Ceritra
Ceritra Warga

Anti-Heartburn! Trik Ganjal Dada dan Posisi Tidur Agar Asam Lambung Gak Naik Saat Puasa

Refa - Tuesday, 24 February 2026 | 10:00 PM

Background
Anti-Heartburn! Trik Ganjal Dada dan Posisi Tidur Agar Asam Lambung Gak Naik Saat Puasa
Ilustrasi tidur (pexels.com/Niels from Slaapwijsheid.nl)

Drama Lambung Saat Puasa: Antara Kantuk Sahur dan Sensasi Terbakar di Dada

Mari kita jujur-juran. Salah satu tantangan terberat saat menjalankan ibadah puasa bukanlah menahan haus atau lapar di siang hari, melainkan perjuangan melawan gravitasi sehabis sahur. Bayangkan skenarionya. jam menunjukkan pukul empat pagi lewat sedikit, perut sudah kenyang dengan nasi goreng atau opor sisa semalam, dan mata rasanya sudah 5 watt. Godaan untuk langsung tumbang di atas kasur adalah godaan yang setara dengan diskon 90% di marketplace favorit.

Namun, bagi kaum-kaum yang punya masalah dengan asam lambung atau GERD, rebahan setelah sahur adalah sebuah perjudian besar. Salah posisi sedikit saja, alih-alih tidur nyenyak sampai jam kerja dimulai, yang ada malah terbangun dengan rasa panas membakar di dada (heartburn) atau rasa asam yang naik sampai ke tenggorokan. Rasanya? Wah, jangan ditanya. Lebih nggak enak daripada kena ghosting pas lagi sayang-sayangnya.

Lantas, apakah penderita asam lambung ditakdirkan untuk terjaga terus sampai matahari terbit? Tenang, tidak perlu seekstrem itu. Kuncinya ada pada manajemen gravitasi dan posisi tidur yang cerdas. Berikut adalah panduan posisi tidur terbaik agar asam lambung tetap di "rumahnya" dan ibadah puasa tetap berjalan lancar tanpa gangguan nyeri ulu hati.

Hadap Kiri: Posisi Emas untuk Lambung yang Anteng

Jika kamu harus memilih satu posisi tidur paling sakti untuk meredam asam lambung, maka miring ke kiri adalah jawabannya. Mengapa harus kiri? Ini bukan soal ideologi politik, ya, tapi murni anatomi tubuh manusia. Secara alami, perut kita berada lebih ke sisi kiri tubuh. Saat kita tidur miring ke kiri, lubang antara kerongkongan dan lambung (yang dijaga oleh katup bernama sfingter) akan berada lebih tinggi daripada tingkat cairan asam lambung.

Dalam posisi miring ke kiri, gravitasi justru akan membantu asam lambung tetap berada di bawah. Kalaupun ada sedikit asam yang "iseng" mau naik, ia akan kesulitan karena harus melawan arah gravitasi. Sebaliknya, tidur miring ke kanan adalah musuh utama penderita GERD. Saat miring ke kanan, posisi lambung justru berada di atas kerongkongan. Akibatnya, asam lambung bisa dengan mudah mengalir turun (atau naik, tergantung perspektifmu) menuju kerongkongan, menciptakan rasa terbakar yang bikin emosi di pagi hari.

Teknik Ganjal: Jangan Hanya Kepala, Tapi Dada Juga

Banyak orang berpikir kalau asam lambung kambuh, solusinya adalah menambah tumpukan bantal di bawah kepala. Padahal, ini adalah kesalahan umum yang sering bikin leher pegal atau salah urat. Tidur dengan posisi kepala tinggi namun badan tetap datar hanya akan membuat lehermu menekuk tidak alami dan tidak efektif mencegah aliran balik asam.

Trik yang benar adalah menciptakan kemiringan mulai dari pinggang hingga kepala. Gunakan bantal tambahan atau bantal khusus berbentuk baji (wedge pillow) untuk mengangkat tubuh bagian atas sekitar 15 sampai 20 sentimeter. Tujuannya agar posisi kerongkongan secara konsisten berada lebih tinggi daripada lambung. Dengan begini, cairan asam tidak akan "tergelincir" naik ke atas meskipun katup lambungmu sedang tidak dalam performa terbaiknya.

Hindari Tidur Tengkurap dan Telentang yang Terlalu Datar

Bagi sebagian orang, tidur tengkurap adalah posisi paling nyaman sedunia. Tapi buat penderita asam lambung, ini adalah mimpi buruk. Tidur tengkurap memberikan tekanan ekstra pada perut, yang secara otomatis mendorong isi lambung untuk keluar mencari jalan pintas, yaitu kerongkongan. Belum lagi napas yang jadi terasa lebih sesak setelah makan kenyang.

Tidur telentang pun sebenarnya berisiko jika dilakukan tanpa ganjalan. Tanpa bantuan kemiringan, cairan asam hanya butuh sedikit dorongan untuk merembes keluar dari katup lambung. Jadi, jika kamu memang tipe yang tidak bisa tidur miring, pastikan ada kemiringan yang cukup pada tubuh bagian atasmu agar gravitasi tetap bekerja di pihakmu.

Jangan Langsung "Zzz" Setelah Sahur: Beri Jeda Sejenak

Posisi tidur memang penting, tapi timing juga krusial. Sebagus apa pun posisi tidurmu, kalau kamu langsung memejamkan mata tepat setelah suapan terakhir nasi sahur, risikonya tetap besar. Secara medis, kita disarankan memberi jeda minimal 2 sampai 3 jam setelah makan sebelum benar-benar merebahkan badan secara horizontal.

Cobalah mencuci piring bekas sahur, membaca buku, atau sekadar melakukan tadarus. Gerakan tubuh yang tegak akan membantu proses pencernaan bekerja lebih cepat. Kalau memang sudah sangat mengantuk, pastikan kamu tidur dalam posisi setengah duduk agar makanan tidak kembali naik.

Menu Sahur Juga Menentukan Nasib Tidurmu

Terakhir, posisi tidur yang oke harus didukung dengan input yang bener. Hindari sahur dengan makanan yang memicu asam lambung bergejolak, seperti makanan yang terlalu pedas, berlemak tinggi (gorengan yang berminyak banget, misalnya), atau minuman berkafein tinggi seperti kopi hitam pekat saat sahur. Makanan berlemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, yang artinya lambungmu akan penuh lebih lama, dan risiko asam naik akan tetap tinggi selama kamu tidur.

Sebagai penutup, mengelola asam lambung saat puasa memang butuh disiplin ekstra. Bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga soal menahan diri untuk tidak langsung rebahan sembarangan. Dengan posisi tidur miring ke kiri dan sedikit elevasi pada tubuh bagian atas, kamu bisa meminimalisir drama asam lambung yang merusak kualitas tidur dan harimu. Jadi, selamat mencoba posisi tidur baru, dan semoga puasamu tetap nyenyak tanpa sensasi terbakar di pagi hari!

Logo Radio
🔴 Radio Live