yang sangat berharga bagi ilmu biologi dan pemahaman kita tentang dunia fauna. Kita sering kali menilai kecerdasan dan kemampuan hewan berdasarkan standar anatomi tubuh manusia. Kita berpikir bahwa untuk bisa melihat harus memiliki mata yang sempurna dan untuk bisa mendengar harus memiliki struktur telinga yang kompleks.

Kenyataannya alam liar tidak pernah kehabisan cara untuk berinovasi. Hewan hewan kecil yang sering kita anggap remeh ternyata memiliki mekanisme biologi yang terkadang jauh melampaui kemampuan teknologi sensor buatan manusia saat ini. Rambut setae pada ulat adalah bukti nyata dari proses adaptasi yang sempurna di mana sebuah spesies menemukan jalan keluarnya sendiri untuk bertahan dari ancaman kepunahan.

Pemahaman tentang sistem sensorik ulat ini juga membuka peluang besar bagi dunia sains dan teknologi di masa depan. Para ilmuwan dan insinyur robotika kini mulai mempelajari struktur mekanis rambut ulat ini untuk mengembangkan sensor pendengaran buatan yang lebih sensitif dan hemat energi yang bisa diaplikasikan pada teknologi mikrofon canggih atau robot pencari dan penyelamat. Pada akhirnya menghargai dan melindungi keanekaragaman hayati sekecil apa pun bentuknya adalah tugas mutlak umat manusia karena setiap makhluk hidup menyimpan rahasia ilmu pengetahuan yang tidak ternilai harganya bagi masa depan bumi kita tercinta.

Tags

fauna
Logo Radio
🔴 Radio Live